23 Tahun FKMSB Malang: Merawat Nalar Pengabdian, Meneguhkan Generasi Rabbani

Jurnalis: Agung Wahyudi
Kabar Baru, Malang – Dua puluh tiga tahun bukan sekadar hitungan usia. Ia adalah perjalanan panjang yang dipenuhi gagasan, nilai, perjuangan, dan pengabdian yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam rentang waktu tersebut, Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB) Malang terus meneguhkan eksistensinya sebagai ruang kaderisasi, pembelajaran, dan pengabdian bagi para mahasantri.
Semangat itulah yang tergambar dalam peringatan Milad ke-23 FKMSB Malang yang mengusung tema “Merajut Harmoni Pengabdian Demi Terwujudnya Generasi Rabbani yang Visioner dan Berintegritas.” Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengurus baru FKMSB Malang, anggota baru, serta sejumlah tokoh organisasi pusat yang turut memberikan energi dan inspirasi bagi para peserta.
Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Umum DPP FKMSB, Moh. Nurisul Anwar, S.M.Bis., serta Ketua Umum HIMMAH DPP FKMSB, St. Maizah, S.Pd. Kehadiran keduanya menjadi simbol kesinambungan perjuangan organisasi sekaligus memberikan motivasi kepada generasi muda FKMSB untuk terus menjaga semangat intelektualitas dan pengabdian.
Sejak berdiri pada awal tahun 2000-an, FKMSB bukan hanya sekadar organisasi kemahasiswaan atau wadah berkumpulnya alumni santri Banyuanyar. Lebih dari itu, FKMSB hadir sebagai ruang pembentukan kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa menjadi santri dan menjadi bagian dari Indonesia bukanlah dua identitas yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan dua nilai yang saling menguatkan dalam membangun peradaban.
Dalam sambutannya, Ketua Umum FKMSB Malang, Faruk, menegaskan bahwa FKMSB bukan hanya tempat berkumpulnya para alumni santri, melainkan ruang untuk tumbuh, berproses, dan mengabdikan diri.
“FKMSB bukan sekadar organisasi alumni. Ini adalah rumah bersama untuk belajar, berkembang, dan menyiapkan diri menjadi pribadi yang bermanfaat bagi pesantren, masyarakat, dan negara,” ujarnya.
Peringatan milad kali ini tidak hanya diisi dengan prosesi potong tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan organisasi. Lebih dari itu, kegiatan juga menghadirkan Stadium General bersama Dekki Umamur Ra’is yang mengangkat tema tentang pentingnya membangun karakter mahasantri yang memiliki ilmu rabbani.
Dalam pemaparannya, Dekki menekankan bahwa ukuran keberhasilan seorang mahasantri tidak hanya ditentukan oleh tingginya gelar akademik atau banyaknya teori yang dikuasai. Menurutnya, ilmu akan bernilai apabila mampu mendekatkan seseorang kepada Sang Pencipta sekaligus memberikan manfaat bagi sesama manusia.
“Menjadi rabbani dalam ilmu bukan sekadar menjadi orang yang cerdas. Ilmu yang rabbani adalah ilmu yang melahirkan ketundukan kepada Allah dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan,” jelasnya di hadapan para peserta.
Pesan tersebut menjadi refleksi penting di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Di era ketika kompetisi akademik dan profesional sering kali menjadi ukuran utama keberhasilan, FKMSB Malang berupaya menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial.
Milad ke-23 ini pada akhirnya bukan hanya perayaan bertambahnya usia organisasi. Ia menjadi momentum untuk membaca kembali jejak pengabdian yang telah diwariskan para pendahulu, sekaligus meneguhkan arah perjuangan ke depan. Sebab, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang hanya mampu bertahan lama, melainkan organisasi yang terus melahirkan generasi visioner, berintegritas, dan setia mengabdikan dirinya bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Dari Malang, semangat pengabdian itu kembali dirajut. Menyambung warisan nilai para pendahulu, menguatkan langkah generasi hari ini, dan menyiapkan masa depan FKMSB yang semakin bermakna bagi umat dan negeri.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
