Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Universitas Agung Podomoro Kukuhkan Visi Entrepreneurial Action University di Dies Natalis Ke-13

IMG_0009-compressed
Universitas Agung Podomoro Kukuhkan Diri sebagai Entrepreneurial Action University" di Dies Natalis ke-13.

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Universitas Agung Podomoro (UAP) menandai puncak perayaan Dies Natalis ke-13 di Auditorium Kampus, Jumat (17/7/2026), dengan sebuah momentum yang lebih besar dari sekadar seremoni tahunan: peluncuran visi institusi baru sebagai “Entrepreneurial Action University“. Mengusung tema “Entrepreneurial Action”, langkah reposisi ini menegaskan arah UAP untuk mencetak lulusan yang tidak berhenti pada pola pikir wirausaha, tetapi benar-benar bertindak dan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

Acara yang berlangsung khidmat itu dihadiri jajaran senat akademik, pimpinan Yayasan Pendidikan Agung Podomoro, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta tamu undangan dari kalangan industri dan mitra strategis, termasuk perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kementerian Diktisaintek), Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA), para wirausaha, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan LLDIKTI Wilayah 3. Prosesi diawali dengan masuknya senat universitas diiringi lagu Gaudeamus Igitur, simbol penghormatan pada tradisi akademik yang telah dijaga UAP selama 13 tahun.

Dari Mindset Menuju Aksi Nyata

Rektor Universitas Agung Podomoro, Bacelius Ruru, membuka acara dengan menegaskan peran perguruan tinggi dalam mendorong pertumbuhan wirausaha nasional. “Visi Indonesia Emas 2045 adalah tanggung jawab kita bersama. Salah satu upaya strategis untuk mewujudkannya adalah dengan meningkatkan rasio wirausaha di Indonesia yang saat ini masih berada di bawah angka 4% dari total penduduk. Ini adalah pekerjaan rumah besar yang harus kita kejar bersama,” ujarnya.

Data terbaru memperkuat urgensi pesan tersebut. Rasio kewirausahaan nasional pemerintah tetapkan sebagai prasyarat menuju negara maju pada 2045 adalah minimal 8% dari populasi, sementara rasio wirausaha mapan di Indonesia saat ini masih berkisar di angka 2,8–3,4% dari angkatan kerja. Kesenjangan inilah yang ingin dijawab UAP lewat reposisinya sebagai kampus yang tidak hanya mengajarkan konsep kewirausahaan, tetapi melatih mahasiswa untuk benar-benar bertindak.

“Entrepreneur adalah tentang memiliki mindset yang berani bertindak, menciptakan solusi, berpikir inovatif dan kreatif. Mahasiswa tidak boleh hanya menangkap peluang, tetapi harus berani menciptakan peluang itu sendiri. Inilah yang kami tanamkan di Universitas Agung Podomoro,” tegas Rektor.

Act – Learn – Validate – Build: Proses Pembelajaran Kewirausahaan yang Terbukti

Inti dari visi Entrepreneurial Action University dijelaskan lebih mendalam oleh Wakil Rektor III UAP, Wisnu Dewobroto, dalam sesi peluncuran. Ia menceritakan bahwa sejak awal berdiri, UAP banyak belajar dari Babson College, sekolah bisnis di Amerika Serikat yang dikenal luas sebagai kampus terbaik dunia untuk pendidikan kewirausahaan. Belajar dari yang terbaik itulah yang menjadi pijakan UAP sejak awal dalam membangun fondasi pendidikan kewirausahaannya, sebelum terus dikembangkan menjadi proses pembelajaran khas UAP sendiri.

“Sejak awal berdiri, kami banyak belajar dari Babson College. Kami ingin belajar dari yang terbaik,” jelas Wisnu. “Dari situ, kami terus mengembangkan proses pembelajaran kami sendiri agar semakin relevan dengan karakteristik dan kebutuhan Indonesia.”

Hasil pengembangan itu kini dikenal sebagai siklus Act – Learn – Validate – Build: mahasiswa didorong untuk bertindak lebih dulu menghadapi masalah dan solusi yang belum diketahui, belajar dari hasilnya, memvalidasi gagasan tersebut agar relevan dengan konsumen dan kebutuhan industri di Indonesia, lalu membangun langkah berikutnya secara bertahap. Tahap Validate inilah yang menjadi penciri proses pembelajaran UAP, dirancang untuk menghasilkan wirausaha tangguh yang siap menghadapi tantangan global.

“Melalui model ini, kami ingin memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari pengalaman langsung, dari kegagalan dan keberhasilan, serta dari interaksi dengan dunia industri yang sesungguhnya,” tambah Wisnu.

Wisnu menekankan, hal ini pula yang membedakan UAP dari banyak kampus lain yang mengusung label “berbasis kewirausahaan”. Sebagian besar kampus serupa umumnya berhenti pada penyusunan kurikulum kewirausahaan, sementara UAP melangkah lebih jauh: membangun framework cara berpikir dan proses pembelajaran kewirausahaan yang solid dan teruji, bukan sekadar daftar mata kuliah tetapi perjalanan kewirausahaan secara nyata.

Wirausaha Sebagai Aksi, Bukan Sekadar Rencana

Semangat “bertindak” ini turut ditegaskan oleh Presiden Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA), Ferdian Brilian, yang menyampaikan keynote speech sekaligus menerima Anugerah Wirausaha Nasional 2026 mewakili komunitasnya. TDA, yang kini beranggotakan lebih dari 70 ribu pengusaha aktif di ratusan kota/kabupaten dan lima negara di Asia Tenggara, lahir dari gerakan sederhana pada 2006 ketika sekelompok pengusaha memutuskan untuk saling berbagi dan berkolaborasi.

“Jangan takut untuk memulai. Kesuksesan tidak datang dari menunggu, tetapi dari keberanian melangkah. Dan ingat, Anda tidak perlu berjalan sendiri—kolaborasi adalah kunci untuk mencapai hal-hal besar,” pesan Ferdian kepada mahasiswa yang hadir—pesan yang selaras dengan semangat entrepreneurial action yang diusung UAP.

Penghargaan serupa juga diberikan kepada Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia sekaligus peraih Habibie Prize 2024, atas perannya menjembatani riset nanoteknologi dengan kebutuhan industri—sebuah contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan dapat ditransformasikan menjadi solusi aplikatif, nilai yang sejalan dengan visi baru UAP.

Mahasiswa sebagai Bukti Aksi

Sebagai wujud konkret dari visi Entrepreneurial Action, UAP turut memberikan penghargaan kepada belasan mahasiswa berprestasi dalam tiga kategori:

  1. Bidang Akademik – kepada mahasiswa dengan capaian akademik terbaik.
  2. Bidang Non-Akademik – kepada mahasiswa berprestasi di bidang olahraga, seni, dan organisasi.
  3. Kelompok Usaha/Bisnis Rintisan – kepada mahasiswa yang telah memulai dan mengembangkan usaha inovatif.

Kategori ketiga secara khusus mencerminkan inti dari Entrepreneurial Action University: penghargaan tidak hanya diberikan atas prestasi akademik, tetapi juga atas keberanian mahasiswa mengubah gagasan menjadi usaha yang benar-benar berjalan.

Menutup Perayaan, Membuka Babak Baru

“Universitas Agung Podomoro akan menjadi kampus yang membentuk lulusan dengan entrepreneurial mindset sekaligus entrepreneurial action—mampu mengidentifikasi peluang, menciptakan solusi, membangun usaha, dan menghasilkan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Rektor menutup pidatonya.

Rangkaian Dies Natalis ke-13 kemudian dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan 13 tahun UAP, dilakukan secara simbolis oleh Rektor bersama Wakil Rektor dan pimpinan Yayasan Pendidikan Agung Podomoro. Suasana turut dimeriahkan oleh penampilan seni dari mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Kumat dan Puvoir.

Dengan peluncuran visi Entrepreneurial Action University, Universitas Agung Podomoro menegaskan komitmennya menjadi kampus yang relevan, adaptif, dan berdampak: bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan menjadi penggerak perubahan bagi pendidikan tinggi dan ekosistem kewirausahaan Indonesia.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store