Timur Tengah Memanas, Muncul Sayembara Rp179 Miliar untuk Bunuh Donald Trump

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Irak – Kelompok Perlawanan Islam Irak mengumumkan sayembara berhadiah 10 juta dolar AS atau sekitar Rp179 miliar bagi siapa saja yang berhasil membunuh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Pengumuman ini muncul di tengah eskalasi konflik yang kembali membara antara Iran dan Amerika Serikat.
Kelompok tersebut mengeklaim telah mengumpulkan dana fantastis tersebut melalui sumbangan dari para anggota dan simpatisan mereka.
Pihak Perlawanan Islam Irak menyatakan akan memberikan hadiah tersebut kepada individu, kelompok, maupun lembaga yang mampu mengeksekusi Trump.
“Rakyat bebas di dunia akan terus mengejar pembunuh anak-anak dan ilmuwan. Para tiran tidak akan pernah mengenal kedamaian,” tulis kelompok tersebut dalam pernyataan resminya pada Kamis lalu.
Mereka juga menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk pembalasan yang mengikat bagi para pejuang kelompok tersebut.
Kedutaan Besar AS di Baghdad
Merespons situasi keamanan yang kian genting, Kedutaan Besar AS di Baghdad langsung mendesak warga Amerika di Irak untuk meningkatkan kewaspadaan.
Imbauan ini menyusul serangan pesawat tanpa awak (drone) yang mengguncang kota Erbil di wilayah utara Irak sehari sebelumnya.
Melalui peringatan keamanan resmi, misi diplomatik AS menyarankan warganya untuk terus memantau media lokal dan mematuhi instruksi otoritas setempat.
Pihak kedutaan juga memperingatkan bahwa gangguan perjalanan serta penutupan wilayah udara dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Washington bahkan kembali menegaskan status Level 4 atau larangan Jangan Bepergian ke Irak bagi warga negaranya.
Departemen Luar Negeri AS menyoroti tingginya risiko terorisme, penculikan, konflik bersenjata, hingga kerusuhan sipil yang membatasi kemampuan pemerintah AS untuk memberikan bantuan darurat.
“Jangan bepergian ke Irak dengan alasan apa pun,” tulis peringatan tegas dari kedutaan besar tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz
Rentetan ledakan di Erbil sendiri memicu kekhawatiran baru. Jaringan Media Rudaw melaporkan bahwa ledakan tersebut berasal dari aktivitas sistem pertahanan udara yang berhasil mencegat pesawat tak berawak musuh.
Insiden ini memperparah ketegangan yang sedang berlangsung antara AS dan Iran di kawasan strategis Selat Hormuz.
Kedua belah pihak masih terus melancarkan aksi saling serang, meski sebelumnya sempat ada nota kesepahaman bermediasi Pakistan yang bertujuan menciptakan kesepakatan damai yang langgeng.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
