Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Prajurit Prancis Tewas di UNIFIL, Presiden Macron Minta Pemerintah Lebanon Tangkap Pelaku

Desain tanpa judul - 2026-04-20T083515.582
Presiden Prancis Emmanuel Macron saat menyampaikan keterangan pers (Dok: Istimewa).

Jurnalis:

Kabar Baru, Prancis – Kabar duka kembali menyelimuti pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon Selatan. Seorang prajurit terbaik Prancis tewas terjangan peluru saat menjalankan misi di Desa Ghandouriyeh.

Insiden berdarah ini memicu kemarahan besar Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut serangan tersebut sama sekali tidak bisa diterima oleh akal sehat diplomasi.

Peristiwa ini bermula saat unit patroli Prancis tengah berupaya membuka jalur logistik menuju pos UNIFIL terisolasi akibat pertempuran sengit.

Alih-alih mendapatkan akses aman, patroli kemanusiaan tersebut justru mendapatkan sambutan tembakan senjata ringan dari arah pemukiman.

Selain satu korban jiwa, serangan ini melukai tiga personel lainnya dengan dua orang dalam kondisi kritis.

Telunjuk Prancis Mengarah ke Hizbullah

Pemerintah Prancis bergerak cepat memetakan asal tembakan mematikan tersebut. Paris menyatakan kemungkinan besar aktor di balik penembakan ini adalah Hizbullah, milisi proksi Iran penguasa wilayah Lebanon Selatan.

UNIFIL dalam penilaian awal juga menyebutkan bahwa serangan berasal dari ‘aktor non-negara’, sebuah istilah diplomatik merujuk kuat pada kelompok bersenjata pimpinan Hasan Nasrallah tersebut.

Presiden Macron langsung menghubungi Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam guna mendesak pengusutan tuntas.

Macron meminta otoritas Lebanon segera menyeret para pelaku ke pengadilan tanpa menunda waktu.

Bagi Prancis, bukti lapangan sudah sangat benderang mengarah pada kelompok bersenjata sokongan Teheran itu sebagai pelaku utama serangan sengaja terhadap pasukan perdamaian.

Ladang Ranjau Pasukan Internasional

Konflik Lebanon 2026 kini berubah menjadi ladang ranjau bagi pasukan internasional penjaga perdamaian. Gugurnya prajurit Prancis ini menambah panjang daftar hitam korban jiwa di sepanjang Garis Biru (Blue Line).

Sebelumnya, publik masih mengingat tragedi gugurnya tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) akibat serangan militer Israel di pos jaga Lebanon Selatan.

Kondisi ini membuktikan betapa rentannya posisi UNIFIL saat ini karena terjepit di antara dua kekuatan besar tengah bertikai. Sejak pertama kali dikerahkan tahun 1978, misi PBB di Lebanon belum pernah menghadapi tekanan seberat sekarang.

Pos-pos internasional berulang kali menjadi sasaran tembak baik oleh militer formal maupun kelompok gerilyawan lokal tanpa menghormati hukum internasional.

Dunia kini menanti kesanggupan pemerintah Lebanon meredam gejolak internal di wilayah kedaulatan mereka.

Jika tidak ada tindakan tegas, pasukan perdamaian dunia terancam terus menjadi tumbal dalam perang tanpa ujung di wilayah Timur Tengah.

Kelestarian misi UNIFIL bergantung pada komitmen seluruh pihak untuk berhenti menjadikan personel PBB sebagai target militer.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store