PCNU Tangsel Minta PBNU Baru Tegaskan Pembagian Peran Ulama dan Profesional

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Tangerang Selatan— Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Muktamar ke-35 NU diharapkan segera memperkuat tata kelola organisasi dengan pembagian peran yang jelas antara ulama dan kalangan profesional. Langkah tersebut dinilai penting agar agenda besar NU memasuki abad kedua dapat diterjemahkan ke dalam kerja organisasi yang terukur.
Ketua PCNU Kota Tangerang Selatan Abdullah Mas’ud mengatakan, kepengurusan PBNU ke depan membutuhkan komposisi yang mampu menggabungkan otoritas keulamaan dengan kompetensi profesional. Menurut dia, kebutuhan tersebut terutama penting dalam struktur Tanfidziyah yang berhadapan langsung dengan pekerjaan teknis dan manajerial organisasi.
Ia menilai figur yang memiliki pengalaman dan kapasitas di bidang tertentu perlu ditempatkan sesuai kompetensinya. Dengan demikian, pengelolaan organisasi tidak hanya bertumpu pada kekuatan politik internal, tetapi juga pada kemampuan menjalankan program secara efektif.
“right man on the right place,” kata Abdullah dalam forum Ngopi Senja—Ngobrol Pintar, Solutif, Inspiratif untuk Jamiyah dan Jamaah, di Graha Aswaja PCNU Tangsel, Sabtu (5/9/2026).
Ia mencontohkan sosok Prof. Mohammad Nuh sebagai figur yang memiliki pengalaman dan kapasitas di bidang pendidikan maupun kesehatan. Menurut Abdullah, kompetensi semacam itu dibutuhkan agar struktur organisasi dapat bekerja sesuai kebutuhan dan tantangan yang dihadapi NU.
Di sisi lain, Abdullah menekankan pentingnya mempertahankan karakter keulamaan dalam struktur Syuriyah. Menurut dia, Syuriyah tidak sekadar menjadi bagian dari struktur organisasi, tetapi harus tetap menjalankan fungsi keulamaan dengan kapasitas keilmuan dan kemampuan menggerakkan jamaah.
“Syuriyah harus tetap diisi ulama yang memiliki kapasitas sebagai faqih, munadhim, dan muharrik,” ujarnya.
Menurut Abdullah, pembagian fungsi antara Syuriyah dan Tanfidziyah perlu diperjelas agar keduanya dapat saling menguatkan. Syuriyah menjalankan fungsi keulamaan dan memberikan arah organisasi, sementara Tanfidziyah memastikan keputusan tersebut dapat diterjemahkan dalam kerja dan program yang konkret.
Ia juga berharap dinamika yang muncul selama proses Muktamar tidak berlanjut menjadi pertarungan antarkelompok setelah kepengurusan baru terbentuk. Konsolidasi pasca-Muktamar, kata dia, semestinya diarahkan untuk memperkuat pelayanan kepada warga NU.
“Yang penting sekarang bagaimana semua kembali pada khidmah. Setelah Muktamar selesai, jangan lagi ada pertarungan antarkelompok,” ujarnya.
Abdullah mengatakan NU memiliki agenda besar yang membutuhkan kerja organisasi secara serius, mulai dari kaderisasi, pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi warga, transformasi digital hingga pelayanan sosial.
Menurut dia, keberhasilan kepengurusan PBNU baru tidak cukup diukur dari soliditas struktur, tetapi dari sejauh mana organisasi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi jamaah.
“Karena pada akhirnya yang kita tunggu bukan hanya siapa yang duduk di kepengurusan, tetapi apa yang dikerjakan dan dirasakan manfaatnya oleh jamaah,” kata Abdullah.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
