Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Layanan Lansia Jadi Perhatian dalam Penyelenggaraan Haji 2026

kabarbaru.co

Jurnalis:

Kabar Baru, Makkah — Di tengah kepadatan jutaan orang yang menjalankan ibadah haji, jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas membutuhkan perhatian lebih. Tidak hanya soal kesehatan, tetapi juga kemampuan bergerak, mengenali lokasi, hingga menjalankan rangkaian ibadah dengan aman.

Kondisi tersebut menjadi perhatian petugas layanan lansia dan disabilitas Sektor 5 Daerah Kerja (Daker) Makkah dalam penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Sejak awal kedatangan, petugas melakukan pemetaan terhadap jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah berisiko tinggi. Data setiap kelompok terbang diperiksa kembali bersama petugas kloter dan tenaga kesehatan untuk mengetahui kebutuhan masing-masing jemaah.

Pendampingan dimulai sejak bus tiba di hotel. Petugas membantu jemaah turun dari kendaraan, menuju kamar, hingga mengenalkan fasilitas akomodasi yang dapat digunakan selama berada di Makkah.

Bagi jemaah dengan keterbatasan mobilitas, kursi roda dan alat bantu lain disiapkan agar mereka tetap dapat mengikuti rangkaian ibadah.

Persiapan layanan dilakukan sebelum jemaah memasuki akomodasi. Petugas mengecek kelayakan hotel untuk memastikan fasilitas lebih mudah digunakan oleh lansia dan penyandang disabilitas.

Pemeriksaan mencakup kondisi kamar tidur, kamar mandi, akses lobi, koridor, hingga lift.

Penataan tempat tidur, ruang gerak kursi roda, keberadaan pegangan tangan, alas antiselip, serta akses jalan landai menjadi bagian dari pengecekan.

Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan kecil yang dapat berdampak besar bagi jemaah lansia, terutama mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Tantangan berikutnya muncul saat pelaksanaan umrah wajib. Sebagian jemaah membutuhkan bantuan untuk menjalani tawaf dan sai karena keterbatasan tenaga maupun kondisi kesehatan.

Petugas kemudian mendata kebutuhan kursi roda dan jasa pendorong resmi melalui koordinasi dengan Sektor Khusus Masjidil Haram.

Sistem kartu kendali juga diterapkan untuk memastikan jemaah mendapatkan layanan resmi dan menghindari penggunaan jasa dorong ilegal.

Langkah ini dilakukan karena keberadaan pendorong tidak resmi masih menjadi salah satu persoalan di sekitar Masjidil Haram. Selain persoalan tarif, faktor keamanan jemaah lansia juga menjadi perhatian.

Menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), pengawasan terhadap kelompok rentan diperketat.

Petugas bersama tim kesehatan melakukan kunjungan langsung ke kamar jemaah. Pemeriksaan berkala tersebut digunakan untuk melihat kondisi fisik, kesiapan ibadah, hingga kemungkinan adanya jemaah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Pada tahap ini, petugas juga mendata jemaah yang memenuhi kriteria mengikuti safari wukuf serta menyiapkan skema khusus seperti murur dan tanazul sesuai kebutuhan.

Armuzna menjadi fase paling berat dalam pelayanan jemaah lansia. Kepadatan pergerakan, cuaca, serta panjangnya rangkaian ibadah membuat risiko kelelahan meningkat.

Selama fase tersebut, koordinasi antara petugas layanan lansia, tenaga kesehatan, dan petugas kloter diperkuat.

Pemantauan dilakukan sejak keberangkatan menuju Arafah hingga proses ibadah di Mina selesai. Kursi roda darurat juga disiapkan untuk membantu jemaah yang mengalami penurunan kondisi fisik.

Bagi peserta safari wukuf, pendampingan diberikan agar mereka tetap dapat menjalankan puncak ibadah haji sesuai ketentuan.

Evaluasi pelayanan menunjukkan sejumlah tantangan masih perlu diperbaiki pada penyelenggaraan berikutnya.

Salah satunya adalah komunikasi antara jemaah lansia Indonesia dengan sebagian petugas pendorong kursi roda lokal.

Sebagian lansia merasa lebih tenang ketika didampingi orang yang memahami Bahasa Indonesia atau dapat memberikan arahan sederhana selama proses ibadah.

Selain itu, akses menuju layanan mobil golf resmi di Masjidil Haram juga menjadi perhatian. Fasilitas tersebut dinilai membantu lansia, tetapi lokasi penggunaannya belum sepenuhnya mudah dijangkau dari titik kedatangan bus jemaah Indonesia.

Kebutuhan kursi roda juga meningkat pada waktu tertentu, terutama menjelang dan setelah Armuzna. Kondisi ini membuat ketersediaan alat bantu di tingkat sektor perlu diperkuat.

Sejumlah perbaikan diusulkan untuk meningkatkan pelayanan pada musim haji mendatang.

Salah satunya pembentukan petugas khusus jasa dorong lansia dan disabilitas dari Indonesia. Kehadiran petugas tersebut diharapkan dapat mengurangi hambatan bahasa sekaligus memberikan rasa aman kepada jemaah.

Penguatan layanan transportasi khusus lansia menuju titik yang lebih dekat dengan fasilitas mobil golf juga menjadi salah satu opsi.

Selain itu, sistem pendampingan berbasis kelompok, penggunaan identitas digital seperti QR Code, serta penambahan kursi roda di tingkat sektor dinilai dapat membantu mempercepat pelayanan.

Kunjungan rutin ke kamar jemaah juga direkomendasikan menjadi standar pelayanan. Melalui cara tersebut, perubahan kondisi kesehatan maupun kebutuhan khusus jemaah dapat diketahui lebih awal.

Dengan jumlah lansia yang tetap tinggi dalam penyelenggaraan haji, pelayanan tidak hanya bergantung pada kesiapan fasilitas. Kehadiran petugas yang memahami kebutuhan jemaah menjadi bagian penting agar perjalanan ibadah dapat berlangsung lebih aman dan manusiawi.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store