Dongkrak Hilirisasi, Kementan Alokasikan Rp10 Triliun untuk Benih Gratis Petani

Jurnalis: Imam Buchori
Kabar Baru, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan program pembagian benih unggul gratis untuk komoditas perkebunan strategis nasional. Langkah ini diambil sebagai strategi akselerasi hilirisasi sektor pertanian sekaligus memacu volume ekspor komoditas perkebunan di pasar global.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa program bantuan ini bersifat multitahun (multiyears) yang berlangsung dari tahun 2025 hingga 2027. Melalui program ini, pemerintah menargetkan total perluasan dan peremajaan lahan pertanian mencapai 870 ribu hektare di seluruh wilayah Indonesia.
Batasan Kuota dan Pengawasan Ketat
Dalam implementasinya di lapangan, Kementan menetapkan batas maksimal kepemilikan lahan bagi masyarakat yang berhak menerima bantuan cuma-cuma ini untuk memastikan program tepat sasaran pada petani kecil.
“Jatahnya itu biasanya 2 hektare sampai maksimal 5 hektare untuk satu orang petani. Tetapi kalau kepemilikan lahan di atas itu, kategorinya sudah masuk pengusaha,” ujar Amran Sulaiman dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026).
Mengingat signifikansi proyek ini terhadap ketahanan pangan jangka panjang, Kementan secara khusus menggandeng sejumlah lembaga penegak hukum dan keamanan, mulai dari Satuan Tugas (Satgas) Pangan, TNI, Polri, hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengawal distribusi benih.
Amran menegaskan, akurasi pada fase pembibitan awal sangat krusial karena berdampak langsung pada kualitas produksi hingga puluhan tahun ke depan.
“Kami meminta ini dikawal bersama karena ini menyangkut masa depan anak cucu kita. Satu kali tanam, seperti komoditas kelapa misalnya, itu bisa dipanen 30 sampai 60 tahun. Kalau salah sejak di pembibitan, dampaknya akan salah terus selama 30 hingga 60 tahun ke depan,” tegas Mentan.
Rincian Anggaran Tahunan
Dalam catatan yang dikutip dari detik.com, anggaran program peningkatan produktivitas pertanian sebesar Rp 9,95 triliun tersebut dicairkan bertahap selama tiga tahun, mulai 2025 hingga 2027. Untuk tahun pertama, anggaran yang dicairkan sebesar Rp 2,54 triliun.
Lebih lanjut, untuk tahun 2026 dianggarkan sebesar Rp 5,63 triliun dan 2027 sebesar Rp 1,58 triliun. Kemudian Amran juga memaparkan rincian enam komoditas perkebunan yang menjadi fokus pemerintah.
Pertama, untuk tebu dianggarkan sebesar Rp 1,52 triliun, termasuk pengadaan biaya tanam hingga biaya benih. Kedua, kakao Rp 2,49 triliun. Ketiga, kelapa Rp 1,16 triliun. Keempat, kopi Rp 2,16 triliun. Kelima, mete Rp 500 miliar. Keenam, lada dan pala Rp 350 miliar.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
