Dari Dapur ke Pasar: Ibu PKK Sironjang dan Dukuh Belajar Sulap TOGA Jadi Usaha Mandiri

Jurnalis: Zahra Karimah
Kabar Baru, Semarang, 11 Juli 2026 — Siapa sangka tanaman yang selama ini tumbuh di sudut pekarangan rumah bisa menjadi sumber penghasilan keluarga? Itulah semangat yang coba dibangun mahasiswa KKN Tematik IDBU 38 Dusun Sironjang & Dukuh Universitas Diponegoro 2026 di Kampung Sironjang dan Dukuh, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Melalui program monodisiplin bertajuk “Berdaya Bersama: Penguatan Kapasitas Bisnis dan Kelembagaan Ibu PKK melalui Pelatihan Manajemen Usaha Berbasis Produk Lokal (TOGA)” yang digagas oleh Azzahra Reybecca, mahasiswi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro.
Potensi Besar yang Belum Tersentuh
Kampung Sironjang dan Dukuh menyimpan potensi alam yang tidak kecil. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kencur tumbuh subur di pekarangan warga dan taman PKK di setiap RT di RW 01 Kelurahan Pakintelan, Gunung Pati, namun selama ini hanya dimanfaatkan untuk keperluan dapur sehari-hari. Potensi ekonominya nyaris tidak tersentuh.
Di sisi lain, UMKM yang aktif beroperasi di kawasan ini justru sebagian besar berasal dari pedagang luar kampung.
Ibu-ibu PKK yang sejatinya memiliki keterampilan membuat produk olahan belum berhasil mengubah keterampilan itu menjadi usaha yang menghasilkan.
Bukan karena tidak mampu, melainkan karena belum memiliki pengetahuan tentang cara mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Kondisi inilah yang mendorong pelaksanaan program Berdaya Bersama, sebuah sosialisasi manajemen usaha yang dirancang khusus untuk ibu-ibu PKK RT 1 hingga RT 4 Dusun Sironjang dan Dukuh, dengan pendekatan yang membumi dan bahasa yang mudah dipahami.
Pelatihan yang Tidak Biasa
Program ini tidak sekadar menyampaikan materi di depan ruangan. Sejak awal, kegiatan dirancang agar peserta merasa terlibat, bukan sekadar menjadi pendengar.
Sebelum pelatihan dimulai, dilakukan observasi lapangan untuk memahami kebutuhan nyata masyarakat, produk apa yang sudah mereka buat, kendala apa yang paling sering dihadapi, dan sejauh mana pemahaman mereka tentang pengelolaan usaha. Hasilnya menjadi dasar penyusunan materi yang relevan dan kontekstual.
Saat hari pelaksanaan, ibu-ibu PKK RT 1–4 Dusun Sironjang dan Dukuh berkumpul dan mengikuti sesi pelatihan yang membahas lima topik utama.
Pertama, pentingnya pola pikir kewirausahaan, bahwa rugi kecil bukan alasan berhenti, melainkan bahan evaluasi.
Kedua, strategi pemasaran sederhana, baik secara offline melalui arisan dan titip jual di warung, maupun online melalui WhatsApp dan marketplace.
Ketiga, cara menetapkan harga jual yang tepat menggunakan rumus harga pokok ditambah keuntungan yang wajar, dengan contoh langsung menggunakan produk dari TOGA, yaitu Puding Jahe.
Keempat, pencatatan keuangan harian menggunakan template buku kas sederhana yang bisa langsung diisi tanpa perlu latar belakang akuntansi.
Kelima, penguatan kelembagaan kelompok usaha melalui penyusunan struktur organisasi yang jelas, siapa yang bertanggung jawab di bidang produksi, pemasaran, keuangan, dan administrasi.
Setiap sesi diselingi diskusi interaktif dan tanya jawab. Antusiasme peserta terasa dari banyaknya pertanyaan yang muncul, mulai dari cara menentukan harga yang tidak terlalu mahal tapi tetap untung, hingga bagaimana cara foto produk yang menarik hanya dengan kamera ponsel.
Yang Dibawa Pulang Bukan Sekadar Ilmu
Di akhir kegiatan, peserta tidak hanya pulang dengan tangan kosong. Lebih dari sekadar materi yang disampaikan, setiap ibu-ibu PKK RT 1–4 Dusun Sironjang dan Dukuh membawa pulang pemahaman baru.
Ibu-ibu bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, cara menghitung harga jual yang tepat, kebiasaan mencatat keuangan sederhana, hingga gambaran jelas tentang bagaimana membagi peran dalam kelompok usaha agar tidak bergantung pada satu orang saja.
Pengetahuan itulah luaran yang sesungguhnya: bukan kertas yang bisa hilang, melainkan cara berpikir baru yang akan terus melekat.
Tak lupa, kuesioner kepuasan peserta dibagikan sebagai alat evaluasi untuk mengukur sejauh mana materi terserap dan apakah kegiatan ini benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Semangat yang Menyala
Respon peserta menjadi bukti bahwa kebutuhan ini memang nyata. Banyak ibu-ibu yang mengaku baru pertama kali memahami cara menghitung harga jual dengan benar atau menyadari bahwa selama ini mereka menjual produk terlalu murah karena tidak memperhitungkan semua komponen biaya.
Yang lebih penting, ada perubahan cara pandang yang mulai terbentuk, bahwa TOGA bukan sekadar tanaman obat, melainkan aset ekonomi yang tinggal menunggu dikelola dengan serius.
Bahwa usaha kecil pun bisa tumbuh asalkan ada sistem yang menopangnya. Dan bahwa ibu rumah tangga memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pelaku usaha yang tangguh.
Harapan ke Depan
Program Berdaya Bersama bukan akhir dari perjalanan, melainkan titik awal. Seluruh luaran yang dihasilkan, yaitu modul, template, struktur organisasi sengaja dirancang agar tetap bisa digunakan secara mandiri oleh ibu-ibu PKK RT 1–4 Dusun Sironjang dan Dukuh setelah program KKN berakhir.
Harapannya, semangat yang tersulut hari ini tidak padam begitu mahasiswa meninggalkan kampung. Ibu-ibu PKK Sironjang dan Dukuh memiliki semua yang dibutuhkan untuk memulai, bahan baku, keterampilan, dan kini juga pengetahuan. Yang tersisa hanyalah satu langkah kecil: memulai dan tidak berhenti saat pertama kali menghadapi rintangan.
Karena di balik setiap produk TOGA yang berhasil dijual, ada satu keluarga yang sedikit lebih sejahtera. Dan itulah tujuan sesungguhnya dari program ini.
Penulis: Azzahra Reybecca, mahasiswa KKN Tim II IDBU 38 Dusun Sironjang & Dukuh Universitas Diponegoro 2026
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
