Pengamat Komunikasi Politik Sarankan Presiden Tak Spontan Bicara Ekonomi

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Jakarta – Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, mengaku sempat merasa tegang saat menantikan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam agenda penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2027 di DPR RI.
Sosok yang akrab disapa Hensa ini menyoroti gaya komunikasi spontan sang Presiden yang kerap memicu respons tak terduga, khususnya pada isu-isu sensitif.
Hensa mengungkapkan kekhawatirannya melalui kanal YouTube pribadinya dan dikutip Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Senin (25/05/2026).
Ia menilai, kejutan dari pernyataan spontan Prabowo terkadang justru bisa menimbulkan situasi yang kurang menguntungkan bagi persepsi publik maupun stabilitas ekonomi.
“Saat saya tahu Presiden Prabowo akan berpidato di DPR, terus terang saya termasuk yang deg-degan. Karena spontannya Pak Prabowo ini kadang-kadang bukan uhuy tapi waduduy. Jadi artinya waduh,” ujar Hensa berkelakar mengenai gaya penyampaian kepala negara.
Dolar AS dan Masyarakat Desa
Guna memperkuat pandangannya, Hensa mengingatkan kembali pernyataan spontan Prabowo di masa lalu yang sempat memicu perbincangan hangat.
Saat itu, Presiden sempat menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS tidak terlalu berdampak signifikan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan.
“Masih ingat spontannya Pak Prabowo tentang orang desa tidak pakai dolar,” tuturnya memberikan contoh.
Berdasarkan catatan tersebut, Hensa sangat mengharapkan agar Presiden Prabowo lebih menahan diri dan menghindari sikap impromptu ketika membahas kebijakan atau indikator ekonomi makro nasional.
Menurutnya, isu ekonomi memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi terhadap pergerakan instrumen pasar modal maupun nilai tukar.
Pasar Butuh Pesan Ekonomi Terukur
Meski melayangkan kritik, Hensa tidak menampik bahwa karakter terbuka, jenaka, dan ekspresif merupakan daya tarik personal dari figur Prabowo Subianto dalam berkomunikasi sehari-hari.
Karakter yang hangat tersebut membuat Prabowo terlihat sebagai sosok pemimpin yang menyenangkan di mata masyarakat.
Namun, ia menegaskan bahwa penanganan urusan ekonomi negara membutuhkan pendekatan komunikasi yang jauh lebih formal, serius, dan terukur.
Hal ini krusial demi menjaga stabilitas psikologis pasar dan membangun kepercayaan investor, yang pada akhirnya akan membantu proses perbaikan ekonomi Indonesia secara bertahap.
Di sisi lain, Hensa memberikan catatan positif terkait jalannya pidato di DPR kemarin.
Ia mengapresiasi langkah Presiden Prabowo yang memilih menggunakan alat bantu teleprompter sewaktu memaparkan poin-poin utama presentasi ekonomi pemerintah sebelum kemudian beralih ke gaya penyampaian bebas.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Seedbacklink

