Festival Budaya Gresik Satukan Perantau, Dorong Promosi Budaya ke Tingkat Nasional
Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Jakarta — Warga asal Gresik di wilayah Jabodetabek akan menggelar Festival Seni Budaya Gresik 2026 pada 3 Mei mendatang di Taman Mini Indonesia Indah. Kegiatan ini tak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga upaya menguatkan identitas budaya di tengah kehidupan perantauan.
Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Gresik (IMAGE) Jabodetabek, Uzzi Firmansyah, mengatakan festival ini lahir dari kegelisahan atas semakin jauhnya generasi muda perantau dari akar budayanya.
“Festival ini digelar untuk mengingatkan para perantau atas nilai-nilai positif akar budaya Gresik di tengah era modernisasi. Banyak di antara kita yang kurang mengenal keberagaman budaya Gresik secara historikal dan makna filosofinya,” ujar Uzzi.
Menurut dia, posisi perantau di Jabodetabek sangat strategis sebagai jembatan promosi budaya. Karena itu, festival ini diharapkan mampu menguatkan identitas sekaligus mengenalkan kekayaan Gresik kepada publik yang lebih luas.
Tema “Gresik Nyawiji” dipilih sebagai penegasan pentingnya sinergi lintas generasi dalam menjaga tradisi. Uzzi menilai keberlanjutan budaya tidak bisa dilepaskan dari peran generasi muda.
“Budaya Gresik dijaga oleh generasi tua, diteruskan oleh generasi muda, dan disatukan dalam semangat ‘Gresik Nyawiji’. Generasi muda harus menerima tongkat estafet agar seni budaya tetap eksis dan tidak tergerus zaman,” katanya.
Berbeda dari kegiatan sebelumnya yang cenderung bersifat seremonial, festival ini diklaim menghadirkan konsep yang lebih komprehensif. Selain silaturahmi, kegiatan akan menampilkan beragam ekspresi budaya, mulai dari seni visual Damar Kurung, pertunjukan tradisional, hingga kuliner khas seperti Nasi Krawu dan Otak-Otak Bandeng.
“Festival ini kami kemas lebih ber-value dan memiliki nilai jual. Tidak hanya pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan UMKM warga Gresik,” ujar Uzzi.
Ia menegaskan, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai panitia, tetapi juga sebagai motor penggerak kebudayaan. Hal ini sekaligus menjadi respons atas kecenderungan pembangunan daerah yang lebih berfokus pada sektor industri.
“Kami ingin menggaungkan potensi kebudayaan yang juga bisa menggerakkan ekonomi, baik di tingkat regional maupun nasional,” katanya.
Ke depan, festival ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa, paguyuban, dan pemerintah daerah. Lebih dari itu, kegiatan ini ditargetkan mampu memperkuat solidaritas warga Gresik di perantauan.
“Melalui festival ini kami ingin menyampaikan bahwa kita memiliki kebudayaan yang luar biasa dan harus dirawat di mana pun berada. Kami ingin seluruh warga Gresik di perantauan tetap ‘Nyawiji’, tetap bersatu, kompak, dan terkoneksi,” ujar Uzzi.
Jika berjalan sukses, ia berharap akan muncul perubahan nyata, terutama dalam memperkuat persatuan perantau serta meningkatkan pengakuan terhadap kekayaan budaya Gresik di tingkat nasional.
“Harapan kami, Gresik tidak lagi dipandang sebelah mata dalam hal kebudayaan. Kita punya kekayaan seni, sejarah, dan tradisi yang luar biasa untuk ditunjukkan ke publik,” kata dia.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

