Dari Tanah Papua untuk Indonesia: Memperkuat Literasi dan Numerasi Kontekstual melalui Pendidikan Tinggi

Jurnalis: Latief
Kabar Baru, Sorong – Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong bersama UNICEF Indonesia atas dukungan Pemerintah Australia (DFAT) menyelenggarakan Seminar Nasional Sehari “Program Literasi Numerasi Kontekstual Papua: Integrasi ke dalam Mata Kuliah Reguler Perguruan Tinggi” di Gedung UCC (UNIMUDA Convention Center), Sorong, Provinsi Papua Barat Daya. Senin (7/9/2026).
Seminar ini mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, dosen, guru, mahasiswa, akademisi, serta mitra pembangunan untuk membahas bagaimana pengalaman dan inovasi pembelajaran literasi dan numerasi yang dikembangkan di Tanah Papua dapat diintegrasikan secara lebih luas ke dalam pendidikan tinggi, khususnya dalam pembelajaran bagi calon guru.
Program Literasi Numerasi Kontekstual Papua telah dikembangkan dan diimplementasikan bersama enam perguruan tinggi di Tanah Papua, dengan melibatkan dosen dan guru sekolah dasar dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang menghubungkan konsep literasi dan numerasi dengan kehidupan, budaya, bahasa, serta kearifan lokal Papua.
Pendekatan tersebut antara lain memanfaatkan motif anyaman noken untuk pembelajaran pola bilangan, kalender musim tanam masyarakat Papua untuk mengenalkan konsep waktu dan pengukuran, serta cerita rakyat lokal sebagai bahan pembelajaran literasi.
Seminar ini didorong oleh kebutuhan untuk memastikan bahwa praktik-praktik baik tersebut tidak berhenti sebagai intervensi atau praktik terbatas di sekolah dan perguruan tinggi tertentu, tetapi dapat diadopsi, diadaptasi, dan diintegrasikan ke dalam mata kuliah reguler perguruan tinggi.
Integrasi tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pendekatan pembelajaran kontekstual kepada calon guru dan profesional pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.
Penguatan Kolaborasi Pendidikan untuk Papua dan Indonesia
Acara dibuka dengan sambutan dari Direktur Kemitraan UNIMUDA-UNICEF, Dr. Rustamadji, M.Si.; Chief of Education UNICEF Indonesia, Katheryn Bennett; serta Rektor UNIMUDA Sorong, Dr. Sirojuddin, M.Pd., yang sekaligus akan membuka acara.
Sementara itu, sesi Keynote Speech menghadirkan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV Papua dan Papua Barat, Dr. Suriel S. Mofu, S.Pd., M.Ed., TEFL., M.Phil.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, dan mitra pembangunan dalam memperkuat kualitas pendidikan yang relevan dengan konteks lokal.
Dalam seminar ini, para peserta juga akan mendengar langsung pengalaman dari dosen enam perguruan tinggi di Tanah Papua yang telah mengimplementasikan program, serta guru-guru SD yang telah mempraktikkan pendekatan literasi dan numerasi kontekstual Papua di ruang kelas.
Keenam perguruan tinggi tersebut adalah UNIMUDA Sorong, Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire, STKIP Biak, Universitas Musamus Merauke, Universitas Muhammadiyah Papua Barat, dan IAIN Sorong.
“Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, dan mitra pembangunan dapat melahirkan inovasi pembelajaran yang berangkat dari konteks dan kekayaan budaya Papua. Tantangannya sekarang adalah bagaimana praktik baik ini dapat terus dikembangkan dan menjadi bagian dari pembelajaran di perguruan tinggi,” ucap Dr. Rustamadji, M.Si.
Dalam sambutannya, Rektor UNIMUDA Sorong, Dr. Sirojuddin, M.Pd., menegaskan pentingnya perguruan tinggi mengambil peran dalam memastikan pendidikan yang diberikan kepada calon guru tetap relevan dengan konteks tempat mereka nantinya mengajar.
“Kita ingin memastikan bahwa calon guru tidak hanya menguasai teori dan konsep, tetapi juga mampu memahami lingkungan sosial dan budaya peserta didiknya. Papua memiliki kekayaan konteks yang dapat menjadi sumber belajar yang sangat kuat,” tegasnya.
Dari Praktik Papua Menuju Pembelajaran Nasional
Dalam keynote-nya, Katheryn Bennett menyoroti pentingnya pembelajaran yang relevan dengan kehidupan dan konteks anak. Pendekatan kontekstual, menurutnya, dapat membantu memastikan bahwa proses belajar tidak terlepas dari lingkungan, budaya, dan pengalaman peserta didik.
“Pembelajaran yang bermakna dimulai dari hal-hal yang bermakna bagi anak. Bagi anak Papua, hal-hal tersebut adalah sagu, noken, sungai, bahasa ibu, dan cerita dari tanah leluhur,” ujar Katheryn.
“UNICEF percaya bahwa Papua bukan sekadar penerima manfaat pendidikan nasional—Papua adalah kontributor. Inovasi-inovasi yang lahir di sini, dari enam perguruan tinggi ini dan dari para guru di ruang-ruang kelas di daerah terpencil ini, merupakan kontribusi nyata Papua terhadap cara Indonesia memandang pendidikan berkualitas.”
Sementara itu, Dr. Suriel S. Mofu menekankan peran perguruan tinggi dalam memastikan praktik-praktik inovatif yang berkembang di Papua dapat menjadi bagian dari penguatan pendidikan guru dan pendidikan tinggi secara lebih luas.
“Perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk memastikan inovasi yang lahir dari Papua tidak berhenti sebagai praktik di satu tempat, tetapi dapat didokumentasikan, dikembangkan, dan diintegrasikan ke dalam proses pendidikan calon guru. Bahan-bahan ini bahkan bisa dicontoh dan dibawa ke tingkat nasional untuk ditiru di tempat-tempat lain,” ucap Dr. Mofu.
Enam Perguruan Tinggi Berbagi Praktik Baik
Seminar menghadirkan dosen dari enam perguruan tinggi di Tanah Papua yang telah mengimplementasikan Program Literasi Numerasi Kontekstual Papua, yaitu UNIMUDA Sorong, Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire, STKIP Biak, Universitas Musamus Merauke, Universitas Muhammadiyah Papua Barat, dan IAIN Sorong.
Para peserta juga mendapatkan perspektif langsung dari guru-guru SD yang telah mempraktikkan pendekatan tersebut di ruang kelas. Hal ini menjadi bagian penting dari seminar karena pengalaman guru memberikan gambaran mengenai bagaimana konsep literasi dan numerasi kontekstual diterapkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Diskusi kemudian dilanjutkan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang membahas tiga aspek utama: integrasi ke dalam kurikulum PPG, pengembangan modul dan bahan ajar, serta penilaian dan asesmen.
Dari Praktik Baik Menuju Kebijakan dan Scale-up
Seminar tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi konkret mengenai mekanisme adopsi dan integrasi Literasi Numerasi Kontekstual Papua ke dalam mata kuliah reguler di perguruan tinggi.
Hasil FGD dipresentasikan dalam sesi pleno untuk mendapatkan tanggapan dari pembahas dan menjadi bahan penyusunan rekomendasi kebijakan dan policy brief. Kegiatan ini juga diharapkan memperkuat jejaring antara perguruan tinggi di Tanah Papua, pemerintah, dan mitra pembangunan dalam mengembangkan pembelajaran yang berbasis konteks lokal.
Melalui kegiatan ini, praktik dan inovasi yang berkembang di Tanah Papua diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Integrasi pendekatan tersebut ke dalam mata kuliah reguler perguruan tinggi akan membuka peluang untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa dan calon pendidik, sehingga pembelajaran yang kontekstual, berbudaya, dan bermakna dapat terus berkembang.
“Dari Papua untuk Indonesia” menjadi pesan utama seminar ini: bahwa inovasi pendidikan yang lahir dari pengalaman dan kekayaan budaya Papua tidak hanya relevan bagi Papua, tetapi juga dapat memperkaya praktik dan kebijakan pendidikan nasional.
Tentang Seminar
Seminar Nasional Sehari ini diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong bersama UNICEF Indonesia atas dukungan Pemerintah Australia, berkolaborasi dengan dukungan mitra terkait.
Kegiatan dirancang sebagai forum berbagi praktik baik, dialog kebijakan, dan perumusan rekomendasi mengenai integrasi Literasi Numerasi Kontekstual Papua ke dalam mata kuliah reguler perguruan tinggi.
ToR kegiatan menetapkan sejumlah keluaran, termasuk policy brief, prosiding/kumpulan makalah, bahan awal pengembangan modul, serta rekomendasi kerja sama antarlembaga.
Tentang UNICEF
UNICEF bekerja di beberapa tempat paling sulit di dunia untuk menjangkau anak-anak yang paling dirugikan di dunia. Di 190 negara dan wilayah, kami bekerja untuk setiap anak, di mana saja, untuk membangun dunia yang lebih baik bagi semua orang.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
