Meisya Sukses Perankan Penyandang Tunarungu di Film Juminten Edan

Jurnalis: Hanum Aprilia
Kabar Baru, Jakarta – Aktris Meisya Amira mengaku menghadapi tantangan terbesar dalam perjalanan kariernya saat dipercaya memerankan karakter Juminten dalam film bergenre psychological thriller Juminten Edan.
Dalam film tersebut, ia memerankan seorang perempuan penyandang tunarungu dan tunawicara yang hidup dengan trauma mendalam.
Meisya mengatakan peran tersebut menjadi pengalaman baru karena sebelumnya ia belum pernah mempelajari bahasa isyarat.
Menurutnya, memerankan karakter dengan keterbatasan komunikasi membutuhkan proses yang jauh lebih kompleks dibanding peran-peran yang pernah dijalaninya.
“Kalau jadi seorang tunawicara dan juga tunarungu itu menurutku sangat susah, challenging banget karena aku belum pernah belajar sebelumnya, baru kali ini,” ujar Meisya Amira dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Sabtu (18/07/2026).
Demi membangun karakter secara maksimal, Meisya mengikuti coaching dan workshop intensif selama dua pekan bersama Dimas Aditya dan Sharon.
Seluruh proses pelatihan dipandu langsung oleh seorang pelatih yang merupakan penyandang tunarungu sehingga para pemain dapat memahami penggunaan bahasa isyarat secara akurat.
Selain mempelajari bahasa isyarat, Meisya juga mendalami aspek emosional karakter Juminten.
Ia mengikuti sesi khusus untuk memahami cara berkomunikasi, gestur, hingga kebiasaan penyandang tunarungu agar penampilannya di depan kamera terasa lebih alami.
“Kita ada workshop selama dua minggu sama coach yang memang tunarungu. Jadi benar-benar intens belajar, bahkan ada satu hari khusus untuk belajar bahasa isyarat,” ungkapnya.
Meski akhirnya mampu menguasai bahasa isyarat, Meisya menilai tantangan sesungguhnya justru muncul saat harus menyampaikan emosi tanpa bantuan dialog.
Seluruh perasaan karakter harus disampaikan melalui ekspresi wajah, tatapan mata, gerak tubuh, dan bahasa isyarat.
“Yang menurut aku juga challenging adalah gimana aku harus mengekspresikan semuanya tanpa dialog dari mata, emosi, semuanya itu benar-benar dilakukan dengan bahasa isyarat,” tuturnya.
Selama proses syuting, Meisya tetap mendapat pendampingan dari pelatih bahasa isyarat untuk memastikan setiap gerakan yang ditampilkan sesuai dan akurat.
Pendampingan tersebut membantunya menjalani proses produksi dengan lebih percaya diri.
Agar setiap adegan terlihat natural, Meisya juga membiasakan diri berlatih setiap malam sebelum pengambilan gambar.
Ia mempelajari terlebih dahulu adegan yang akan dimainkan keesokan harinya hingga gerakan bahasa isyarat menjadi kebiasaan dan dilakukan secara refleks.
“Kalau besok ada scene apa, aku latihan dulu hari sebelumnya. Lama-lama jadi refleks karena sudah terbiasa,” kata Meisya.
Film Juminten Edan karya sutradara Dedy Mercy dijadwalkan tayang di bioskop mulai 23 Juli 2026.
Film ini mengangkat kisah psikologis yang dipadukan dengan konflik keluarga dan trauma masa lalu, sekaligus menampilkan transformasi akting Meisya Amira melalui karakter Juminten.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
