Sefryana Khairil Ungkap Luka Tersembunyi di Balik Kehamilan dan Perjuangan Melawan Depresi Pascamelahirkan
Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Jakarta – Penulis kenamaan Sefryana Khairil kembali dengan sebuah karya yang berani dan jujur. Lewat novel terbarunya, ia tidak hanya menyajikan kisah romansa, tetapi juga memotret realitas pahit yang jarang dibicarakan: trauma kehilangan janin, tekanan sosial untuk menjadi ‘ibu tanpa celah’, dan badai psikologis yang menghantam seorang perempuan setelah kelahiran buah hatinya.
Novel ini berpusat pada kehidupan Salma dan Emir. Di mata keluarga besar, mereka adalah pasangan yang bahagia, namun tak ada yang tahu bahwa mereka menyimpan rahasia kelam. Setahun pertama pernikahan mereka diwarnai trauma kehamilan ektopik (di luar kandungan) yang memaksa mereka kehilangan calon anak pertama demi menyelamatkan nyawa Salma. Luka ini mereka simpan rapat-rapat dari orang tua, mengubah setiap pertanyaan ‘kapan punya anak?’ menjadi belati yang menyakitkan.
Ketika akhirnya Kavi lahir, Salma tidak lantas menemukan kebahagiaan yang dijanjikan masyarakat. Ia justru terjebak dalam pusaran ekspektasi. Sefryana Khairil dengan apik menggambarkan bagaimana Salma merasa:
- Terhakimi oleh Standar Sosial: Perasaan rendah diri karena melahirkan secara sesar dan dibanding-bandingkan dengan sosok ibu lain yang dianggap ‘lebih hebat’.
- Kehilangan Kendali Diri: Keputusasaan setelah harus meninggalkan karier demi menjadi ibu rumah tangga, yang membuatnya merasa dunianya telah runtuh.
- Lumpuh Secara Emosional: Penggambaran mendalam mengenai gejala Postpartum Depression dari rasa takut pada anak sendiri hingga momen-momen ledakan emosi yang tak terkendali.
Di sisi lain, novel ini mengangkat perspektif Emir, seorang suami yang berjuang menjaga kewarasan rumah tangganya di tengah amukan emosi sang istri yang terganggu kesehatan mentalnya. Emir harus belajar bahwa kesabaran bukan hanya soal diam, tetapi juga soal mencari bantuan profesional dan berani mengakui bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja.
Sefryana Khairil mengingatkan pembaca bahwa menjadi ibu adalah perjalanan yang berat dan meminta bantuan baik kepada pasangan maupun psikolog—adalah sebuah bentuk keberanian, bukan kelemahan.
Novel ini adalah kado bagi setiap perempuan yang pernah merasa sendirian dalam gelapnya masa baby blues, serta pengingat bagi lingkungan sekitar untuk berhenti menuntut kesempurnaan dari seorang ibu.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

