Prof Stella Bantah Ribuan Calon Mahasiswa Mundur dari PTN karena Biaya

Jurnalis: Hanum Aprilia
Kabar Baru, Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Stella Christie, meluruskan kabar yang beredar mengenai puluhan ribu calon mahasiswa yang batal mendaftar ulang di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Stella mengklarifikasi bahwa dari total 60.000 kuota PTN yang tidak terisi pada tahun 2025, hanya ada 17.800 calon mahasiswa yang tercatat tidak melakukan registrasi ulang.
Sementara itu, sisa kuota lainnya memang murni belum terisi sejak awal proses seleksi.
Pemerintah meminta publik tidak langsung menyimpulkan bahwa belasan ribu calon mahasiswa tersebut mundur karena kendala finansial. Stella menjelaskan ada banyak faktor yang memengaruhi keputusan mereka.
Sebagian calon mahasiswa memilih untuk mengambil beasiswa dari instansi lain atau masuk ke perguruan tinggi kedinasan.
Selain itu, ada juga yang lebih memilih kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) demi mengejar program studi yang sesuai dengan minat mereka.
“Kalau dibilang 17.815 itu semuanya karena keadaan ekonomi, ini tidak benar juga,” ujar Stella saat memberikan keterangan di Jakarta, Kamis (09/07/2026).
Solusi UKT Murah PTN-PTS
Stella tidak menampik bahwa ada sebagian calon mahasiswa yang mundur karena gagal mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Namun, pemerintah tetap mengantisipasi hal tersebut melalui skema Uang Kuliah Tunggal (UKT) kelompok rendah. Skema ini menetapkan biaya maksimal Rp500 ribu per semester untuk UKT level 1, dan maksimal Rp1 juta per semester untuk UKT level 2.
Saat ini, rata-rata mahasiswa di PTN seluruh Indonesia sudah mengisi 30% kuota pada level UKT murah tersebut.
Terkait alasan pemerintah tidak langsung mengisi kembali kursi kosong yang ditinggalkan calon mahasiswa, Stella menyebut hal itu demi menjaga keseimbangan ekosistem pendidikan dengan PTS.
Pihak universitas swasta berharap jadwal penerimaan mahasiswa baru di PTN memiliki batas waktu yang jelas agar tidak mengganggu masa seleksi mereka.
Pemerintah berjanji akan mengkaji ulang regulasi ini agar sistem penerimaan berjalan lebih adil bagi semua pihak.
LPDP Jadi Kunci Investasi
Pada kesempatan yang sama, Stella juga menyoroti pentingnya dana Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai instrumen investasi jangka panjang bagi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
Ia mencontohkan keberhasilan China yang sukses mendongkrak kualitas pendidikan tingginya dalam waktu 30 tahun berkat kebijakan mengirim talenta terbaik ke kampus dunia, serta kesuksesan Satya Nadella sebagai figur global asal India.
Kementerian kini fokus mendorong para dosen di Indonesia untuk melanjutkan studi doktoral (PhD) lewat pendanaan LPDP.
Langkah ini diyakini mampu membawa dampak berganda (multiplier effect) yang besar ketika mereka kembali mengajar.
Guna mendukung misi ini, pemerintah telah menyepakati kerja sama strategis dengan universitas kelas dunia, seperti Khalifa University dan University College London melalui PhD Liaison Program.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
