Terancam Perang Saudara! Isu Kudeta Pangeran MBS Guncang Seluruh Arab Saudi

Jurnalis: Achmad Salim
Kabar Baru, Riyadh – Jagat media sosial dan saluran Telegram pro-Iran tengah geger oleh kabar burung mengenai keretakan internal di Kerajaan Arab Saudi.
Mantan Putra Mahkota, Mohammed bin Nayef (MbN), kabarnya sedang membangun dewan rahasia yang melibatkan tokoh militer dan pemimpin suku untuk menggulingkan kekuasaan Mohammed bin Salman (MBS).
Rumor ini berkembang pesat di tengah tekanan ekonomi dan militer yang menghimpit Riyadh akibat perang Iran-Israel yang pecah sejak Februari lalu.
Spekulasi menyebutkan bahwa dewan rahasia tersebut terdiri dari perwira militer senior dan anggota keluarga Saud yang terpinggirkan.
Kelompok ini konon merasa tidak puas dengan kepemimpinan MBS, terutama setelah serangan terhadap infrastruktur minyak Teluk mengganggu pendapatan kerajaan.
Tekanan Ekonomi dan Perang Regional
Kemunculan rumor ini bertepatan dengan situasi sulit yang menimpa Arab Saudi di Maret 2026.
Harga minyak dunia yang meroket di atas $170 per barel akibat gangguan di Selat Hormuz ternyata justru menekan ekonomi domestik Saudi.
Serangan milisi pro-Iran terhadap kepentingan energi di Teluk semakin memicu ketidakpuasan internal yang selama ini terpendam.
Analis intelijen melihat narasi dewan rahasia ini sebagai upaya operasi informasi dari pihak lawan, terutama jaringan yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Mereka sengaja memperkuat narasi perpecahan keluarga Saud untuk melemahkan legitimasi MBS di mata rakyat dan dunia internasional.
Hingga saat ini, tidak ada bukti visual, dokumen bocor, maupun pergerakan militer nyata yang mendukung klaim kudeta tersebut.
Mohammed bin Nayef yang Misterius
Sebagai informasi, Mohammed bin Nayef merupakan mantan Menteri Dalam Negeri yang kehilangan takhtanya pada Juni 2017 setelah Raja Salman menunjuk MBS sebagai penggantinya.
Sejak saat itu, MbN menjalani tahanan rumah dan sempat ditangkap kembali pada Maret 2020 atas tuduhan makar.
Meski banyak yang meragukan kesehatannya, MbN tetap dianggap sebagai simbol perlawanan bagi faksi-faksi senior yang kehilangan pengaruh.
Pemerintah Arab Saudi sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait isu panas ini.
Kurangnya transparansi di dalam istana Riyadh sering kali membuat spekulasi liar tumbuh subur, terutama saat kondisi geopolitik Timur Tengah sedang tidak stabil.
Walaupun ketegangan di internal keluarga Saud bersifat nyata, mayoritas pengamat menilai klaim pembentukan dewan militer rahasia tersebut masih berada di ranah propaganda tanpa dasar bukti yang kuat.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

