Iran Ancam Putus Kabel Internet Bawah Laut, Kiamat Digital Hantui Dunia

Jurnalis: Achmad Salim
Kabar Baru, Taheran – Eskalasi konflik di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang mengancam urat nadi digital dunia.
Iran dilaporkan menebar ancaman akan memutus jaringan kabel serat optik bawah laut di Laut Merah dan Selat Hormuz.
Aksi sabotase ini menjadi opsi Teheran jika negara-negara Teluk tetap memberikan ruang bagi pangkalan militer Amerika Serikat (AS).
Ancaman tersebut memicu kepanikan luar biasa di tingkat korporasi global, meski otoritas resmi belum memberikan konfirmasi. Wilayah perairan tersebut merupakan chokepoint strategis yang mengalirkan hingga 95 persen trafik internet global.
Jika kerusakan benar-benar terjadi, dampak destruktifnya akan melumpuhkan komunikasi dunia dalam sekejap.
Raksasa Teknologi Tarik Kontraktor
Kepanikan industri teknologi kini bukan sekadar isapan jempol belaka. Raksasa teknologi Meta, induk dari Facebook dan WhatsApp, kabarnya telah menarik seluruh kontraktor kabel bawah laut mereka dari kawasan Teluk Persia.
Langkah darurat ini menyusul kekhawatiran akan keselamatan personel dan infrastruktur di tengah memanasnya situasi keamanan.
Kondisi serupa terjadi pada Alcatel Submarine Networks, perusahaan pelat merah asal Prancis yang mengelola pemasangan kabel di wilayah tersebut. Perusahaan ini terpaksa merilis status force majeure (keadaan kahar) kepada para pelanggannya.
Kapal instalasi mereka, Ile De Batz, saat ini dilaporkan tertahan dan telantar di lepas pantai Dammam, Arab Saudi, tanpa kepastian operasional.
Pusat AI dan Finansial Dalam Bahaya
Pengusaha dan komentator global, Mario Nawfal, menegaskan bahwa kerentanan infrastruktur digital di Timur Tengah sangat nyata.
Kabel-kabel di dasar laut tersebut menopang lalu lintas data krusial untuk pusat kecerdasan buatan (AI) di Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi yang didukung oleh Amazon, Microsoft, hingga Google.
“Jika kabel-kabel ini putus, proses pemulihannya akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan hitungan jam,” ujar Nawfal memperingatkan.
Analis intelijen independen, SungHoon Lee, menambahkan bahwa ancaman sabotase fisik kini bergerak sangat cepat menjadi kenyataan pahit yang harus diantisipasi oleh koalisi maritim internasional.
Ekonomi Digital di Perairan Dangkal
Di dasar Laut Merah dan Selat Hormuz, terdapat sekitar 17 hingga 20 sistem kabel utama, termasuk jaringan AAE-1 dan SEA-ME-WE 5.
Beberapa titik kabel ini berada di perairan dangkal, sehingga menjadi sasaran empuk bagi sabotase fisik. Armada militer Iran diduga dapat menggunakan kapal selam kelas Kilo untuk memutus jalur komunikasi tersebut.
Sabotase ini tidak hanya akan memperlambat akses media sosial, tetapi juga melumpuhkan sistem transaksi antarbank (SWIFT), layanan cloud, hingga operasional bisnis digital di Asia.
Negara dengan konsumsi data raksasa seperti India diprediksi akan menjadi korban paling terdampak.
Tanpa perlindungan ekstra, infrastruktur bawah laut ini tetap menjadi titik paling rapuh dalam perang asimetris modern di Timur Tengah.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

