Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

CEO BlackRock Ingatkan Resesi Global Jika Harga Minyak Tembus US$150 Per Barel

Desain tanpa judul - 2026-03-26T114941.064
CEO BlackRock, Larry Fink saat menjadi narasumber di acara Internasional (Dok: Istimewa).

Jurnalis:

Kabar Baru, New York – CEO BlackRock, Larry Fink, melayangkan peringatan keras mengenai potensi resesi global yang parah jika harga minyak dunia melonjak hingga angka US$150 per barel.

Ancaman krisis ekonomi ini mencuat seiring memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang terus mengganggu stabilitas pasokan energi internasional.

Dalam wawancara terbaru dengan BBC, Fink menegaskan bahwa situasi global saat ini berada pada dua titik ekstrem yang sangat menentukan.

Skenario pertama adalah meredanya konflik yang memungkinkan Iran kembali ke perdagangan global sehingga harga energi stabil.

Namun, skenario kedua jauh lebih gelap jika ketegangan terus berlanjut tanpa kepastian.

Harga Minyak dan Jalur Selat Hormuz

Fink menjelaskan bahwa jika Iran tetap menjadi ancaman di kawasan tersebut, harga minyak berpotensi tertahan di level tinggi, yakni antara US$100 hingga mendekati US$150 per barel dalam jangka panjang.

Kondisi ini akan memicu guncangan ekonomi yang sangat tajam bagi banyak negara di dunia.

“Implikasi harga minyak US$40 adalah tentang pertumbuhan, sedangkan skenario lainnya adalah akibat dari resesi yang mungkin parah dan tajam,” tegas Larry Fink dikutip Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Kamis (26/03/2026).

Saat ini, gangguan distribusi di jalur vital seperti Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga minyak mentah Brent ke kisaran US$103 per barel.

Dampak Nyata di Tingkat Konsumen

Lonjakan harga energi kini mulai menghantam kantong konsumen secara langsung. Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata sudah menyentuh angka US$3,98 per galon, naik lebih dari satu dolar dibandingkan bulan sebelumnya.

Pemerintah AS pun terpaksa mengambil langkah darurat, mulai dari memanfaatkan cadangan strategis hingga melonggarkan sanksi minyak terhadap sejumlah negara.

Keresahan senada juga datang dari sektor penerbangan. CEO United Airlines, Scott Kirby, memperingatkan bahwa tingginya harga energi kemungkinan besar akan bertahan hingga tahun depan.

Kirby menilai pemulihan stabilitas di Timur Tengah memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga pelaku industri harus bersiap menghadapi biaya operasional yang membengkak.

Maskapai Pangkas Jadwal Penerbangan

Sebagai langkah antisipasi menghadapi tsunami biaya energi, sejumlah maskapai besar berencana mengurangi frekuensi penerbangan mereka.

Strategi ini diambil guna meredam dampak kerugian akibat lonjakan harga avtur yang tidak terkendali.

“Kami akan mengurangi sedikit penerbangan daripada biasanya, namun tetap bersiap untuk skenario harga minyak tinggi dalam jangka panjang,” ungkap Kirby.

Situasi ini menunjukkan bahwa krisis energi di Timur Tengah tidak hanya mengancam sektor transportasi, tetapi juga berpotensi melumpuhkan daya beli masyarakat secara global.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store