Dari Barisan Upacara, Lailatul Awliya Kini Percaya Diri Menaklukkan Panggung

Jurnalis: Khotibul Umam
Kabar Baru, Bangkalan – Mikrofon yang kini digenggam Lailatul Awliya menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menemukan potensi diri. Berawal dari komandan pleton saat SMA, perempuan asal pelosok Sampang itu kini mulai menapaki dunia master of ceremony (MC).
Mahasiswi Ilmu Hukum Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tersebut tidak mendapatkan semuanya secara instan. Keberanian mencoba, pengalaman organisasi, dan kesediaan menerima pekerjaan tanpa bayaran menjadi bagian dari proses yang membawanya ke berbagai panggung acara.
Awliya lahir pada 25 Maret 2008 dan dibesarkan di Dusun Taming, Desa Noreh, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang. Meski berasal dari wilayah yang jauh dari pusat perkotaan, kondisi itu tidak pernah menjadi alasan baginya untuk membatasi cita-cita.
“Saya dari pelosok, benar-benar pelosok. Tetapi saya tidak pernah berkecil hati kalau harus bersaing dengan anak-anak kota,” ungkapnya, Senin (2/11/2026).
Jauh sebelum mengenal profesi MC, Awliya sudah terbiasa tampil di depan banyak orang. Saat duduk di bangku SMA, dia kerap mendapat kepercayaan menjadi komandan pleton dalam kegiatan upacara karena memiliki suara lantang dan keberanian memimpin.
Kesempatan berbeda muncul ketika mengikuti Jambore Cabang (Jamcab) Pramuka di Sampang. Di tengah kegiatan yang dihadiri hampir seribu peserta, dia mendapat kesempatan menjadi pembawa acara dalam pentas seni.
Pengalaman itu menjadi awal ketertarikannya terhadap dunia MC. Kemampuan yang sebelumnya digunakan untuk memberikan aba-aba kepada barisan perlahan berkembang menjadi keterampilan mengendalikan jalannya sebuah acara.
Ketika memasuki bangku perkuliahan di UTM, kesempatan tersebut semakin terbuka. Tawaran pertama banyak datang dari kegiatan organisasi kampus, meski saat itu dia belum memperoleh bayaran sebagaimana MC profesional.
Namun, Awliya tidak menjadikan honor sebagai ukuran untuk menerima pekerjaan. Dia memilih mengumpulkan pengalaman sekaligus membangun kepercayaan orang terhadap kemampuannya.
“Meski awalnya hanya dibayar terima kasih, tidak masalah. Saya ambil kesempatan itu untuk mencari nama dan pengalaman,” tuturnya.
Setiap kesempatan kemudian dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan. Dokumentasi penampilannya diunggah ke media sosial sehingga semakin banyak orang mengetahui kemampuannya. Dari sana, tawaran menjadi MC mulai berdatangan.
Penghasilan pertamanya diperoleh saat dipercaya membawakan acara di lingkungan fakultas. Setelah itu, dia mulai mendapat kesempatan tampil dalam kegiatan yang lebih beragam, termasuk sejumlah agenda partai politik seperti Gerindra, PDI Perjuangan, dan PKB.
Pengalaman magang di DPR juga memberinya ruang untuk memperluas relasi. Bagi Awliya, setiap panggung memiliki nilai tersendiri karena mempertemukannya dengan orang baru sekaligus mengasah kemampuan berkomunikasi.
Di tengah aktivitas tersebut, dia tetap berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan pendidikan. Kini duduk di semester lima, Awliya memilih tidak mengambil tawaran MC apabila jadwalnya berbenturan dengan perkuliahan.
“Kalau bentrok dengan jadwal kuliah, saya tidak ambil. Kuliah tetap menjadi prioritas,” tegasnya.
Aktivitasnya di dunia kampus juga cukup padat. Dia tercatat aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UTM, dan HMK Pemerintahan. Dia juga pernah menjadi Wakil Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sampang (HIMASA).
Kemampuan berbicara di depan publik tidak hanya membawanya ke panggung hiburan dan kegiatan formal. Awliya juga mengukir prestasi melalui sejumlah kompetisi debat dan orasi tingkat nasional.
Di antaranya Juara II Debat Konstitusi Civic Law Scientific Fair Universitas Pendidikan Ganesha Bali serta Juara I Orasi Nasional Bhakti Pendidikan STKIP PGRI Bangkalan.
Dia juga meraih Juara III Orasi Nasional Wiraksi 2026 Universitas Wiraraja dan Juara I Debat Bahasa Indonesia Nasional Univest Universitas Annuqayyah. Sementara di bidang pengembangan diri, dia pernah menyandang gelar Winner Miss Kopri UTM 2024–2025 dan Juara II Duta Genre Kabupaten Sampang.
Berbagai pencapaian itu menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi Awliya tidak hanya dibangun melalui pengalaman menjadi MC. Keberaniannya beradu gagasan, menyampaikan pendapat, dan terlibat dalam organisasi turut membentuk kepercayaan dirinya.
Kini, setiap kali berdiri di hadapan audiens, dia tidak sekadar membacakan susunan acara. Ada proses panjang yang membuatnya belajar memahami karakter orang, menjaga kepercayaan, serta menyesuaikan diri dengan suasana kegiatan.
Perempuan yang dahulu lebih dikenal dengan penampilan tomboy dan tugas memimpin barisan upacara itu pun menemukan jalannya sendiri. Dari sebuah dusun di Sampang, dia membuktikan bahwa keterbatasan tempat asal bukan penghalang untuk memperluas kesempatan.
“Dulu saya tomboy, sekarang malah sering menjadi MC. Tidak pernah menyangka perjalanan saya bisa sampai di titik ini,” pungkasnya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
WahGenz
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
