Kepala Sekolah Ditantang Bawa Perubahan Nyata, Ini Pesan Kadisdik Jabar

Jurnalis: Deni Aping
Kabar Baru, Bandung – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat, Purwanto, menegaskan pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) harus memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan dan kualitas pembelajaran di sekolah. Ia meminta setiap kepala sekolah tidak sekadar mengikuti pelatihan, tetapi mampu membawa gagasan dan aksi perubahan setelah kembali ke satuan pendidikan masing-masing.
Hal itu disampaikan Purwanto saat membuka Pelatihan BCKS Provinsi Jawa Barat di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat (21/8/2026).
Purwanto mengingatkan, pelatihan tidak boleh berhenti sebatas penambahan pengetahuan tanpa adanya implementasi di lapangan. Menurutnya, setiap kepala sekolah harus memiliki proyek perubahan yang jelas, terukur, dan dapat dirasakan manfaatnya oleh warga sekolah.
“Jangan sampai Bapak dan Ibu mengikuti pelatihan BCKS, pulang ke sekolah, kemudian semuanya berjalan seperti biasa tanpa perubahan. Setelah mengikuti pelatihan, harus ada proyek perubahan,” ujar Purwanto.
Ia mengatakan, kepala sekolah memiliki posisi strategis dalam menerjemahkan kebijakan pendidikan menjadi program dan praktik nyata di tingkat satuan pendidikan. Karena itu, pengalaman memimpin sekolah harus dipadukan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama mengikuti pelatihan.
“Pengetahuan jadi pengalaman, pengalaman jadi kesadaran, kesadaran jadi aksi,” katanya.
Pelatihan BCKS tersebut diikuti 416 peserta dari berbagai jenjang pendidikan. Rinciannya, empat peserta dari jenjang TK, 207 SD, 90 SMP, 68 SMA, 43 SMK, dan empat SLB.
Khusus peserta dari jenjang SMA, SMK, dan SLB, mereka sebelumnya telah diangkat sebagai kepala sekolah oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada 29 Oktober 2025. Penyerahan surat keputusan (SK) pengangkatan dan mutasi kepala sekolah dilaksanakan di Gedung Sate.
Dengan demikian, pelatihan BCKS menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas kepemimpinan, kompetensi, serta kemampuan manajerial para kepala sekolah yang telah menjalankan tugas di satuan pendidikan masing-masing.
Purwanto menekankan, keberhasilan seorang kepala sekolah tidak hanya dilihat dari tertibnya administrasi, tetapi juga dari perubahan yang terjadi di sekolah. Ia berharap setiap kepala sekolah mampu menghadirkan perbaikan yang dapat dilihat dan dirasakan oleh guru, peserta didik, maupun masyarakat.
“Selama menjadi kepala sekolah, harus ada perubahan yang dapat dilihat. Jangan sampai sekolah sekarang masih sama seperti ketika kita dulu bersekolah,” tegasnya.
Lebih lanjut, Purwanto meminta kepala sekolah terlibat aktif dalam memastikan kualitas proses pembelajaran. Kepala sekolah, kata dia, tidak cukup hanya menjalankan tugas administratif, tetapi harus memahami secara langsung bagaimana guru mengajar dan bagaimana peserta didik memperoleh pengalaman belajar.
“Guru-guru belajarnya seperti apa, proses pembelajarannya berjalan atau tidak. Kepala sekolah harus menguasai betul bagaimana pembelajaran itu berjalan,” ujarnya.
Menurutnya, kepala sekolah perlu membangun budaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan agar proses pembelajaran tidak berjalan secara rutin tanpa melihat kebutuhan peserta didik.
Selain proses pembelajaran, ia juga menyoroti pentingnya lingkungan sekolah sebagai bagian integral dari pendidikan karakter. Kebersihan, halaman sekolah, fasilitas, kantin, hingga kebiasaan sehari-hari harus mampu memberikan contoh dan stimulasi positif bagi peserta didik.
“Jadikan semua lingkungan satuan pendidikan yang terlihat oleh anak-anak itu menjadi kurikulum. Biar setiap hari anak-anak mendapat stimulasi nilai-nilai yang positif, baik kebersihan maupun pembiasaannya,” tuturnya.
Purwanto juga meminta pengelola sekolah memberikan perhatian serius terhadap kondisi kantin. Menurutnya, upaya membangun pola hidup sehat di kalangan peserta didik harus didukung dengan ketersediaan makanan dan minuman yang sehat di lingkungan sekolah.
“Setiap makanan dan minuman yang masuk ke kantin harus dikurasi. Minimal selama pembelajaran di sekolah, selama lima hari itu, anak-anak makan dan minumannya sehat,” katanya.
Ia berharap seluruh kepala sekolah menjadikan pelatihan BCKS sebagai momentum untuk memperkuat kepemimpinan sekaligus menghasilkan perubahan konkret di sekolah.
“Biar benar-benar harapan dari kementerian melalui BCKS ini tercapai. Jangan hanya ikut pelatihan, pulang ke sekolah, kemudian biasa-biasa saja,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Aman Suratman, menyambut positif pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, BCKS menjadi momentum untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan setelah sekitar 10 bulan menjalankan tugas sebagai kepala sekolah.
“Dengan adanya pelatihan ini, pengetahuan dan keterampilan kami akan semakin kuat, terutama dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan pekerjaan di lapangan,” kata Aman.
Ia berharap bekal yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan untuk mendorong transformasi di sekolah yang dipimpinnya.
“Tentu ada harapan dan semangat yang lebih besar setelah menyelesaikan pelatihan ini untuk melakukan transformasi dan perubahan-perubahan di sekolah yang saya pimpin,” ujarnya.
Pelatihan tersebut turut dihadiri Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Iwan Junaedi, jajaran Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Disdik Jabar, jajaran BBGTK Jawa Barat, serta panitia Pelatihan BCKS.***
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
