Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Warga Sironjang Makin Waspada, Edukasi Literasi Digital Cegah Penipuan Online

Pemaparan Materi oleh Josh
Pemaparan Materi oleh Josh (Sumber: Dokumentasi Pribadi).

Jurnalis:

Kabar Baru, Sironjang, Semarang – Perkembangan teknologi digital telah memberikan berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam berkomunikasi, berbelanja, melakukan transaksi keuangan, dan memperoleh informasi.

Namun, kemudahan tersebut juga diikuti oleh meningkatnya risiko penipuan online yang dapat merugikan masyarakat, baik melalui pencurian data pribadi, pengambilalihan akun, maupun kehilangan uang.

Penipuan online dapat terjadi melalui berbagai media, seperti WhatsApp, SMS, telepon, media sosial, marketplace, dan aplikasi keuangan.

Pelaku juga menggunakan beragam modus, mulai dari mengaku sebagai petugas bank atau instansi pemerintah, menawarkan hadiah dan pekerjaan, mengirim tautan palsu, hingga mengirimkan file aplikasi berbahaya yang disamarkan sebagai undangan pernikahan, resi paket, surat tilang, atau tagihan.

Sebagai bentuk kontribusi kepada masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II IDBU-38 Sironjang Universitas Diponegoro 2026 melaksanakan program kerja monodisiplin bertajuk “Edukasi Literasi Digital Pencegahan Penipuan Online dan Keamanan Digital bagi Masyarakat Dusun Sironjang.”

Program ini berupa sosialisasi interaktif yang ditujukan kepada kelompok Ibu PKK RT 01 Dusun Sironjang. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai bentuk penipuan online sekaligus memberikan panduan praktis mengenai langkah pencegahan, cara menanggapi pesan atau panggilan mencurigakan, serta tindakan yang harus dilakukan apabila sudah terlanjur menjadi korban.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya menumbuhkan pemahaman bahwa keamanan digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan telepon pintar atau aplikasi, tetapi juga dengan kebiasaan untuk berpikir kritis, menjaga kerahasiaan data, dan memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil tindakan.

Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan program diawali dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk penipuan online yang pernah diterima, dialami, atau diketahui oleh masyarakat sekitar Dusun Sironjang.

Tahap ini dilakukan untuk mengetahui modus penipuan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga sehingga materi yang disampaikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi masyarakat setempat.

Informasi yang diperoleh kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyusun materi sosialisasi. Mahasiswa juga mengumpulkan referensi dari sumber resmi dan tepercaya mengenai pencegahan penipuan online, perlindungan data dan akun, serta langkah penanganan ketika seseorang sudah terlanjur mengeklik tautan, memasang aplikasi mencurigakan, memberikan kode rahasia, atau mentransfer uang kepada pelaku.

Setelah proses identifikasi dan pengumpulan referensi selesai, mahasiswa menyusun materi edukasi dalam bentuk presentasi yang sederhana, visual, dan mudah dipahami.

Materi dilengkapi dengan data mengenai penipuan online di Indonesia, contoh pesan mencurigakan, tangkapan layar berbagai modus penipuan, serta panduan praktis untuk melindungi akun dan perangkat digital.

Selain menyusun materi presentasi, mahasiswa membuat poster edukasi bertema “Ingat 3J: Jangan Panik, Jangan Klik, dan Jangan Kasih.”

Poster tersebut dirancang secara ringkas agar dapat menjadi media pengingat bagi masyarakat dalam menghadapi pesan atau panggilan yang mencurigakan.

Tahap terakhir adalah pelaksanaan sosialisasi secara tatap muka kepada Ibu PKK RT 01 Dusun Sironjang.

Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan melibatkan peserta melalui pertanyaan pembuka, diskusi, contoh kasus, dan pembahasan pesan yang mengatasnamakan bank, kurir, kepolisian, penyedia dompet digital, maupun instansi lainnya.

Mengenali Modus Penipuan yang Dekat dengan Masyarakat

Dalam kegiatan sosialisasi, peserta diperkenalkan dengan berbagai modus penipuan online yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa di antaranya adalah telepon palsu yang mengatasnamakan bank atau instansi resmi, pesan WhatsApp yang menggunakan nama dan logo lembaga tertentu, tautan hadiah atau bantuan, penawaran pekerjaan dengan keuntungan tidak wajar, serta transaksi jual beli online palsu.

Peserta juga diberikan penjelasan mengenai modus pengiriman file berformat APK melalui WhatsApp. File tersebut biasanya disamarkan sebagai undangan pernikahan, informasi paket, surat tilang, tagihan listrik, atau foto barang.

Apabila dipasang pada perangkat, aplikasi yang tidak dikenal tersebut berpotensi meminta akses terhadap data dan fungsi tertentu pada telepon seluler pengguna.

Mahasiswa menjelaskan bahwa modus penipuan dapat berubah dan berkembang, tetapi pola yang digunakan pelaku cenderung serupa.

Penipu berusaha membuat korban merasa panik, takut, senang, penasaran, atau terburu-buru. Kondisi emosional tersebut dimanfaatkan agar korban tidak memiliki cukup waktu untuk memeriksa kebenaran pesan.

Sebagai contoh, pelaku dapat memberikan informasi bahwa rekening korban akan segera diblokir, terdapat transaksi mencurigakan, paket tidak dapat dikirim, atau korban memenangkan hadiah.

Pesan tersebut kemudian diikuti dengan permintaan untuk mengeklik tautan, memasang aplikasi, mengirimkan data, memberikan kode verifikasi, atau mentransfer sejumlah uang.

Melalui penjelasan tersebut, peserta diajak untuk tidak hanya menilai pesan dari nama akun, logo, foto profil, atau gaya bahasa yang digunakan.

Pesan yang terlihat resmi tetap perlu diperiksa apabila berisi permintaan yang tidak wajar atau mendesak penerima untuk segera bertindak.

Penipu Memanfaatkan Emosi dan Kondisi Terburu-buru

Salah satu materi utama yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah cara pelaku memanfaatkan emosi korban.

Penipu tidak selalu menyerang sistem atau perangkat secara langsung, tetapi sering kali memanipulasi pengguna agar secara sukarela memberikan informasi atau melakukan tindakan tertentu.

Peserta diberikan pemahaman mengenai rumus sederhana bahwa penipuan sering menggabungkan emosi dengan kondisi terburu-buru.

Pelaku dapat menggunakan rasa takut dengan mengatakan rekening akan diblokir, menciptakan kepanikan melalui pemberitahuan transaksi mencurigakan, membangkitkan rasa senang melalui hadiah, atau memanfaatkan rasa kasihan dengan mengaku sebagai keluarga yang membutuhkan uang.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, peserta diperkenalkan dengan prinsip STOP, yaitu:

  • Stop dulu dan jangan langsung mengambil tindakan;
  • Teliti pesan yang diterima;
  • Observasi pengirim, tautan, file, dan permintaannya; serta
  • Pastikan melalui sumber resmi yang dicari secara mandiri.

Prinsip tersebut mengajarkan masyarakat agar tidak langsung percaya pada informasi yang diterima melalui pesan atau panggilan.

Apabila ragu, masyarakat disarankan membuka aplikasi resmi, mengunjungi situs resmi, menggunakan nomor yang tercantum pada kanal resmi, atau datang langsung ke kantor layanan terkait.

Ingat 3J: Jangan Panik, Jangan Klik, dan Jangan Kasih

Untuk mempermudah peserta dalam mengingat langkah dasar ketika menerima pesan mencurigakan, mahasiswa memperkenalkan prinsip 3J, yaitu Jangan Panik, Jangan Klik, dan Jangan Kasih.

Jangan Panik berarti masyarakat perlu menghentikan tindakan sejenak ketika menerima pesan yang menakutkan, mendesak, atau menawarkan sesuatu yang terlalu menguntungkan.

Penipu menginginkan korban bertindak cepat tanpa berpikir sehingga ketenangan menjadi perlindungan pertama dalam menghadapi penipuan.

Jangan Klik berarti masyarakat tidak boleh langsung membuka tautan, mengunduh file, atau memasang aplikasi yang dikirim oleh nomor tidak dikenal.

Informasi mengenai hadiah, bantuan, paket, tagihan, maupun pemblokiran akun perlu diverifikasi melalui aplikasi dan kanal resmi.

Sementara itu, Jangan Kasih berarti masyarakat tidak boleh menyebutkan, mengirimkan, memfoto, atau meneruskan OTP, PIN, password, CVV/CVC, dan kode verifikasi kepada siapa pun.

Kode tersebut merupakan informasi rahasia yang berfungsi sebagai kunci keamanan akun dan transaksi.

Peserta juga diberikan penjelasan bahwa terdapat perbedaan antara memasukkan kode secara mandiri ke dalam aplikasi resmi dan memberikan kode tersebut kepada orang lain.

PIN atau OTP dapat digunakan sendiri oleh pemilik akun pada aplikasi atau halaman transaksi yang sah, tetapi tidak boleh diberikan melalui telepon, WhatsApp, SMS, email, maupun media sosial.

Langkah Preventif untuk Meningkatkan Keamanan Digital

Selain mengenali modus penipuan, peserta memperoleh edukasi mengenai beberapa langkah preventif untuk mengurangi risiko menjadi korban.

Masyarakat dianjurkan untuk tidak menyebarkan nomor telepon dan informasi pribadi secara sembarangan melalui media sosial terbuka, komentar publik, kuis, undian, atau formulir dari sumber yang tidak jelas.

Peserta juga disarankan membatasi pihak yang dapat melihat foto profil, informasi akun, dan status WhatsApp.

Pengaturan privasi dapat digunakan untuk mengurangi informasi yang tersedia bagi orang tidak dikenal dan membatasi pihak yang dapat memasukkan pengguna ke dalam grup.

Langkah lain yang disampaikan adalah mengaktifkan verifikasi dua langkah pada WhatsApp dan akun penting lainnya. Perlindungan tambahan tersebut dapat mempersulit pelaku mengambil alih akun meskipun telah memperoleh kode verifikasi awal.

Masyarakat juga diingatkan untuk memasang aplikasi hanya melalui toko aplikasi resmi, memperbarui sistem dan aplikasi secara berkala, menggunakan kunci layar pada telepon, serta menghindari penggunaan satu password yang sama untuk seluruh akun.

Mahasiswa menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut tidak dapat menjamin seseorang tidak akan pernah menerima pesan atau panggilan dari penipu.

Namun, penerapannya dapat mengurangi informasi yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku dan memperkecil kemungkinan penipu berhasil mengambil alih akun atau memperoleh data rahasia.

Cara Menanggapi Pesan dan Panggilan Mencurigakan

Dalam sosialisasi, peserta diberikan panduan praktis mengenai cara merespons ketika dihubungi oleh pihak yang diduga sebagai penipu.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah tetap tenang dan tidak memberikan informasi tambahan kepada penelepon atau pengirim pesan.

Peserta dianjurkan untuk segera menghentikan percakapan apabila pihak tersebut meminta OTP, PIN, password, transfer uang, instalasi aplikasi, atau akses ke mobile banking.

Masyarakat tidak perlu berdebat, memaki, maupun mencoba menjebak pelaku karena semakin lama percakapan berlangsung, semakin banyak kesempatan bagi pelaku untuk memengaruhi korban.

Setelah percakapan dihentikan, informasi perlu diperiksa melalui kanal resmi yang dicari secara mandiri. Masyarakat tidak disarankan menggunakan nomor telepon atau tautan yang diberikan oleh pihak mencurigakan.

Apabila pesan mengatasnamakan bank, peserta disarankan membuka aplikasi resmi, menggunakan nomor layanan yang tercantum pada situs atau bagian belakang kartu, atau datang langsung ke kantor bank.

Peserta juga diberikan contoh jawaban sederhana yang dapat digunakan untuk mengakhiri percakapan, yaitu:

“Maaf, saya tidak memberikan OTP, PIN, atau password. Saya akan memeriksa langsung melalui aplikasi atau kanal resmi.”

Setelah itu, nomor atau akun yang mencurigakan dapat diblokir dan dilaporkan melalui fitur yang tersedia pada WhatsApp, media sosial, marketplace, atau platform digital terkait.

Tindakan Cepat Jika Sudah Terlanjur

Kegiatan ini tidak hanya membahas cara mencegah penipuan, tetapi juga memberikan panduan apabila peserta sudah terlanjur melakukan tindakan yang berisiko.

Mahasiswa menekankan bahwa masyarakat tidak perlu malu ataupun menutupi kejadian tersebut. Tindakan cepat dibutuhkan untuk membatasi kemungkinan kerugian.

Apabila baru membalas pesan, masyarakat disarankan segera menghentikan percakapan, tidak memberikan informasi tambahan, serta memblokir dan melaporkan nomor tersebut.

Apabila sudah mengeklik tautan tetapi belum mengisi data, halaman perlu segera ditutup. Jika pengguna telah memasukkan password, password tersebut harus segera diganti melalui aplikasi atau situs resmi.

Pengguna juga dianjurkan memeriksa aktivitas akun dan perangkat yang masih terhubung.

Apabila sudah memasang file APK mencurigakan, koneksi internet perlu segera dimatikan dengan menonaktifkan data seluler dan Wi-Fi.

Pengguna sebaiknya tidak membuka mobile banking, segera menghapus aplikasi mencurigakan, menghubungi bank, dan mengganti password melalui perangkat lain yang dinilai aman.

Jika OTP, PIN, password, atau kode keamanan sudah diberikan, masyarakat perlu segera menghubungi bank atau penyedia layanan untuk memblokir rekening, kartu, atau akun yang terancam.

Sementara itu, apabila sudah mentransfer uang, korban perlu menghubungi bank sesegera mungkin serta menyimpan bukti transfer, nomor rekening pelaku, nomor telepon, tautan, dan tangkapan layar percakapan.

Peserta juga diingatkan untuk tidak menghapus percakapan sebelum seluruh bukti disimpan. Dokumentasi tersebut dapat membantu proses pelaporan kepada bank, platform digital, maupun pihak berwenang.

Poster sebagai Media Edukasi Berkelanjutan

Sebagai luaran kegiatan, mahasiswa membuat poster edukasi pencegahan penipuan online yang memuat prinsip 3J: Jangan Panik, Jangan Klik, dan Jangan Kasih.

Poster dirancang menggunakan kombinasi tulisan singkat, warna yang mudah terlihat, dan ilustrasi sederhana agar pesan dapat dipahami oleh masyarakat dari berbagai kelompok usia.

Poster juga mencantumkan informasi mengenai data yang tidak boleh diberikan kepada orang lain, seperti OTP, PIN, password, CVV/CVC, dan kode verifikasi.

Selain itu, terdapat petunjuk singkat mengenai tindakan yang perlu dilakukan apabila masyarakat sudah terlanjur mengeklik tautan, memasang aplikasi mencurigakan, atau mentransfer uang.

Media tersebut diharapkan dapat dipasang pada lokasi yang mudah dilihat oleh masyarakat Dusun Sironjang sehingga pesan mengenai keamanan digital tidak hanya diterima pada saat sosialisasi, tetapi dapat terus diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui keberadaan poster, masyarakat juga diharapkan dapat membagikan informasi kepada anggota keluarga yang tidak mengikuti kegiatan secara langsung, terutama kepada pengguna telepon seluler yang masih belum terbiasa memeriksa pesan, tautan, atau aplikasi mencurigakan.

Membangun Kebiasaan Digital yang Lebih Aman

Melalui program monodisiplin “Edukasi Literasi Digital Pencegahan Penipuan Online dan Keamanan Digital bagi Masyarakat Dusun Sironjang,” mahasiswa KKN berharap masyarakat semakin mampu mengenali ciri-ciri penipuan dan mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi mencurigakan.

Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk menilai informasi secara kritis, menjaga keamanan akun, melindungi data dan kode rahasia, serta mengetahui ke mana harus mencari bantuan ketika mengalami masalah.

Ke depan, masyarakat diharapkan tidak langsung percaya pada pesan hanya karena menggunakan nama, logo, atau foto profil resmi. Informasi yang mendesak, menakutkan, atau menawarkan keuntungan tidak wajar perlu diperiksa terlebih dahulu melalui kanal resmi.

Masyarakat juga diharapkan tidak menyalahkan atau mempermalukan korban penipuan. Pelaku sengaja menggunakan teknik manipulasi agar korban merasa panik dan terburu-buru.

Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat diperlukan agar korban berani segera melapor dan mengambil langkah untuk mengamankan akun maupun keuangannya.

Melalui sinergi antara masyarakat, perangkat lingkungan, keluarga, dan mahasiswa KKN, Dusun Sironjang diharapkan mampu membangun lingkungan digital yang lebih aman dan tanggap terhadap ancaman penipuan online.

Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong terbentuknya kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan setiap hari.

Dengan demikian, prinsip “Jangan Panik, Jangan Klik, dan Jangan Kasih” diharapkan menjadi pengingat bersama bahwa keamanan digital dimulai dari ketenangan, ketelitian, dan keberanian untuk memeriksa kebenaran sebelum bertindak.

Penulis: Josh Frederich Irawady – Mahasiswa Peserta KKN Tim II IDBU-38 Sironjang Universitas Diponegoro 2026

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store