Tren Makanan Viral di Media Sosial: Antara Inovasi Pangan dan Risiko Keamanan Konsumsi

Jurnalis: Hanum Aprilia
Kabar Baru, Opini – Fenomena makanan viral di media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, terutama di kalangan generasi muda.
Berbagai produk pangan seperti dessert kekinian, minuman berwarna mencolok, hingga makanan pedas ekstrem dengan cepat menarik perhatian publik melalui platform digital.
Di satu sisi, tren ini mendorong inovasi dalam industri pangan, namun di sisi lain juga memunculkan kekhawatiran terkait keamanan dan nilai gizi yang sering kali diabaikan.
Perilaku konsumsi makanan viral banyak dipengaruhi oleh fenomena fear of missing out (FOMO). Sebuah survei menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna media sosial terdorong untuk mencoba makanan yang sedang tren tanpa mempertimbangkan aspek kesehatan dan keamanan pangan (Detik, 2024).
Hal ini menunjukkan bahwa keputusan konsumsi lebih didasarkan pada popularitas dibandingkan pertimbangan ilmiah, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan.
Fenomena makanan viral di media sosial tidak hanya bersifat sementara, tetapi menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam pola konsumsi masyarakat.
Data menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis dalam kemasan di Indonesia terus meningkat, di mana lebih dari 50% masyarakat mengonsumsi minuman berpemanis setiap hari (World Health Organization, 2026).
Selain itu, berdasarkan laporan industri pangan, penjualan minuman kekinian seperti boba dan minuman berwarna mengalami peningkatan pesat sejak tahun 2019 seiring dengan pertumbuhan platform digital dan layanan pesan antar makanan (Statista, 2023).
Salah satu contoh nyata adalah maraknya konsumsi minuman kekinian dengan tampilan warna menarik dan kandungan gula tinggi. Konsumsi gula berlebih secara terus-menerus dapat menyebabkan obesitas, resistensi insulin, hingga Diabetes Mellitus Tipe 2.
Organisasi World Health Organization (WHO) merekomendasikan konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10% total energi harian, namun dalam praktiknya satu porsi minuman viral sering kali telah melebihi batas tersebut (WHO, 2015). Selain itu, asupan gula berlebih juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit metabolik lainnya.
Selain gula, tren makanan viral juga identik dengan makanan tinggi natrium seperti seblak, mie instan, dan jajanan pedas. Konsumsi natrium berlebih dapat menyebabkan Hipertensi, serta meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan ginjal.
WHO merekomendasikan batas konsumsi natrium kurang dari 2.000 mg per hari, namun banyak makanan instan dan jajanan viral yang mendekati atau bahkan melampaui angka tersebut dalam satu porsi (WHO, 2012).
Tren serupa juga terlihat pada konsumsi makanan tinggi natrium seperti mie instan dan jajanan pedas. Indonesia merupakan salah satu negara dengan konsumsi mie instan tertinggi di dunia, dengan jumlah konsumsi mencapai lebih dari 14 miliar porsi per tahun (World Instant Noodles Association, 2024). Angka ini menunjukkan adanya peningkatan konsumsi pangan praktis yang tinggi garam dan lemak, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa.
Selain itu, data dari platform digital menunjukkan bahwa pencarian dan pembelian makanan viral seperti “seblak”, “dessert box”, dan minuman warna-warni meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir, terutama selama dan setelah pandemi COVID-19 (Google Trends Indonesia, 2023).
Hal ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola konsumsi masyarakat terhadap jenis makanan tertentu.
Di sisi lain, penggunaan pewarna dan bahan tambahan pangan pada makanan viral juga menjadi perhatian. Produk dengan warna mencolok sering kali menggunakan bahan tambahan untuk meningkatkan daya tarik visual.
Meskipun penggunaan bahan tambahan pangan diperbolehkan dalam batas tertentu, penggunaan yang berlebihan atau tidak sesuai standar dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti reaksi alergi dan gangguan pencernaan (BPOM, 2019).
Permasalahan ini semakin kompleks karena tidak semua pelaku usaha, khususnya skala kecil, memahami dan menerapkan standar keamanan pangan dengan baik.
Kasus yang sempat viral seperti “fried rice syndrome” akibat kontaminasi bakteri Bacillus cereus juga menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman terhadap penanganan pangan yang aman dapat berakibat fatal.
Hal ini menegaskan bahwa tren makanan tidak selalu sejalan dengan prinsip keamanan pangan yang seharusnya diterapkan dalam setiap proses produksi dan distribusi makanan.
Berdasarkan fenomena tersebut, dapat disimpulkan bahwa tren makanan viral tidak sepenuhnya mencerminkan inovasi pangan yang aman dan berkualitas.
Inovasi seharusnya tidak hanya berfokus pada tampilan dan popularitas, tetapi juga harus memenuhi prinsip keamanan pangan seperti Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP).
Sebagai solusi, diperlukan peran aktif berbagai pihak. Produsen perlu menerapkan standar keamanan pangan dan transparansi informasi gizi.
Konsumen harus lebih kritis dalam memilih makanan, tidak hanya berdasarkan tren, tetapi juga mempertimbangkan aspek kesehatan.
Sementara itu, akademisi dan mahasiswa teknologi pangan memiliki peran penting dalam mengembangkan inovasi produk yang tidak hanya menarik, tetapi juga aman dan bergizi.
Sebagai contoh penerapan yang baik, beberapa pelaku usaha mulai mengedepankan konsep healthy trend food dengan mengurangi kadar gula, garam, serta menggunakan bahan alami sebagai pewarna.
Dampaknya, produk tetap menarik secara visual, namun lebih aman dikonsumsi dan mampu meningkatkan kepercayaan konsumen.
Dengan demikian, tren makanan viral seharusnya dapat diarahkan menjadi peluang inovasi yang bertanggung jawab, bukan sekadar fenomena sesaat yang berisiko bagi kesehatan masyarakat.
Penulis: Luthfiyyah Rif’atil Izzah Dinar Cantika Ade Hartono
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

