Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Green Curtain Perkuat Pangan dan Eduwisata Pesisir Olele

20260817_185440
Pelatihan Green Curtain dan Taman Pangan Agro-Maritim bersama masyarakat Olele dalam Program PPBW 2026.| Foto: Dokumentasi Tim PPBW Olele 2026.

Jurnalis:

Kabar baru, Gorontalo–Masyarakat Desa Olele, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, mengikuti pelatihan pemberdayaan melalui Taman Pangan Agro-Maritim dan penerapan prototipe Green Curtain berbahan ijuk pada 26 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Berbasis Wilayah dengan fokus kemaritiman yang mengembangkan inovasi lingkungan, pangan keluarga, dan eduwisata di kawasan Geosite Taman Laut Olele, Geopark Gorontalo.

Pelatihan mengintegrasikan pembuatan jaring dari serat ijuk (Arenga pinnata), pemasangan Green Curtain, dan pemanfaatan panel sebagai struktur rambat tanaman produktif. Tanaman yang saat ini diintegrasikan pada panel ijuk adalah sayur oyong. Pendekatan ini dirancang agar masyarakat tidak hanya menerima teknologi, tetapi memahami proses pembuatannya, mampu merawat tanaman, serta mengenal pemanfaatan hasil panen untuk kebutuhan pangan keluarga dan pengalaman wisata.

Belajar dari bahan lokal, menghasilkan fungsi baru

Kegiatan difokuskan pada pengenalan bahan ijuk, teknik pembuatan jaring, perakitan dan pemasangan Green Curtain, serta integrasi dengan tanaman oyong. Materi teknis Green Curtain disampaikan oleh Prof. Dr. rer. nat. Mohamad Jahja, S.Si., M.Si., bersama tenaga teknis yang mendampingi proses pembuatan dan pemasangan di lapangan. Sementara itu, pemanfaatan oyong sebagai bahan pangan diperkuat melalui sesi khusus yang menghadirkan narasumber bidang tata boga.

Jaring ijuk dipilih karena memanfaatkan bahan alam yang dekat dengan masyarakat dan dapat dikembangkan menjadi komponen teknologi tepat guna. Dalam program pemberdayaan, keterampilan ini mempunyai nilai lebih karena proses pembuatan jaring tidak berhenti pada latihan teknis. Jaring diarahkan menjadi bagian dari panel Green Curtain yang dapat digunakan sebagai media vegetasi, demonstrasi teknologi, dan sarana edukasi lingkungan di kawasan wisata.

Masyarakat terlibat langsung dalam praktik sehingga pelatihan berlangsung partisipatif. Keterlibatan tersebut memberi pengalaman nyata mulai dari mengenali bahan, melihat tahapan pembuatan jaring, memahami konstruksi Green Curtain, hingga menyiapkan tanaman yang akan tumbuh pada struktur rambat.

Green Curtain dipadukan dengan pangan keluarga

Salah satu pengembangan yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah pemanfaatan Green Curtain sebagai struktur rambat untuk tanaman produktif. Pada panel ijuk yang diterapkan di Olele, tanaman yang saat ini diintegrasikan adalah sayur oyong. Integrasi tersebut memberi fungsi tambahan pada Green Curtain: panel tidak hanya menjadi elemen hijau dan media edukasi, tetapi juga ruang tumbuh yang dapat menghasilkan bahan pangan bagi keluarga.

Pengenalan oyong menjadi bagian yang menarik perhatian peserta karena tanaman ini belum dikenal luas oleh masyarakat yang mengikuti kegiatan. Banyak peserta menyampaikan bahwa mereka sebelumnya tidak mengenal oyong dan belum mengetahui cara mengolahnya sebagai bahan makanan. Kondisi tersebut membuat sesi pengenalan tanaman dan pemanfaatannya mendapat respons yang sangat antusias dari masyarakat.

Antusiasme itu memperlihatkan bahwa integrasi tanaman produktif pada Green Curtain memerlukan pendampingan yang tidak berhenti pada proses menanam. Masyarakat juga perlu memperoleh pengetahuan tentang cara memilih, menyiapkan, mengolah, dan menyajikan hasil tanaman agar manfaat Green Curtain dapat dirasakan sampai pada tingkat rumah tangga dan berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman kuliner bagi wisatawan.

Oyong diperkenalkan dari panel hingga meja makan

Untuk memperkuat pemanfaatan hasil tanaman, kegiatan menghadirkan Krisna Anugrah, dosen bidang pariwisata dengan keahlian tata boga, sebagai narasumber pada sesi pengenalan, pengolahan, penyajian, dan kreasi menu berbahan oyong. Kehadiran narasumber ini menjembatani kegiatan dari tahap budidaya menuju pemanfaatan hasil, sehingga masyarakat dapat melihat oyong sebagai salah satu pilihan sumber pangan keluarga yang bergizi dan dapat diolah dalam bentuk sajian yang lebih beragam.

Materi tata boga diarahkan pada pengenalan karakter bahan, cara pengolahan yang mudah diterapkan di rumah, variasi penyajian, serta pengembangan tampilan menu yang lebih menarik. Bagi masyarakat, pembelajaran ini penting karena tanaman baru akan memiliki nilai guna apabila hasilnya dapat diterima dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Praktik penyajian juga memberi kesempatan kepada peserta untuk mengenal rasa, tekstur, dan kemungkinan kreasi menu oyong secara langsung.

Aspek penyajian untuk wisatawan turut diperkenalkan agar hasil tanaman Green Curtain tidak berhenti sebagai konsumsi rumah tangga. Dalam pengembangan eduwisata, menu berbahan oyong berpotensi menjadi bagian dari pengalaman yang menceritakan proses dari panel hijau, tanaman, panen, hingga penyajian pangan. O’oLanga dapat mengembangkan narasi pengalaman wisata tersebut, sedangkan masyarakat dan mitra lokal memperoleh ruang untuk mengembangkan sajian sesuai kesiapan usaha dan penerimaan pengunjung.

Tiga titik menjadi prototipe pembelajaran

Kegiatan menghasilkan tiga Green Curtain yang dibuat dan dipasang pada tiga titik yang telah ditentukan. Keberadaan prototipe tersebut penting karena menjadi sarana uji lapangan sekaligus ruang belajar bersama. Masyarakat dapat mengamati pertumbuhan tanaman, kondisi jaring, kebutuhan pemeliharaan, dan kemungkinan pengembangan desain sesuai karakter lokasi.

Tiga titik ini juga direncanakan terhubung dengan pengembangan informasi digital melalui kode QR. Tahap lanjutan tersebut akan memuat informasi edukatif mengenai Green Curtain, kawasan geosite, narasi lingkungan, dan pesan wisata bertanggung jawab. Dengan demikian, instalasi fisik tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari pengalaman interpretatif bagi masyarakat dan pengunjung.

Menguatkan dua mitra dalam satu rantai pemberdayaan

Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang memperkuat dua kelompok mitra di Desa Olele, yakni UMKM Bunga Desa dan Kelompok Usaha Wisata O’oLanga. Keduanya memiliki peran berbeda tetapi saling melengkapi dalam pengembangan ekosistem eduwisata berbasis masyarakat.

Bagi UMKM Bunga Desa, penguasaan pengolahan ijuk dan pembuatan jaring membuka peluang peningkatan kapasitas produksi serta diversifikasi produk. Keterampilan tersebut dapat dikembangkan menuju tali ijuk, jaring, panel Green Curtain, maupun produk kreatif lain yang mempunyai keterkaitan dengan narasi geosite dan wisata. Kehadiran tanaman produktif pada panel juga memperluas ruang pembelajaran masyarakat mengenai pemanfaatan hasil Green Curtain.

Sementara itu, O’oLanga diarahkan untuk mengembangkan layanan wisata bahari yang lebih edukatif. Green Curtain, tanaman oyong, media QR, dan cerita tentang pemanfaatan hasil tanaman dapat menjadi titik interpretasi yang memperkaya pengalaman wisatawan. Dalam pengembangan berikutnya, pengetahuan mengenai penyajian menu oyong dapat dihubungkan dengan pengalaman eduwisata sehingga wisatawan tidak hanya melihat teknologi, tetapi memahami hubungan antara lingkungan, pangan, keterampilan masyarakat, dan ekonomi lokal.

Kolaborasi masyarakat, mahasiswa, dan tim pengabdian

Pelaksanaan kegiatan melibatkan masyarakat Desa Olele, mitra program, karang taruna, mahasiswa KKN, tenaga teknis, dan tim pengabdian. Mahasiswa yang terlibat dalam program antara lain Juliana Rahma Ayu, Qhayradiva Islami Dama, Akmal Fauzi Lubis, dan Mohamad Brilian Bangki. Keterlibatan mahasiswa memperkuat pendampingan lapangan, termasuk pada aspek interpretasi geodiversity, pemasangan Green Curtain, pengelolaan UMKM, dan pemasaran digital.

Program dipimpin oleh Dr. Sc. Yayu Indriati Arifin, S.Pd., M.Si., dengan anggota tim Yuliyanty Kadir, Ninasafitri, dan Tri Handayani. Pola kerja partisipatif digunakan agar masyarakat dan mitra tidak ditempatkan sebagai penerima pasif, tetapi sebagai pihak yang ikut belajar, mencoba, merawat, dan menilai teknologi yang diterapkan.

Bagi Desa Olele, manfaat program diharapkan meluas di luar dua kelompok mitra. Peningkatan keterampilan produksi dapat membuka peluang usaha berbasis bahan lokal, pemanfaatan sayur oyong pada Green Curtain memperkenalkan alternatif pangan keluarga, sedangkan penguatan pengetahuan tata boga membuka wawasan tentang kreasi menu dan penyajian yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat maupun layanan wisata. Penguatan eduwisata pada akhirnya diharapkan mendorong perputaran ekonomi yang lebih luas di tingkat desa.

Dari prototipe menuju eduwisata yang berkelanjutan

Pemasangan tiga prototipe bukan menjadi akhir kegiatan. Tahap berikutnya diarahkan pada pemantauan kondisi Green Curtain, pemeliharaan tanaman, evaluasi pemanfaatan di setiap titik, serta pengembangan kode QR sebagai media informasi. Hasil pemantauan menjadi penting untuk memastikan teknologi sesuai dengan kondisi lapangan dan dapat dikelola oleh masyarakat.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan pesisir dapat dibangun melalui langkah yang sederhana namun saling terhubung: memanfaatkan bahan lokal, meningkatkan keterampilan membuat jaring, menghasilkan Green Curtain yang dapat dirawat, menanam oyong, mengenalkan cara mengolah dan menyajikannya, serta menghubungkan seluruh proses itu dengan pangan keluarga dan pengalaman wisata.

Melalui pendekatan ini, Olele tidak hanya dikembangkan sebagai tempat untuk menikmati wisata bahari. Kawasan juga diarahkan menjadi ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir dapat mengolah sumber daya lokal, menanam dan memanfaatkan pangan, menjaga lingkungan, membangun produk, dan menciptakan nilai ekonomi melalui eduwisata yang tumbuh bersama komunitas.***

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store