Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Harga Pertamax Naik 32 Persen, Mahasiswa UTM Soroti Dampak Ekonomi dan Daya Beli Rakyat Kian Tertekan

b28173ca-7b42-4916-a14f-9ee6b5e22b8b
Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Farhan Saros.

Jurnalis:

Kabar Baru, Madura – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter menuai sorotan dari berbagai kalangan. Lonjakan harga sebesar 32,1 persen tersebut dinilai bukan sekadar penyesuaian harga biasa, melainkan berpotensi memberikan tekanan serius terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Farhan Saros, menilai kenaikan yang terjadi dalam satu waktu tersebut terlalu drastis dan sulit diikuti oleh kemampuan ekonomi masyarakat.

“Masalahnya bukan Pertamax naik, tetapi mengapa kenaikannya langsung 32,1 persen dalam satu waktu. Tidak ada penghasilan masyarakat yang naik 32,1 persen dalam semalam, tetapi pengeluaran mereka dipaksa menyesuaikan secepat itu,” ujar Farhan.

Menurutnya, persoalan utama bukan hanya terletak pada besaran angka kenaikan, melainkan pada kebijakan yang dinilai hadir secara mendadak tanpa masa transisi yang cukup bagi masyarakat untuk melakukan penyesuaian pengeluaran.

Farhan mengakui bahwa Pertamax merupakan BBM non-subsidi yang harga jualnya mengikuti mekanisme pasar. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak seharusnya hanya mempertimbangkan aspek ekonomi semata, melainkan juga dampak sosial yang muncul akibat kebijakan tersebut.

“Negara tidak boleh hanya melihat persoalan dari sudut pandang formula ekonomi. Dampak sosial yang dirasakan masyarakat juga harus menjadi pertimbangan utama,” katanya.

Ia menilai kenaikan harga hingga lebih dari 30 persen mengirimkan pesan yang kurang baik kepada publik, terutama di tengah kondisi masyarakat yang masih berupaya memulihkan ekonomi pasca berbagai tekanan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir.

Farhan juga menyoroti dampak luas yang berpotensi dirasakan pengguna Pertamax di Indonesia. Berdasarkan data jumlah kendaraan bermotor yang mencapai sekitar 147 juta unit, serta estimasi pengguna Pertamax sebesar 15 hingga 20 persen dari total konsumen BBM bensin, jumlah masyarakat yang terdampak langsung diperkirakan mencapai puluhan juta orang.

Rinciannya, pengguna aktif Pertamax diperkirakan berkisar 20 hingga 30 juta orang, sementara pengguna Pertamax Green berada pada kisaran 3 hingga 5 juta orang. Dengan demikian, total masyarakat yang berpotensi terdampak langsung mencapai sekitar 25 hingga 35 juta jiwa.

Lebih lanjut, ia menilai masyarakat saat ini menjadi pihak yang paling merasakan konsekuensi dari kebijakan tersebut. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan strategis terkait energi mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat secara menyeluruh.

“Yang dipersoalkan masyarakat bukan hanya kenaikan harga, tetapi rasa keadilan. Ketika harga naik begitu cepat sementara peningkatan kesejahteraan berjalan lambat, publik akan melihat negara lebih responsif terhadap mekanisme pasar daripada terhadap kesulitan rakyat,” pungkasnya.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store