Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Beban Ganda Perempuan Pekerja Ancam Kesehatan Ibu dan Tumbuh Kembang Anak

WhatsApp Image 2026-05-10 at 14.16.24
Double Burden dan Kelelahan Kerja pada Perempuan: Ancaman bagi Kesehatan Maternal dan Anak.

Editor:

Kabar Baru, Opini – Perempuan saat ini memiliki peran yang semakin besar dalam dunia kerja. Di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, industri, hingga sektor informal, perempuan menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi keluarga maupun pembangunan nasional. Namun, di balik meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja, terdapat persoalan yang masih sering luput dari perhatian, yaitu double burden atau beban ganda yang dialami perempuan pekerja.

Double burden menggambarkan kondisi ketika perempuan harus menjalankan dua tanggung jawab sekaligus, yakni pekerjaan profesional di ruang publik dan pekerjaan domestik di rumah. Setelah menyelesaikan pekerjaan kantor atau pekerjaan lapangan, banyak perempuan masih harus mengurus rumah tangga, mengasuh anak, menyiapkan kebutuhan keluarga, hingga memenuhi berbagai tuntutan sosial lainnya. Kondisi ini membuat perempuan lebih rentan mengalami kelelahan fisik maupun mental dibandingkan pekerja laki-laki.

Fenomena tersebut bukan lagi sekadar persoalan individu, melainkan telah menjadi isu kesehatan masyarakat dan keselamatan kerja yang perlu mendapatkan perhatian serius. Dalam banyak kasus, perempuan bekerja bukan hanya karena pilihan, tetapi juga tuntutan ekonomi. Tingginya biaya hidup, kebutuhan pendidikan anak, hingga tekanan ekonomi keluarga membuat banyak ibu harus tetap bekerja meskipun kondisi fisik dan mentalnya tidak sepenuhnya siap.

Di Indonesia, persoalan ini semakin relevan karena sebagian besar perempuan masih dibebani ekspektasi sosial sebagai penanggung jawab utama urusan domestik. Akibatnya, meskipun perempuan memiliki pekerjaan penuh waktu, tanggung jawab rumah tangga sering kali tidak berkurang. Situasi inilah yang kemudian memicu kelelahan berkepanjangan atau work fatigue pada perempuan pekerja.

Kelelahan kerja yang dialami perempuan sebenarnya tidak boleh dianggap sepele. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan maternal atau kesehatan ibu secara keseluruhan. Ibu yang mengalami tekanan kerja berlebihan lebih rentan mengalami stres, gangguan tidur, kecemasan, penurunan daya tahan tubuh, bahkan burnout. Pada ibu hamil, tekanan fisik dan psikologis yang tinggi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kehamilan, kelelahan kronis, hingga masalah kesehatan lainnya.

Sayangnya, persoalan kesehatan mental dan kelelahan pada ibu bekerja masih sering dipandang sebagai hal biasa. Banyak perempuan dianggap harus mampu menjalankan semua peran secara sempurna tanpa mengeluh. Padahal, tuntutan tersebut justru dapat menciptakan tekanan sosial yang berat dan berdampak pada kualitas hidup perempuan.

Dampak double burden tidak hanya dirasakan oleh ibu, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Ketika ibu mengalami kelelahan berlebihan, kualitas pengasuhan anak dapat terganggu. Waktu istirahat yang minim, stres berkepanjangan, dan tekanan pekerjaan dapat mengurangi kualitas interaksi ibu dengan anak, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan emosional maupun nutrisi anak.

Pada masa awal kehidupan, anak sangat membutuhkan perhatian, pengasuhan, dan pemantauan kesehatan yang optimal. Namun, ketika ibu mengalami kelelahan berkepanjangan, risiko terjadinya pola makan yang tidak teratur, kurangnya pemantauan tumbuh kembang anak, hingga menurunnya keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental anak.

Fenomena ini menjadi semakin kompleks karena tidak semua tempat kerja memiliki sistem yang mendukung kesehatan ibu bekerja. Masih banyak perempuan yang bekerja dengan jam kerja panjang, target tinggi, minim fleksibilitas, dan kurangnya fasilitas pendukung seperti ruang laktasi maupun kebijakan ramah keluarga. Bahkan di sektor informal, sebagian perempuan bekerja tanpa perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja yang memadai.

Ironisnya, masyarakat sering kali hanya menuntut perempuan untuk tetap produktif tanpa benar-benar menyediakan sistem pendukung yang memadai. Perempuan diharapkan sukses dalam pekerjaan sekaligus sempurna dalam mengurus keluarga. Standar sosial semacam ini justru dapat memperbesar tekanan psikologis pada perempuan pekerja. Perempuan sering dituntut produktif di tempat kerja sekaligus sempurna di rumah.

Apabila kondisi tersebut terus diabaikan, maka dampaknya bukan hanya dirasakan individu, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas generasi masa depan. Anak yang tumbuh dalam kondisi pengasuhan yang penuh tekanan berisiko mengalami gangguan kesehatan, perkembangan emosional, hingga kualitas tumbuh kembang yang kurang optimal. Dalam konteks yang lebih luas, persoalan ini berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Karena itu, diperlukan perubahan cara pandang bahwa pengasuhan anak dan kesehatan keluarga bukan hanya tanggung jawab perempuan semata. Dukungan keluarga, lingkungan kerja, dan kebijakan pemerintah sangat diperlukan untuk mengurangi beban ganda perempuan. Tempat kerja perlu mulai membangun budaya kerja yang lebih ramah keluarga melalui fleksibilitas kerja, perlindungan maternitas, penyediaan fasilitas laktasi, serta perhatian terhadap kesehatan mental pekerja perempuan.

Selain itu, pembagian peran domestik yang lebih setara dalam keluarga juga menjadi bagian penting dalam mengurangi double burden. Perempuan tidak seharusnya memikul seluruh tanggung jawab rumah tangga sendirian, terutama ketika mereka juga memiliki tanggung jawab profesional.

Pada akhirnya, persoalan double burden pada perempuan pekerja bukan hanya isu gender, melainkan isu kesehatan masyarakat, kesejahteraan keluarga, dan pembangunan manusia. Selama perempuan terus dipaksa menanggung dua beban besar tanpa dukungan yang memadai, maka risiko kelelahan kerja dan dampaknya terhadap kesehatan maternal maupun anak akan terus meningkat. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan kerja dan lingkungan sosial yang lebih mendukung perempuan bukan hanya kebutuhan, tetapi juga investasi penting bagi masa depan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.

Penulis : Yolandika Natan, Mahasiswa Magister Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Universitas Hasanuddin.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store