Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Ketika Algoritma Video Pendek Menghancurkan Kedalaman Berpikir

IMG-20260510-WA0004
Farah Fadhilah, Teknik Kimia, Universitas Mulawarman.

Editor:

Kabar Baru, Opini – Pernahkah kita menyadari betapa jari kita jauh lebih aktif daripada sel di dalam kotak kita ketika memegang ponsel?

Bayangkan sebuah ruang kelas sunyi, namun bukan karena mahasiswa yang sedang sibuk membaca buku, melainkan karena mereka sedang fokus pada ponsel masing-masing, menggulir tampilan konten digital tanpa henti di media sosial.

Fenomena ini bukan sekedar masalah hiburan di waktu luang, melainkan sebuah tragedi intelektual yang nyata. Kita berada dalam pusaran “Generasi Instan”, dimana rentang perhatian manusia merosot lebih rendah dari sebelumnya.

Pertanyaannya, apakah kita bertambah pintar dengan limpahan informasi yang secepat ini, atau justru kita sedang kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis?

Melihat kembali secara kronologis, krisis literasi ini tidak terjadi dalam semalam. Pada masa awal dunia akademik tradisional, literasi mahasiswa dibangun dengan pondasi yang lebih lambat.

Memahami teori atau isu sosial berarti harus menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, membaca halaman demi halaman buku tebal, dan mengikuti alur argumen peneliti yang kompleks.

Pada masa sekarang, informasi adalah sesuatu yang harus dicari dan diolah melalui proses kognitif yang panjang namun menguatkan logika. Literasi saat itu adalah soal kedalaman, bukan kecepatan seperti masa sekarang.

Masuk ke era awal milenium, pergeseran ini mulai terasa seiring munculnya media sosial berbasis teks, video, foto yang serba ringkas. Informasi dipangkas menjadi potongan-potongan kecil guna lebih efisien.

Kita mulai diperkenalkan dengan budaya membaca cepat atau skimming. Fase tersebut membuat mahasiswa mulai lebih memilih ringkasan atau abstrak daripada membaca buku secara utuh. Fokus mereka mulai terbagi antara bacaan fisik dengan notifikasi di layar ponsel yang terus berbunyi. Kemampuan deep reading mulai tergeser oleh budaya serba ringkas “ingin serba tahu tapi tidak mau repot”.

Puncaknya terjadi pada dekade ini, dimana video pendek berdurasi 15 hingga 60 detik seperti Instagram Reels dan Tiktok menjadi sumber pengetahuan utama bagi generasi muda. Informasi bukan lagi dibaca melalui buku atau koran yang dulu selalu digunakan menjadi media informasi utama, melainkan ditonton secara pasif dalam media sosial.

Menurut psikologis, setiap kali kita menggeser layar dan menemukan video pendek baru yang menghibur, otak kita mendapatkan suntikan dopamin instan, inilah yang menciptakan kecanduan menonton video pendek di media sosial.

Masalahnya, durasi 15 detik tidak akan pernah cukup untuk menjelaskan kompleksitas sebuah masalah sosial, ekonomi, atau sains. Kita hanya disuapi kulit sebuah informasi tanpa pernah menyentuh substansinya.

Mahasiswa adalah salah satu yang terkena dampak nyata nya dan sangat mengkhawatirkan, banyak dari mereka yang kini merasa cukup dengan belajar melalui media sosial lewat potongan video singkat dan infografis sederhana. Kita menjadi generasi yang kaya akan informasi permukaan, namun miskin dalam analisis mendalam.

Berdasarkan riset literasi digital dari berbagai lembaga nasional, Indonesia memang mengalami kenaikan dalam akses teknologi, namun berbanding terbalik dengan kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi tersebut. Akibatnya, kita menjadi sangat rentan terhadap hoaks dan disinformasi.

Kita mudah terprovokasi oleh judul yang bombastis atau video yang diedit secara emosional tanpa pernah mau meluangkan waktu untuk melakukan kroscek data secara ilmiah.

Algoritma media sosial menciptakan apa yang disebut sebagai echo chamber atau ruang gema. Kita hanya disuguhi konten yang sesuai dengan apa yang kita sukai, sehingga kita kehilangan kemampuan untuk melihat perspektif lain yang berbeda atau kontra dengan pemikiran kita.

Mahasiswa, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam berpikir objektif dan terbuka, kini justru banyak yang terjebak dalam pemikiran sempit akibat suapan algoritma. Ini adalah ancaman serius bagi demokrasi dan kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan.

Jika nalar kritis mahasiswa sudah tumpul oleh hiburan instan, lantas siapa lagi yang akan memberikan solusi bagi masalah bangsa yang semakin kompleks?

Sebagai mahasiswa, kita harus menyadari bahwa teknologi seharusnya menjadi alat yang memperluas cakrawala, bukan justru menjadi penjara bagi daya pikir kita. Kita perlu melakukan “detoks digital” secara sadar dan mulai melatih kembali otot-otot fokus kita yang sudah lama melemah.

Menutup aplikasi video pendek dan kembali membuka jurnal ilmiah atau buku referensi bukan berarti kita tertinggal zaman, melainkan sebuah tindakan heroik untuk merebut kembali kedaulatan atas pikiran kita sendiri.

Kesimpulannya, intelektualitas tidak pernah bisa dibangun dari durasi lima belas detik. Ilmu pengetahuan membutuhkan waktu, kesabaran, dan refleksi yang mendalam.

Mari kita buktikan bahwa gelar sarjana yang kita perjuangkan bukan sekadar hasil dari ketikan algoritma atau tontonan singkat di layar ponsel, melainkan hasil dari ketajaman analisis dan luasnya wawasan yang kita gali sendiri. Jangan biarkan jarimu lebih pintar dari otakmu.

Referensi:

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). (2022). Status Literasi Digital di Indonesia 2022: Hasil Survei Nasional.
Nasrullah, R. (2021). Manajemen Komunikasi Digital: Prinsip, Teori, dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Nurjanah, S., dkk. (2023). “Pengaruh Konsumsi Video Pendek Terhadap Kemampuan Fokus dan Literasi Kritis Mahasiswa.” Jurnal Komunikasi dan Media.
Sutarno, NS. (2021). Perpustakaan dan Masyarakat di Era Digital. Jakarta: Sagung Seto. Juditha, C. (2020). “Interaksi Komunikasi di Media Sosial dan Hoaks.” Jurnal Komunikasi.

Penulis:  Farah Fadhilah, Teknik Kimia, Universitas Mulawarman

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store