Doktrin Gila Kim Jong Un, Sebut Prajurit Bunuh Diri di Medan Perang Sebagai Pahlawan

Jurnalis: Hanum Aprilia
Kabar Baru, Pyongyang – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, memberikan pujian terbuka bagi tentara-tentaranya melakukan aksi bunuh diri saat bertempur melawan pasukan Ukraina di wilayah Kursk, Rusia.
Kim melontarkan pernyataan mengejutkan ini dalam pidato peresmian monumen penghormatan bagi militer Korea Utara.
Ia menyebut para prajurit tersebut sebagai pahlawan sejati karena memilih hancur daripada menyerah kepada musuh.
Korea Utara dilaporkan telah mengirimkan sekitar 14.000 personel militer guna membantu Rusia dalam konflik bersenjata tersebut.
Berdasarkan laporan intelijen Korea Selatan dan Barat, pasukan Pyongyang menderita kerugian besar dengan estimasi korban tewas mencapai lebih dari 6.000 jiwa.
Angka kematian tinggi ini menunjukkan betapa sengitnya pertempuran terjadi di garis depan wilayah Kursk.
Meledakkan Diri Daripada Jadi Tawanan
Berbagai bukti dan kesaksian pembelot menunjukkan fenomena mengerikan di medan tempur. Banyak tentara Korea Utara memilih meledakkan diri sendiri menggunakan granat atau cara bunuh diri lainnya agar tidak jatuh ke tangan pasukan Ukraina.
Kim Jong Un secara resmi mengakui tindakan tersebut sebagai bentuk pembelaan terhadap kehormatan besar negara dan partai.
“Mereka tanpa ragu memilih jalan penghancuran diri untuk membela kehormatan,” ujar Kim melalui media pemerintah KCNA dan dikutip Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Kamis (30/04/2026).
Ia juga melabeli tentara selamat namun merasa gagal menjalankan tugas sebagai patriot setia. Bagi Kim, pengorbanan nyawa di medan perang merupakan bukti loyalitas tertinggi bagi rezim Korea Utara saat ini.
Bantuan Teknologi Militer Sebagai Imbalan
Keterlibatan militer Pyongyang dalam perang Rusia-Ukraina bukan tanpa alasan strategis. Sebagai imbalan atas kiriman pasukan serta amunisi, Rusia memberikan bantuan ekonomi besar kepada Korea Utara.
Selain itu, Moskow juga memasok teknologi militer canggih guna memperkuat sistem pertahanan serta program senjata Pyongyang sedang berkembang pesat.
Langkah berani Kim Jong Un mengirimkan ribuan nyawa ke medan perang asing terus memicu kecaman internasional.
Negara-negara Barat menilai aliansi militer Rusia dan Korea Utara ini mengancam stabilitas keamanan global secara luas.
Namun, Kim tampaknya tetap teguh pada keputusannya demi mendapatkan akses teknologi militer Rusia serta memperkuat posisi politiknya di kancah dunia.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

