Papua, Biak, dan Bayang-Bayang Perang Global di Indo-Pasifik

Jurnalis: Latief
Kabar Baru, Opini – Sejarah sering kali tidak benar-benar berlalu. Ia berputar, kembali ke porosnya, dan hadir dengan wajah yang berbeda.
Pepatah lama mengatakan, sejarah akan mengulang dirinya sendiri. Ketika kita menengok Papua hari ini, bayang-bayang itu terasa nyata.
Pada Perang Dunia II, kawasan Pasifik menjadi medan tempur utama antara Sekutu dan Jepang.
Papua khususnya Biak, Jayapura, Sorong, hingga Sausapor—menjadi saksi bisu sejarah kelam peperangan global.
Tanah ini pernah menjadi pangkalan, jalur logistik, dan arena pertempuran yang menentukan arah perang dunia.
Kini, eskalasi geopolitik di kawasan Indo-Pasifik kembali meningkat.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok tidak lagi sekadar persaingan dagang, melainkan telah menjelma menjadi perang dingin modern yang berorientasi pada dominasi ekonomi, teknologi, dan militer.
Peningkatan alutsista, perluasan pangkalan, serta penguatan sistem pertahanan terus digencarkan di kawasan Pasifik, termasuk di wilayah Indonesia.
Posisi Indonesia yang diapit Laut Cina Selatan dan kawasan Indo-Pasifik menempatkannya dalam pusaran geopolitik pertahanan dan keamanan global.
Kondisi ini memaksa Indonesia untuk bersiap, baik secara diplomatik maupun militer, menghadapi kemungkinan terburuk dari konflik terbuka kekuatan besar dunia.
Lantas, mengapa Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok melirik Papua?
Jawabannya sederhana namun krusial: kalkulasi strategis.
Dari sudut pandang militer, Papua khususnya Biak memiliki posisi yang sangat efektif dan efisien untuk mobilisasi kekuatan laut dan udara.
Letaknya yang strategis menjadikan Papua titik penting dalam skema pertahanan dan serangan apabila perang besar benar-benar meletus di kawasan Pasifik.
Selama ini, perebutan ruang ekonomi antara Amerika dan Tiongkok berjalan senyap. Namun sejarah mengajarkan bahwa konflik laten suatu saat bisa berubah menjadi konflik terbuka.
Ketegangan Amerika Serikat dan Iran menjadi contoh bahwa percikan kecil dapat membesar dalam waktu singkat. Bukan tidak mungkin skenario serupa terjadi di Asia Pasifik.
Karena itu, konsolidasi kekuatan militer menjadi agenda yang terus disiapkan negara-negara besar.
Kita bisa meminjam istilah klasik dalam teori realis: Si vis pacem, para bellum jika engkau mendambakan perdamaian, bersiaplah menghadapi perang.
Di sinilah ironi Papua terasa paling pahit. Kekayaan alam yang melimpah dan posisi geografis yang strategis menjadi berkah sekaligus malapetaka.
Papua tidak pernah benar-benar memilih peran itu, tetapi sejarah dan geopolitik memaksakannya.
Seperti ungkapan dalam bahasa daerah:
“Dorang punya masalah datang perang di kita pu rumah.”
Lagu legendaris Black Brothers pernah mengingatkan:
Tahun ke-40, Jerman mulai angkat perang,
Mulainya dari Eropa sampai ke New Guinea.
Lirik itu bukan sekadar lagu, melainkan alarm sejarah.
Sio, kasihan Papua. Jangan sampai kembali binasa dan menjadi korban.
*) Senator asal Papua Barat Daya Agustinus R. Kambuaya (ARK) Alumni Ilmu Hubungan Internasional, UPN Yogyakarta
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kabarbaru.co
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

