Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Refleksi 17 Agustus: Masih Ingatkah Kita dengan Cita-Cita Pendiri Bangsa

Penulis adalah Moh. Khoiruddin, pegiat Akademi Milenial Basmi Hoaks (MBH) Jatim. Foto : Dok. istimewa.
Penulis adalah Moh. Khoiruddin, pegiat Akademi Milenial Basmi Hoaks (MBH) Jatim. Foto : Dok. istimewa..

Editor:

“Walaupun tuan-tuan halangi dengan bom dan dinamit dan meriam yang berasal dari Amerika dan Inggris kita akan tetap Merdeka “ Soekarno.

Indonesia merupakan negeri jajahan yang memerah darah dan taruh nyawa dalam memperjuangkannya. Karena pada saat itu negeri ini masih dalam genggaman penjajah, keadaan rakyat waktu itu masih dalam penindasan bagsa asing, yang setiap saat mendapat tekanan lantaran itu kemiskinan dan penderitaan ada dimana-mana, karena ketidakadilan bangsa penjajah.

Tidak adanya keadilan dan kebebasan itu, mereka mengorbankan nyawa untuk mengambil hak-hak yang telah dirampas, mereka tidak ingin anak cucunya hidup dalam tekanan dan penindasan bangsa asing.

17 Agustus 1945 adalah hadiah istimewa dari Tuhan untuk bangsa ini. Berkat perjuangan dan jihad, sukses merebut negerinya sendiri tanpa mengenal lelah dan nyerah, sehingga Indonesia dengan bebas dan leluasa mengibarkan bendera merah putih setiap saat, terlebih di bulan agustus bendera menjadi pelangi di sekujur tubuh Indonesia memberikan warna dan bahagia tersendiri untuk kami penduduk negeri.

Namun dewasa ini ada PR cukup serius yang harus kita tuntaskan melihat realita dan fakta sudah tidak sejalan dan hampir beda arah dengan cita-cita pendiri bangsa.

77 Th kita merdeka, namun ketimpangan kerap kali hadir melahirkan penindasan dan kemiskinan. Hal ini terjadi lantaran keadilan hanya sebuah setruktur dan kata yang tidak memberikan mana dan manfaat pada rakyat. Bahkan sering kali ‘adil’ hanya singgah pada mereka yang beruang dan memiliki jabatan. Semua ini terjadi karena kurangnya penegak hukum, “kemanusian yang adil dan beradap” hanya untaian kata yang selalu terlintas di bibir namun mana yang tersirat didalamnya tak mampu dilahirkan menjadi pegangan hidup.

Perlu kita tegaskan bahwa yang banyak menyengsarakan rakyat adalah para pejabat, para pejabat korup yang hobi mencuri uang negara dan akhirnya rakyatlah yang kena imbas dari perbuatan keji ini, anehnya sering kali orang-orang seperti itu tidak diberi ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya, hal ini bukan saja menghianati amanah yang diberikan rakyat, tetapi menghianati cita-cita para pendiri bagsa. Dahulu mereka berjuang mati-matian mengusir penjajah demi menghilangkan ketimpangan dan kemiskinan.

Hal ini memang sudah disamikan langsung oleh Bung Karno “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Berbicara hukum dan adil itu mutlak berada diranah seorang pengaku kebijakan (pemimpin), maka hemat saya, perlu revitalisasi mindset tentang bagaimana melihat dan memilih seorang pemimpin.

Baru-baru ini pemimpin yang ideal direduksi sebagai sosok yang berpenampilan sederhana bar baju polos dan tidak memakai baju yang mewah secara mutif dan merek, dan yang terbaru lagi pemimpin ideal adalah ia yang berambut putih dan memiliki kerutan di wajah. Mirisnya statement ini disampaikan oleh kepala negara yang seharusnya memberi edukasi positif berwawasan keilmuan, bukan sesuatu yang konyol dan tidak berfaidah, seakan butuh pemimpin yang serius untuk mengurus negeri yang sudah lucu.

Islam memberikan pelajaran yang sagat berharga bagi ummatnya, ia memberikan pesan bagaimana menentukan pemimpin yang ideal seperti 4 sifat wajib bagi rasul: siddiq, amanah, tablig, dan fatanah. Seorang pemimpin wajib memiliki empat sifat ini, ia harus jujur dengan segala kebijakan yang akan ia pegang, perkataan, perbuatan, dan integritas ini sagat penting mengingat bagsa ini sudah cukup banyak orang pintar tapi kerisis orang jujur. Kedua amanah, ia harus dipercaya karena ia menjadi publik figur yang akan menjadi contoh bagi banyak orang, ia akan dicontoh dari segala ucapan maupun tindakan.

Ketiga tablig, yang bermakna menyampaikan. Seorang pemimpin harus cakap dalam berbicara mampu berargumen dan membangun gagasan yang baik di depan rakyatnya, memberikan energi positif dari kata dan bahasa yang ia ungkapkan. Sehingga banyak orang termotivasi darinya. Terakhir fatanah. Yang bermakna pintar atau pandai, seorang pemimpin harus cerdas dan bijaksana untuk memahami segala problem yang hadir dalam masyarakat sekaligus dalam upaya mencari solusi dari setiap masalah yang ia temukan. Antara, etikabilitas, integritas, intelektualitas, dan elektabilitas harus menjelma dalam sosok seorang pemimpin, dari situlah ia menjadi ciri-ciri pemimpin yang ideal.

Mewujudkan cita-cita pendiri bangsa memang tidak mudah, namun setidaknya kita berusaha dengan cara memilih orang yang tepat dalam memangku kebijakan, dengan memilih pemimpin dengan kecakapan intelektual nasional maupun internasional, berpihak pada rakyat, dan bersifat siddiq, amanah, tablig, fatanah, dari itu semua keadilan dan kesejahtraan akan hadir ditengah bangsa ini. Sejalan dengan apa yang dicitakan para pendahulu bangsa Indonesia, dan pada dasarnya itulah makna dirayakannya 17 Agustus untuk mengenang dan merevitalisasi hakikat kemerdekaan 1945.

DIRGAHAYU INDONESIA 78

*) Penulis adalah Moh. Khoiruddin, pegiat Akademi Milenial Basmi Hoaks (MBH) Jatim.

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kabarbaru.co

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store