Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Kartini Perlu Berjuang Lagi

Penulis: Annisa Rahma Zein. (Foto: kibrispdr.org).

Editor:

KABARBARU, OPINI– Kartini bangun, dari tidur panjang setelah terakhir surat-suratnya beredar dan mampu melawan dinding tebal penjara yang “menyekap” perempuan.

Dilihatnya anak laki-laki dan perempuan berjalan sambil tertawa riang membawa tas dipundaknya, diikutinya kedua anak tersebut. Ternyata mereka menuju ke sebuah gedung dengan gerbang tinggi dimuka. Kartini memasuki ruangan yang berisikan papan tulis dan juga meja yang berbaris berurutan, “Oh Pendidikan sudah menjadi makanan rupanya”, syukurnya dalam hati.

Lalu dia berjalan keluar, tersadar bahwa perempuan tidak lagi jalan menunduk seakan menggendong batu besar dipundak, bahwa perempuan hari ini tidak lagi menyembunyikan suaranya seakan mereka gagu, bahwa perempuan hari ini bukan lagi “kaum nerimo” seperti pada zamannya waktu itu.

Senyum Kartini melebar. Tarikan nafas panjang dan rasa syukur secara alamiah keluar dari tubuhnya.

Buk. tiba tiba pundaknya ditabrak dari belakang. Oh ternyata seorang perempuan. “Maaf, maafkan saya” katanya. Belum juga Kartini membalas, tapi perempuan itu sudah meneruskan jalannya sambil menangis terisak-isak. Kartini heran dan merasa penasaran. Lagi lagi, sifat peka terhadap lingkungannya muncul. Dikejarnya perempuan tersebut.

“Ada apa kau menangis wahai Gadis Cantik?”

“Saya telah diperkosa. Saya tak lagi berharga. Keluarga saya pasti malu dan akan membuang saya. Saya tidak lagi suci. Saya hina”

“Badjingan!” Kartini geram dan marah.

Rupanya, walaupun pendidikan sudah menjadi makanan namun kebengisan dan kebiadaban belum juga punah. Ilmu pengetahuan tidak membuat mereka menjadi manusia berakal. Perkembangan zaman tidak membumihanguskan “perbudakan” perempuan.

Kartini kembali ke tempatnya, mencari sebuah buku dan menulis lah dia dengan penuh harapan perempuan tidak lagi menjadi objek pemuas kebiadaban, perempuan tidak lagi dihina dan dikucilkan perihal selaput diantara kedua paha kita, bahwa kehormatan perempuan harus selalu dijunjung tinggi, dimana pun, kapanpun, dan dengan siapapun.

Dengan sungguh sungguh Kartini menulis suratnya, sebab soal perempuan adalah soal masyarakat. Tidak mungkin suatu negeri akan maju, jika “tiang negeri” nya masih dianggap sebatas objek. Maka dalam tulisan ini, Kartini sadar bahwa Kartini perlu berjuang lagi.

 

*) Penulis adalah Annisa Rahma Zein, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Pancasila.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kabarbaru.co

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store