IPNU Scientific sebagai Paradigma Baru Intelektualisme Pelajar Nahdliyin

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Kolom – Setiap generasi menanggung pertanyaannya sendiri. Bagi pelajar Nahdliyin hari ini, pertanyaannya bukan lagi apakah tradisi pesantren masih relevan. Pertanyaannya adalah bagaimana tradisi itu bisa bercakap dengan bahasa zaman: bahasa data, metodologi, dan pembuktian. Di titik inilah gagasan IPNU Scientific menemukan urgensinya. Ia bukan jargon kampanye, melainkan tawaran paradigma.
Kegelisahan ini berpijak pada kenyataan empiris. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 mencatat skor pelajar Indonesia 366 untuk matematika, 359 untuk membaca, dan 383 untuk sains. Ketiganya tertinggal lebih dari seratus poin dari rata-rata negara OECD. Dari sisi hulu, belanja riset nasional (Gross Expenditure on R&D) baru sekitar 0,28 persen dari PDB menurut UNESCO, jauh di bawah Korea Selatan yang melampaui 4 persen. Padahal BPS mencatat jumlah pemuda Indonesia sekitar 64 juta jiwa, hampir seperempat penduduk. Bonus demografi tanpa budaya ilmiah hanyalah angka besar yang sedang menunggu giliran menjadi beban.
Thomas Kuhn, dalam The Structure of Scientific Revolutions (1962), menyebut paradigma sebagai kerangka bersama yang menentukan pertanyaan apa yang layak diajukan dan cara menjawabnya. Menurut Kuhn, paradigma bergeser ketika anomali menumpuk dan kerangka lama tak lagi memadai. Selama ini kaderisasi IPNU bertumpu pada paradigma ideologis-organisatoris, yaitu penanaman Ahlussunnah wal Jamaah, kepemimpinan, dan tata kelola organisasi. Fondasi itu tidak boleh roboh. Namun anomalinya kian tampak. Banyak kader fasih berorasi tetapi gagap ketika diminta menyusun argumen berbasis data. Mereka piawai mengelola acara, tetapi jarang menghasilkan tulisan yang bisa diuji dan dirujuk. IPNU Scientific menawarkan pergeseran dari kaderisasi retoris menuju kaderisasi riset.
Pergeseran ini tidak diimpor dari luar. Ia tumbuh dari rahim tradisi sendiri. Bahtsul masail adalah laboratorium epistemik khas NU masalah dirumuskan, dalil dihimpun, pendapat ulama diverifikasi, konteks ditimbang, lalu keputusan diambil secara kolektif. Dalam kerangka Mohammed Abed al-Jabiri, tradisi ini sangat kuat pada nalar bayani, yaitu nalar yang berpusat pada teks. IPNU Scientific mengajak pelajar memperluas cakrawala ke nalar burhani yang demonstratif, rasional, dan empiris, tanpa tercerabut dari akar bayani-nya. Sejarah menjadi saksi. Pada abad ke-11, Ibn al-Haytham melalui Kitab al-Manazir menegaskan bahwa setiap klaim harus diuji lewat eksperimen. Ia melakukannya berabad-abad sebelum Karl Popper merumuskan prinsip falsifikasi. Jadi integrasi iman dan sains bukan barang asing. Ia warisan yang lama terlupakan. Landasan normatifnya terang dalam kaidah yang akrab bagi kaum Nahdliyin:
Al-muhāfazhatu ‘alal qadīmish shālih wal akhdzu bil jadīdil ashlah
Merawat tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik
Yang dirawat adalah sanad keilmuan, adab, dan manhaj Aswaja. Yang diambil adalah metodologi riset, literasi data, dan budaya publikasi. Kaidah berikutnya mempertegas kewajiban itu:
Mā lā yatimmul wājibu illā bihī fahuwa wājib
Sesuatu yang menjadi syarat sempurnanya kewajiban, hukumnya juga wajib
Menuntut ilmu adalah kewajiban, dan kemaslahatan umat di era ini menuntut penguasaan sains. Karena itu, membangun ekosistem ilmiah bagi pelajar adalah keharusan, bukan pilihan.
Antonio Gramsci membedakan intelektual tradisional yang berjarak dari masyarakat dengan intelektual organik yang lahir dari kelasnya dan bekerja untuk kelas itu. IPNU tidak sedang mencetak ilmuwan menara gading. Yang hendak dilahirkan adalah intelektual organik: pelajar dari pesantren, madrasah, dan kampung yang kembali membawa jawaban atas persoalan komunitasnya, seperti stunting, angka putus sekolah, produktivitas pertanian desa, hingga literasi digital. Riset pelajar Nahdliyin semestinya dimulai dari halaman rumahnya sendiri.
Secara operasional, paradigma ini dapat ditopang tiga pilar. Pertama, Laboratorium Riset Pelajar di tingkat cabang yang menjadi ruang belajar metodologi sekaligus pusat kajian isu lokal. Kedua, jurnal dan repositori ilmiah pelajar Nahdliyin sebagai wadah publikasi sekaligus arsip gagasan. Ketiga, sekolah metodologi berjenjang yang terintegrasi dengan Makesta, Lakmud, dan Lakut, sehingga nalar ilmiah menjadi bagian dari jenjang kaderisasi, bukan pelengkap. Dengan begitu, motto Belajar, Berjuang, Bertakwa memperoleh tafsir baru: belajar dengan metodologi, berjuang dengan data, dan bertakwa dengan kejujuran ilmiah.
Pada akhirnya, kepemimpinan organisasi harus diukur dari maslahat yang dihasilkannya, sebagaimana kaidah:
Tasharruful imām ‘alar ra’iyyah manūthun bil mashlahah
)Kebijakan pemimpin atas rakyatnya harus berorientasi pada kemaslahatan(
IPNU lahir di Semarang pada 24 Februari 1954 dari tangan pelajar-santri yang berani berpikir melampaui zamannya. KH. M. Tolchah Mansoer, sang pendiri, kelak dikenal sebagai guru besar hukum Islam dan Tata Negara. Spirit itulah yang hendak dihidupkan kembali. Pelajar NU tidak cukup hanya mewarisi kitab. Mereka harus mampu menulis bab baru peradaban.
Penulis: Alfan Khairul Ichwan, Koordinator Kaderisasi PP IPNU.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
WahGenz
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
