Konferwil I PWNU Papua Barat Daya Perkuat Arah Organisasi Abad Kedua

Jurnalis: Latief
Kabar Baru, Sorong – Konferensi Wilayah (Konferwil) Ke-I Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua Barat Daya menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menentukan arah gerakan NU di provinsi tersebut memasuki abad kedua.
Konferwil yang mengusung tema “Bergerak, Berdayakan Umat Memasuki Abad Ke-2” itu digelar di Sekretariat PCNU Kabupaten Sorong, Selasa (12/8/2026).
Ketua Panitia Konferensi Wilayah (Konferwil) I PWNU Papua Barat Daya, Aryfudin, S.E., M.M., menyambut kedatangan seluruh pimpinan PCNU se-Papua Barat Daya serta peserta dan tamu undangan di Kabupaten Sorong.
Aryfudin mengatakan, Konferwil I menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi dan menentukan arah perjalanan Nahdlatul Ulama di Provinsi Papua Barat Daya.
Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti proses konferensi dengan mengedepankan musyawarah, ukhuwah, dan semangat kekeluargaan, sehingga forum tersebut menghasilkan keputusan terbaik bagi kemajuan organisasi, umat, bangsa, dan daerah.
Ketua PWNU Papua Barat Daya, KH Rofiul Amri, menegaskan Konferwil diharapkan mampu melahirkan kepengurusan yang solid dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kita berharap konferwil ini bisa menghasilkan kepengurusan yang solid, yang bisa memberikan manfaat untuk seluruh masyarakat di Provinsi Papua Barat Daya,” ujar Rofiul.
Menurutnya, Konferwil bukan sekadar forum memilih kepengurusan baru. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat gerakan NU agar semakin dekat dengan masyarakat.
Setelah Konferwil, Rofiul menyebut PWNU Papua Barat Daya akan melanjutkan konsolidasi melalui rapat kerja dan berbagai kegiatan penguatan kader.
“Terus bergerak, berkhidmat ke bawah. Semangat kita semua,” katanya.
PBNU: Konferwil Jadi Tahapan Penting Menuju Kepengurusan Definitif
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, H. Faisal Saimima, menilai Konferwil Ke-I memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari tahapan penataan organisasi NU di Papua Barat Daya.
Faisal menjelaskan, PWNU Papua Barat Daya merupakan hasil pemekaran dari PWNU Papua Barat. Sesuai aturan organisasi, kepengurusan hasil pemekaran terlebih dahulu menjalani masa percobaan selama dua tahun sebelum dapat ditetapkan secara definitif.
“Tidak bisa langsung kita definitifkan. Harus melalui tahapan masa percobaan, dan waktunya dua tahun,” jelas Faisal.
Karena masa percobaan tersebut telah memasuki akhir, Konferwil menjadi tahapan penting untuk menentukan kepengurusan sekaligus arah NU Papua Barat Daya ke depan.
Faisal juga mengapresiasi antusiasme PCNU, badan otonom serta dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Konferwil.
“Untuk Papua Barat Daya, alhamdulillah saya lihat antusiasmenya PCNU, kemudian badan otonom, apalagi dukungan dari pemerintah daerah. Ini merupakan harapan besar kami,” ujarnya.
Ia berharap kepengurusan yang lahir dari Konferwil mampu memperkuat organisasi hingga tingkat bawah dan memastikan NU hadir melalui kerja nyata, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Gubernur Dorong NU Jadi Mitra Pembangunan
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya mendorong NU untuk mengambil peran lebih besar sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan daerah.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan ESDM Papua Barat Daya, Suroso, saat membacakan sambutan Gubernur Papua Barat Daya dalam pembukaan Konferwil.
Gubernur menilai Konferwil pertama bukan hanya agenda internal organisasi, tetapi menjadi tonggak penting dalam memperkokoh khidmat NU di Papua Barat Daya.
“Konferensi ini tentu bukan sekadar agenda organisasi, melainkan tonggak sejarah baru dalam memperkokoh khidmat Nahdlatul Ulama di Tanah Papua, terlebih khusus di Provinsi Papua Barat Daya,” demikian sambutan Gubernur yang dibacakan Suroso.
Menurut Gubernur, Papua Barat Daya merupakan rumah besar bagi keberagaman. Karena itu, nilai toleransi, persaudaraan dan penghormatan terhadap adat serta agama menjadi modal penting dalam pembangunan daerah.
Pemerintah juga berharap NU tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi turut mengambil bagian dalam pembangunan manusia, pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, penguatan generasi muda dan pelestarian budaya.
“Bergerak bermakna proaktif, tidak menanti, melainkan hadir menjemput perubahan. Sementara berdaya mudah-mudahan bisa mewujudkan masyarakat yang mandiri secara ekonomi, cerdas secara intelektual, dan tangguh secara sosial,” ujarnya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Dinamikapost.com
Radar Baru
Seedbacklink
