Beban Kerja Berlebih Sebagai Risiko Operasional, Mengapa Perusahaan Perlu Waspada?

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Opini — Dalam dunia kerja, karyawan yang mampu menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu singkat sering dianggap sebagai karyawan yang paling produktif. Tuntutan ini membuat tidak sedikit pekerja membagikan pengalaman mereka mengenai target pekerjaan, tekanan penyelesaian tugas, hingga beban kerja yang menumpuk melalui berbagai platform media sosial. Di balik fenomena tersebut, tersimpan persoalan yang lebih serius bagi perusahaan, yaitu potensi risiko operasional yang muncul akibat beban kerja yang tidak dikelola dengan baik.
Fenomena mengenai beban kerja dan tuntutan produktivitas ini menjadi latar belakang observasi yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen, yaitu Dwinanda Marsya Tealova dan Nabilla Sifa Aulia, terhadap pandangan pekerja di kota-kota besar mengenai produktivitas kerja.Observasi tersebut menunjukkan bahwa sejumlah pekerja kerap dituntut menyelesaikan pekerjaan dalam jumlah besar dan waktu yang terbatas. Kondisi semacam ini, apabila terus berlangsung tanpa pengelolaan yang tepat, dapat menjadi salah satu pemicu risiko operasional di perusahaan.
Risiko operasional sendiri didefinisikan sebagai risiko kerugian yang timbul akibat ketidakcukupan atau kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, maupun akibat kejadian eksternal. Dari keempat sumber tersebut, faktor manusia menjadi salah satu penyebab risiko operasional yang paling sering muncul dalam aktivitas sehari-hari perusahaan. Karyawan yang bekerja melebihi kapasitas wajar, dikejar target dalam waktu sempit, dan mengalami kelelahan berkepanjangan lebih rentan melakukan kesalahan kerja (human error), menurunkan mutu hasil pekerjaan, hingga mengabaikan prosedur keselamatan kerja yang seharusnya dipatuhi.
Dalam manajemen operasional, produktivitas memang menjadi salah satu tolok ukur penting, namun mengejar produktivitas semata tanpa memperhitungkan batas kemampuan sumber daya manusia justru dapat membalikkan keadaan. Menurut Blocher, Chen, dan Lin (2000), produktivitas merupakan hubungan antara jumlah output yang dihasilkan dengan jumlah input yang dibutuhkan untuk menghasilkannya. Ketika input berupa tenaga kerja dipaksakan bekerja secara berlebihan demi mengejar output, kualitas hasil kerja dan konsistensi proses justru berpotensi menurun. Pada titik inilah upaya mengejar produktivitas dapat berubah menjadi sumber risiko operasional bagi perusahaan, alih-alih menjadi keunggulan.
Dampak dari risiko operasional yang bersumber dari beban kerja berlebihan tidak hanya dirasakan oleh perusahaan dalam bentuk kerugian finansial akibat kesalahan kerja atau produk yang tidak sesuai standar, tetapi juga berdampak pada karyawan itu sendiri, seperti kelelahan fisik dan mental, menurunnya motivasi kerja, hingga meningkatnya tingkat keluar-masuk karyawan (turnover). Kondisi ini pada akhirnya dapat mengganggu kelangsungan proses operasional perusahaan secara keseluruhan.
Untuk mengelola risiko operasional yang bersumber dari faktor manusia tersebut, perusahaan perlu menjalankan fungsi manajemen operasional secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penelaahan, hingga pengawasan. Perencanaan diperlukan untuk menentukan beban kerja, metode, serta waktu penyelesaian tugas yang realistis dan sesuai dengan kapasitas karyawan. Pengorganisasian berkaitan dengan penempatan dan pembagian sumber daya manusia secara proporsional, sedangkan penelaahan dan pengawasan dilakukan untuk memastikan proses kerja berjalan sesuai standar dan segera mengidentifikasi apabila muncul indikasi risiko, seperti penurunan kualitas hasil kerja atau meningkatnya kesalahan operasional.
Selain itu, identifikasi dan pengukuran risiko operasional secara berkala juga penting dilakukan, misalnya melalui evaluasi beban kerja, survei kondisi kerja karyawan, maupun pemantauan tingkat kesalahan dalam proses produksi atau pelayanan. Langkah mitigasi yang dapat diambil antara lain penjadwalan kerja yang lebih wajar, penyediaan waktu istirahat yang cukup, pelatihan manajemen waktu, serta penguatan standar operasional prosedur (SOP) agar proses kerja tetap terkendali meskipun target produktivitas tinggi.
Dengan demikian, produktivitas yang tinggi tidak boleh dikejar tanpa memperhatikan risiko operasional yang mengikutinya. Perusahaan perlu memandang beban kerja karyawan bukan hanya sebagai indikator produktivitas, tetapi juga sebagai salah satu sumber risiko operasional yang perlu diidentifikasi, diukur, dan dikelola secara berkelanjutan. Pada akhirnya, keseimbangan antara pencapaian target dan pengelolaan risiko operasional inilah yang akan menentukan keberlangsungan operasional perusahaan dalam jangka panjang.
Penulis adalah Dwinanda Marsya Tealova, Nabilla Sifa Aulia (Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen)
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
