Komika Wahyu Hidayat Bocorkan 7 Cara Bangun Personal Branding Jadi Kreator Komedi dari Nol

Jurnalis: Wafil M
Kabar Baru, Padang – Menjadi kreator komedi di media sosial bukan hanya tentang membuat orang tertawa. Di tengah banyaknya konten yang muncul setiap hari, seorang kreator juga perlu memiliki karakter yang membuat penonton mudah mengingat siapa dirinya.
Hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan Wahyu Hidayat atau yang dikenal dengan nama panggung Wahyooou. Sebelum dikenal sebagai kreator sketsa komedi dengan ratusan ribu pengikut di media sosial, pria kelahiran Padang, 20 Agustus 2000 ini lebih dulu mengasah kemampuan melalui panggung stand up comedy.
Wahyooou mulai terjun ke dunia stand up comedy pada 2016 melalui komunitas Standup Indo Padang. Dari sana, ia kemudian mengikuti sejumlah kompetisi dan meraih prestasi, di antaranya Piala Wali Kota Padang, Tagak Galak Season 2, serta Narasi TV Road to Padang.
Memasuki 2021, Wahyooou mulai aktif membuat konten sketsa komedi di TikTok dan Instagram. Kontennya sempat mengangkat cerita dosen dan mahasiswa, kemudian berkembang melalui berbagai eksperimen, termasuk parodi “Kareh Dinner”.
Kini, Wahyooou lebih dikenal lewat sketsa komedi yang mengangkat kehidupan sehari-hari, termasuk konten bersama perempuan. Akun TikTok @wahyooureal telah memiliki sekitar 503,8 ribu pengikut, sementara Instagram @wahyooou diikuti sekitar 132 ribu pengguna.
Dari perjalanan tersebut, Wahyooou membagikan tujuh hal yang menurutnya dapat diperhatikan oleh seseorang yang ingin membangun personal branding sebagai kreator komedi dari nol.
- Temukan Karakter yang Paling Nyaman Dibawakan
Menurut Wahyooou, personal branding tidak harus dibuat dengan memaksakan karakter tertentu. Justru kreator perlu menemukan gaya yang paling nyaman untuk dirinya sendiri.
“Menurut saya, pertama harus tahu dulu kita sebenarnya mau dikenal sebagai apa. Jangan karena melihat kreator lain ramai, terus kita ikut-ikutan gayanya,” ujar Wahyooou.
Ia mengatakan, karakter yang konsisten akan membuat penonton lebih mudah mengenali seorang kreator.
“Kalau kita memang suka komedi, ya coba cari gaya komedi yang cocok dengan kita. Bisa dari cara ngomong, ekspresi, karakter yang dimainkan, atau cara kita membuat cerita,” tuturnya.
Bagi Wahyooou, proses menemukan karakter tidak selalu langsung berhasil dalam satu atau dua video.
“Saya sendiri juga melewati proses. Dulu banyak membuat cerita dosen dan mahasiswa, kemudian mencoba konsep lain. Dari situ lama-lama kelihatan karakter mana yang paling cocok,” ungkapnya.
- Mulai dari Cerita yang Dekat dengan Kehidupan
Langkah berikutnya adalah memilih tema yang mudah dipahami penonton. Wahyooou sendiri banyak mengambil inspirasi dari kejadian sehari-hari.
“Kalau baru mulai, menurut saya enggak perlu berpikir terlalu jauh. Lihat saja kehidupan sekitar. Apa yang kita alami, apa yang teman kita alami, itu bisa menjadi ide,” katanya.
Menurutnya, cerita yang sederhana justru memiliki peluang membuat penonton merasa relate.
“Misalnya cerita hubungan cowok dan cewek, pertemanan, kehidupan kampus, atau percakapan sehari-hari. Hal-hal seperti itu sebenarnya banyak yang bisa dijadikan bahan komedi,” jelasnya.
Ia menambahkan, ketika penonton merasa pernah mengalami situasi yang sama, mereka biasanya lebih mudah terhubung dengan konten.
“Kalau orang sampai bilang, ‘Ini gue banget’, berarti ceritanya sudah berhasil masuk ke pengalaman mereka,” ujarnya.
- Jangan Takut Memulai dengan Peralatan Sederhana
Bagi kreator pemula, keterbatasan peralatan sering menjadi alasan untuk menunda membuat konten. Wahyooou justru menyarankan agar proses dimulai dengan apa yang sudah dimiliki.
“Menurut saya jangan menunggu semuanya sempurna. Kalau punya handphone, ya mulai dari handphone. Yang penting kita belajar membuat konten dulu,” kata Wahyooou.
Ia menilai kualitas memang penting, tetapi kemampuan membuat cerita dan menyampaikan karakter juga tidak kalah menentukan.
“Kalau kameranya bagus tapi ceritanya enggak menarik, orang juga belum tentu mau menonton sampai selesai. Jadi menurut saya belajar konten dulu, alat bisa mengikuti,” tuturnya.
Wahyooou sendiri menganggap proses mencoba secara langsung sebagai bagian dari pembelajaran.
“Dari upload kita bisa tahu kekurangan kita. Mungkin lighting-nya kurang, audio kurang, atau editing-nya masih berantakan. Itu semua bisa diperbaiki sambil jalan,” ungkapnya.
- Konsisten Mengunggah Konten
Membangun personal branding juga membutuhkan konsistensi. Menurut Wahyooou, seseorang tidak bisa berharap langsung dikenal hanya dengan beberapa video.
“Kalau ingin membangun nama di media sosial, harus konsisten. Enggak harus setiap hari juga, tetapi jangan sampai terlalu lama hilang,” ujarnya.
Ia mengaku pernah mengalami kondisi ketika sebuah konten tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan.
“Ada video yang menurut kita sudah bagus ternyata view-nya biasa saja. Tapi jangan langsung berhenti. Kita lihat lagi apa yang kurang dan coba bikin lagi,” katanya.
Menurutnya, konsistensi bukan hanya soal jumlah upload, tetapi juga proses memperbaiki kualitas.
“Setiap bikin video harus ada perkembangan. Entah ceritanya lebih bagus, aktingnya lebih natural, editing-nya lebih rapi, atau kita lebih percaya diri di depan kamera,” jelas Wahyooou.
- Berani Bereksperimen dengan Konsep
Wahyooou juga menyarankan kreator untuk tidak terjebak pada satu konsep terlalu lama. Ia sendiri pernah berpindah dari konten dosen dan mahasiswa hingga membuat berbagai sketsa dan parodi.
“Saya termasuk orang yang suka mencoba. Kalau ada ide baru, saya coba. Enggak semuanya berhasil, tapi dari situ kita tahu apa yang disukai penonton,” ungkapnya.
Salah satu eksperimennya adalah membuat parodi “Kareh Dinner”.
“Ketika bikin Kareh Dinner, saya mencoba mengambil sesuatu yang sudah dikenal kemudian dibuat dengan gaya saya sendiri. Buat saya itu bagian dari mencari bentuk konten,” katanya.
Menurutnya, eksperimen juga membantu kreator menemukan format yang paling sesuai dengan personal branding.
“Kadang kita baru tahu karakter kita setelah mencoba banyak hal. Jadi jangan takut kalau ada konten yang ternyata enggak sesuai ekspektasi,” ujarnya.
- Dengarkan Respons Penonton Tanpa Kehilangan Identitas
Komentar dan respons audiens menurut Wahyooou dapat menjadi sumber evaluasi. Namun, ia mengingatkan agar kreator tidak sepenuhnya mengikuti semua permintaan penonton.
“Komentar itu penting karena kita bisa tahu orang melihat konten kita seperti apa. Tapi bukan berarti semua komentar harus kita ikuti,” tuturnya.
Ia mengaku sering menemukan komentar yang justru memberikan ide untuk konten berikutnya.
“Kadang ada yang bilang, ‘Bang bikin cerita seperti ini dong’. Kalau idenya cocok, ya bisa saya pertimbangkan. Tapi tetap harus disesuaikan dengan karakter konten kita,” katanya.
Menurut Wahyooou, personal branding akan sulit terbentuk jika kreator terlalu sering berganti karakter hanya karena mengejar tren.
“Jangan sampai karena mengejar viral, kita malah kehilangan identitas. Menurut saya tren boleh diikuti, tetapi harus tetap ada gaya kita sendiri,” ujarnya.
- Sabar dan Jangan Hanya Mengejar Viral
Poin terakhir yang dianggap penting oleh Wahyooou adalah kesabaran. Ia menilai membangun personal branding dari nol membutuhkan proses yang tidak sebentar.
“Jangan berpikir bikin tiga video langsung viral dan besok sudah terkenal. Bisa saja terjadi, tetapi kita enggak bisa menjadikan itu sebagai patokan,” ungkapnya.
Perjalanan Wahyooou sendiri dimulai dari panggung stand up comedy pada 2016 sebelum akhirnya aktif membuat konten digital pada 2021.
“Saya juga melewati proses yang cukup panjang. Dari stand up, ikut kompetisi, kemudian masuk ke media sosial. Jadi memang enggak instan,” katanya.
Ia berharap kreator pemula tidak mudah menyerah ketika kontennya belum mendapatkan banyak perhatian.
“Kalau sekarang view masih sedikit, bukan berarti kontennya enggak punya masa depan. Bisa jadi kita masih mencari bentuk yang tepat. Yang penting terus belajar,” tutur Wahyooou.
Bagi Wahyooou, personal branding pada akhirnya bukan sekadar tentang jumlah followers atau seberapa sering sebuah video masuk rekomendasi. Lebih dari itu, seorang kreator perlu memiliki karakter yang membuat penonton tahu apa yang bisa mereka harapkan ketika melihat kontennya.
“Saya juga masih terus belajar sampai sekarang. Buat saya, personal branding itu proses. Kita harus tahu diri kita, tahu apa yang mau kita sampaikan, kemudian konsisten dengan itu,” pungkasnya.
Dari pengalaman sebagai komika di Standup Indo Padang hingga kini memiliki sekitar 503,8 ribu pengikut di TikTok, Wahyooou terus membawa karakter komedinya ke ruang digital. Baginya, panggung kini memang berubah, tetapi satu hal tetap sama: bagaimana membuat orang tersenyum melalui cerita yang dekat dengan kehidupan mereka.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
