Produksi Sampah Santri Hampir 2.000 Ton per Hari, Pesantren Didorong Kelola Mandiri

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Jakarta – Sekitar 4 juta santri di Indonesia berpotensi menghasilkan sampah hingga hampir 2.000 ton setiap hari. Angka besar ini mendorong Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan pesantren sebagai garda depan pengelolaan sampah berkelanjutan.
Langkah tersebut diwujudkan melalui Lokalatih Daring Santri Ecosocpreneur yang diselenggarakan Direktorat Pemberdayaan Pesantren, Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag, Jumat (6/11/2026). Pelatihan berbasis Zoom Meeting itu berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 11.00 WIB.
Pesertanya mencakup pimpinan 58 pesantren pelopor Gerakan Nasional Ecopesantren, pimpinan 1.914 pesantren pilot Program Pesantren Ramah Anak, pimpinan pesantren dari sejumlah daerah, serta jajaran PD Pontren/Papkis/Pendis Kanwil Kemenag provinsi dan Kemenag kabupaten/kota.
Melalui lokalatih ini, Kemenag ingin membekali santri dengan pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan sosial berbasis lingkungan. Santri diharapkan mampu melahirkan usaha kreatif, inovatif, dan berkelanjutan yang memanfaatkan potensi pesantren serta masyarakat di sekitarnya.
Direktur Pemberdayaan Pesantren Yusi Damayanti mengatakan, pesantren memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perubahan perilaku masyarakat. Sebab, lembaga ini menjalankan tiga fungsi sekaligus, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia mencontohkan Pesantren Lirboyo yang menampung sekitar 55.000 santri. Puluhan ribu orang yang hidup dan beraktivitas selama 24 jam di satu kawasan membuat potensi sampah plastik dari kegiatan harian sangat tinggi.
Kegiatan ini, lanjut Yusi, juga dilatarbelakangi persoalan kabut asap dan kebakaran hutan yang dampaknya dirasakan di banyak wilayah.
“Gerakan Ecopesantren bukan sekadar membuat lingkungan bersih dan hijau, melainkan membangun perubahan perilaku, kebiasaan, dan sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai wujud gerakan itu, Direktorat Pemberdayaan Pesantren meluncurkan konsep Santri Ecopreneur dan RISE (Riset dan Inovasi Santri Ecopreneur) Club. Wadah ini menjadi ruang bagi santri untuk meneliti, berinovasi, serta merumuskan solusi persoalan lingkungan. Santri juga dibekali tiga kapasitas mental, yaitu mental toughness atau ketangguhan, mental resilience atau daya lenting, serta mental flexibility atau keluwesan berpikir.
Yusi menilai gerakan tersebut tidak harus diawali dengan langkah besar. Mengurangi plastik, memilah sampah, berhemat air dan listrik, merawat tanaman, hingga merintis bank sampah sudah menjadi permulaan yang berarti.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, dari kamar santri, ruang belajar, dapur, tempat wudu, halaman, kebun, hingga masyarakat sekitar,” tuturnya.
Kemenag berencana memperluas gerakan ini dengan menggandeng kementerian, lembaga, akademisi, mitra, dan organisasi masyarakat sipil. Pemetaan kondisi awal pesantren di berbagai provinsi juga akan dilakukan.
Dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Muhammad Zainal Arifin menyampaikan bahwa pesantren selama ini aktif terlibat dalam pemulihan lingkungan. Dalam sepuluh tahun terakhir, Kemenhut telah merehabilitasi lebih dari 2 juta hektare lahan di Indonesia.
Kemenhut kini mengoperasikan 59 pusat persemaian. Rinciannya, 50 persemaian mampu menghasilkan 500.000 hingga 1 juta batang bibit per tahun, sementara 9 persemaian skala besar berkapasitas 5 juta hingga 10 juta batang per tahun.
Menurut Zainal, bibit dari seluruh persemaian itu dapat diperoleh secara gratis oleh masyarakat, termasuk pesantren. Bibit tersebut bisa dimanfaatkan untuk rehabilitasi di dalam maupun di luar kawasan hutan melalui pola agroforestri ataupun program Kebun Bibit Rakyat.
Zainal juga menyinggung kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, dan Jambi yang sulit dipadamkan akibat siklus hidrologi gambut yang belum terjaga. Karena itu, ia menyarankan pesantren membangun Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) agar pasokan air bersih tetap aman di tengah kemarau dan perubahan iklim.
“Saat ini kami sedang menyusun draf perjanjian kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pesantren untuk mengintegrasikan kerja sama pemulihan lingkungan dan konservasi air,” katanya.
Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Agus Rusly memandang besarnya jumlah santri sebagai peluang, bukan ancaman.
“Jika dikelola dengan baik, ini justru akan menjadi kekuatan besar menuju Indonesia Emas 2045,” ucapnya.
Agus menuturkan, KLH telah bekerja sama dengan rumah ibadah lintas agama dengan menempatkan dropbox sampah anorganik. Hasil penjualan sampah tersebut masuk ke kas rumah ibadah. Pola yang sama akan diterapkan di pesantren.
Ia menekankan pentingnya off-taker atau pihak penampung bagi sampah anorganik yang telah dipilah santri. Tanpa saluran yang jelas, hasil pemilahan berisiko menumpuk dan semangat santri bisa luntur.
KLH juga membuka pintu kerja sama dengan swasta lewat skema CSR dan filantropi, merujuk pada pengalaman mendampingi sekitar 15 pesantren sebelumnya. Buku panduan pembentukan bank sampah pun telah disiapkan, disertai rencana pelatihan khusus bagi pesantren secara luring dan daring.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut memberi masukan teknis. Sri Wahyono, yang mewakili Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, menyarankan pesantren memulai dengan audit sampah.
Audit dilakukan dengan mengambil sampel dari berbagai titik, seperti asrama santri, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), ruang kelas, masjid, dan rumah dinas ustaz. Dari situ, pesantren dapat mengetahui jumlah sampah per orang beserta komposisi dan karakteristiknya.
“Ini sangat penting untuk menentukan teknologi tepat guna yang paling sesuai untuk diterapkan,” kata Sri.
Ia menyebut beragam pilihan teknologi, antara lain pengomposan, biogas, pengumpulan sampah bernilai jual, Refuse Derived Fuel (RDF), hingga pirolisis untuk plastik bernilai rendah. BRIN siap mendampingi penerapannya agar sampah tuntas dikelola di sumbernya dan kiriman ke TPA berkurang.
Pandangan serupa disampaikan konsultan ahli sekaligus dosen agribisnis dan toksikolog lingkungan Josseph F. William. Ia mengajak pesantren berhenti memandang sampah sebagai barang kotor.
“Sampah, kecuali B3, bukanlah masalah, melainkan sumber daya yang dapat dikelola, dimanfaatkan, dan menghasilkan pendapatan ekonomi yang signifikan bagi pesantren,” ujarnya.
Josseph mengaitkan pengelolaan sampah dengan nilai keagamaan. Menurutnya, merawat alam dan menghindari sikap mubazir merupakan bagian dari ibadah sekaligus amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Dengan cara pandang ini, gerakan pengelolaan sampah diharapkan tidak sekadar musiman.
Ia lalu mengenalkan prinsip paham, peduli, dan lakukan, beserta sejumlah metode pengolahan sampah organik. Di antaranya kompos aerob dan anaerob berbantuan ekoenzim, budidaya maggot BSF, vermicompost, serta reaktor biogas multifungsi yang mampu menghasilkan gas metana, pupuk cair, dan kompos padat.
Josseph juga menawarkan peta jalan 90 hari. Bulan pertama difokuskan pada sosialisasi, pembentukan tim, dan pemilahan sampah. Bulan kedua untuk membangun sarana dan menanam, sedangkan bulan ketiga untuk panen dan evaluasi.
Diskusi berlangsung hangat. Peserta menanyakan cara membangun kesadaran pengurus dan santri agar pengolahan sampah dipandang sebagai ikhtiar menjaga bumi, bukan beban operasional. Narasumber menyarankan pendekatan yang menyesuaikan karakter kelompok, baik melalui kajian fikih, Al-Qur’an, dan hadis, maupun melalui sisi ekonominya.
Para narasumber juga menegaskan bahwa sarana pemilahan tidak harus mahal. Ember, kaleng, atau lubang sudah memadai, kecuali untuk sampah B3 yang wajib dikelola ketat. Pesantren berlahan sempit tetap bisa menanam dengan pot dinding atau hidroponik sederhana.
Perwakilan Pesantren Ekologi Ath-Thaariq menambahkan usulan agar pertanian pesantren mengusung agroekologi, yakni memadukan ekosistem darat, air, dan tanaman campuran, sebagai wujud hablum minal ‘alam.
Lokalatih ini dipandu Founder Yayasan Sigap Kerlip Indonesia Yanti Sriyulianti dan turut dihadiri perwakilan Perkumpulan Pesantren Ekologi Indonesia, Forsepsi, Dekopin, KSM Dabaresih, Rumah Cita Kita, serta BSU Asih Kerlip. Kegiatan serupa akan digelar rutin setiap Jumat dengan materi lanjutan dan pembahasan tantangan praktis di lapangan.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
WahGenz
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
