PKKMB UTM 2026 Diikuti 4.214 Mahasiswa dari 28 Provinsi, Rektor Kenalkan Spirit Trunojoyo Masa Kini

Jurnalis: Khotibul Umam
Bangkalan, Kabar Baru – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun 2026. Sebanyak 4.214 mahasiswa baru dari 28 provinsi mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Tak hanya mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, PKKMB tahun ini juga diikuti 11 mahasiswa asing dari sembilan negara. Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah dan negara tersebut menunjukkan semakin luasnya daya tarik UTM sebagai perguruan tinggi di Madura.
Rektor UTM, Prof. Dr. Safi, mengatakan PKKMB berlangsung selama enam hari yang terbagi dalam tiga tingkatan, yakni dua hari di tingkat universitas, dua hari di tingkat fakultas dan dua hari di tingkat program studi.
“PKKMB ini berlangsung selama enam hari. Dua hari di tingkat universitas, kemudian dua hari di tingkat fakultas dan dua hari di tingkat program studi,” kata Prof. Safi.
Menurutnya, PKKMB tidak hanya menjadi agenda penyambutan mahasiswa baru. Kegiatan ini menjadi tahap awal bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik, struktur organisasi, sumber daya manusia, sarana-prasarana hingga berbagai organisasi kemahasiswaan di UTM.
“Harapannya dengan kita proaktif memberitahukan melalui media PKKMB ini, mereka akan lebih cepat proses adaptasinya, sehingga lebih cepat juga proses pengembangan dirinya,” jelasnya.
Prof. Safi menegaskan, UTM tidak ingin hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik. Mahasiswa juga diarahkan memiliki mental tangguh, kepribadian mandiri dan kemampuan kepemimpinan.
“Kita harapkan lulusan kita tidak hanya unggul dari sisi akademik, tetapi juga tangguh dari sisi mental, mandiri dari sisi kepribadian dan memiliki kemampuan leadership,” ungkapnya.
Rektor Kenalkan “Trunojoyo Masa Kini”
Ada hal menarik dalam PKKMB UTM 2026. Kampus mulai memperkuat penanaman nilai ke–Trunojoyoan kepada mahasiswa baru dengan mengenalkan sosok Raden Trunojoyo, perjalanan perjuangannya, prinsip serta nilai-nilai yang dapat diteladani.
Prof. Safi mengatakan, semangat Raden Trunojoyo dinilai tetap relevan untuk menjawab tantangan generasi muda saat ini.
“Kita mulai tahun ini mengenalkan tentang sosok Raden Trunojoyo, termasuk prinsip dan nilai-nilai yang patut kita teladani dan kita internalisasi,” tuturnya.
UTM bahkan berencana menerbitkan peraturan rektor tentang karakter ke-Trunojoyoan dan buku yang mengangkat perjalanan Raden Trunojoyo.
Menurut Prof. Safi, mahasiswa tidak harus meniru bentuk perjuangan Raden Trunojoyo pada masa lalu. Namun, semangat keberanian dan perjuangannya perlu diterjemahkan dalam konteks kehidupan bangsa saat ini.
“Trunojoyo dalam konteks kebutuhan bangsa dan negara saat ini bukan lagi Trunojoyo pada saat itu, tapi Trunojoyo saat ini,” tegasnya.
Ia menyebut perjuangan generasi muda saat ini dapat diwujudkan dengan berkontribusi memajukan Indonesia serta membantu masyarakat keluar dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
“Spiritnya sama, tetapi bentuknya berbeda. Berjuang untuk memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, membebaskan dari kemiskinan, dari kebodohan, dari keterbelakangan,” katanya.
UTM Dorong Raden Trunojoyo Jadi Pahlawan Nasional
Tak hanya berhenti pada pengenalan nilai perjuangan, UTM juga bersiap membantu menyiapkan kajian akademik dan dokumen pendukung terkait pengusulan Raden Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional.
Prof. Safi mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Sampang sebelumnya pernah mengusulkan Raden Trunojoyo sebagai pahlawan nasional. Namun, pengajuan tersebut sempat ditolak karena masih terdapat sejumlah hal yang perlu dilengkapi dan diklarifikasi.
Wacana tersebut kembali menguat setelah UTM meresmikan Museum Kebudayaan Madura dan berdiskusi dengan Menteri Kebudayaan.
“Pak Menteri Kebudayaan sempat bertanya, ini Trunojoyo itu siapa. Kita sempat menjelaskan secara singkat kepada beliau. Beliau tertarik dan sepertinya layak untuk diajukan sebagai pahlawan nasional,” ujar Prof. Safi.
Menurutnya, Menteri Kebudayaan kemudian meminta UTM membantu menyiapkan kajian akademik dan dokumen pendukung untuk proses pengusulan tersebut.
UTM juga akan merumuskan nilai dan prinsip perjuangan Raden Trunojoyo untuk dituangkan dalam Peraturan Rektor.
“Harapannya kita sekarang sudah ada figur yang bisa menjadi sosok teladan. Lulusan kita itu harus seperti Trunojoyo,” kata Prof. Safi.
Ditutup Orasi Kebangsaan
Rangkaian PKKMB 2026 tersebut juga menjadi bagian dari Rapat Senat Terbuka dan Orasi Kebangsaan bertema “Ekosistem Pendidikan Tinggi dan Tantangan Teknologi Cerdas untuk Kampus Berdampak”, sekaligus penutupan Dies Natalis UTM ke-XXV.
Kegiatan yang berlangsung Senin (10/8/2026) di Gedung Pertemuan R.P. Moh. Noer UTM tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, yakni H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.Si., Wakil Ketua Komisi XI DPR RI; H. Khairul Umam, CEO PT Bawang Mas Group; serta KH. D. Zawawi Imron, budayawan Madura.
Melalui rangkaian tersebut, UTM tidak hanya memperkenalkan lingkungan kampus kepada ribuan mahasiswa baru, tetapi juga mulai menanamkan karakter, kepemimpinan dan spirit perjuangan Raden Trunojoyo sebagai nilai yang diharapkan melekat pada generasi muda.
“Trunojoyo masa kini” pun diarahkan bukan sebagai pengulangan sejarah, melainkan sebagai semangat untuk berani, tangguh, mandiri dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Dinamikapost.com
Radar Baru
Seedbacklink
