Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Pelepah Pisang Jadi Media Belajar, Ada Inovasi Menarik di SMPN 1 Sukatani Purwakarta

file_00000000ddd081fa8e8e3b183524f4ad
Siswa SMPN 1 Sukatani mengikuti pembelajaran kolaboratif dengan mengolah pelepah pisang secara berkelompok di lingkungan sekolah.

Jurnalis:

Kabar Baru, Purwakarta – Di tengah era digital yang membuat gawai semakin lekat dengan keseharian pelajar, SMP Negeri 1 Sukatani, Kabupaten Purwakarta, menghadirkan cara berbeda dalam membangun pengalaman belajar siswa.

Alih-alih hanya berkutat dengan teori di ruang kelas, siswa diajak turun langsung ke lingkungan sekitar untuk mengolah pelepah pisang menjadi ekstrak. Kegiatan sederhana tersebut dikemas menjadi pembelajaran kolaboratif yang menggabungkan Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Bagi SMPN 1 Sukatani, kegiatan tersebut bukan sekadar praktik membuat ekstrak pelepah pisang. Di dalamnya terdapat proses mengamati, mengikuti prosedur, bekerja sama, mengolah informasi, memahami konsep sains hingga menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata.

Kepala SMPN 1 Sukatani, H. Patoni, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah menerapkan pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada siswa.

“Yang paling utama, pembelajaran ini merupakan implementasi dari kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tentang Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning. Jadi, anak-anak tidak hanya mendapatkan materi, tetapi mengalami langsung proses pembelajarannya sehingga apa yang dipelajari menjadi lebih bermakna,” ujar H. Patoni. Senin (21/9/2026).

Pendekatan Pembelajaran Mendalam yang dikembangkan Kemendikdasmen menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna dan menggembirakan, dengan mendorong peserta didik memahami konsep secara lebih mendalam serta mengaitkannya dengan kehidupan nyata.

H. Patoni menambahkan, inovasi pembelajaran tersebut juga diarahkan untuk mengimplementasikan pendidikan yang berkaitan dengan kearifan lokal sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Purwakarta Nomor 9 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.

“Ini juga merupakan implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Purwakarta Nomor 9 Tahun 2021 yang menyuratkan pendidikan berkearifan lokal. Karena itu, kami mencoba mengambil sesuatu yang ada di lingkungan sekitar dan menjadikannya sebagai bagian dari proses pembelajaran,” katanya.

Kegiatan tersebut diikuti ratusan siswa dari kelas IX A, IX B, IX C, IX E dan VIII G. Mereka bekerja secara berkelompok di luar kelas, mulai dari mengambil pelepah pisang, memilih bagian yang digunakan, memotong, mencacah hingga mengolahnya menjadi ekstrak.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, materi Teks Prosedur dipadukan dengan kegiatan praktik. Siswa tidak hanya mempelajari struktur dan tahapan teks prosedur, tetapi juga menerapkannya melalui langkah kerja pengolahan pelepah pisang.

Pembelajaran tersebut dikoordinasikan oleh Yayah Ratna Sari Dewi bersama guru Bahasa Indonesia lainnya. Siswa diarahkan menyusun dan mengikuti tahapan secara runtut, mulai dari menyiapkan bahan, memilih bagian pelepah, melakukan pemotongan hingga proses pengolahan.

Sementara itu, pada mata pelajaran IPA yang dikoordinasikan oleh H. Rohibin, siswa mempelajari konsep penguraian atau dekomposisi bahan organik serta melihat pemanfaatan bahan dari lingkungan sekitar melalui pendekatan sains.

Bahan praktik berasal dari pelepah dua pohon pisang yang buahnya telah matang. Pelepah tersebut kemudian dipilah dengan mengambil bagian dalam yang masih muda.

Bagian tersebut dipilih karena lebih mudah diproses. Sekolah tidak menggunakan mesin pencacah, sehingga pelepah terlebih dahulu dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Setelah itu, bahan dihaluskan menggunakan blender untuk menghasilkan ekstrak.

Dari proses tersebut, bahan pelepah pisang yang diolah mencapai sekitar 15 kilogram.

Kegiatan ini melibatkan guru dari sejumlah bidang mata pelajaran, yakni empat guru Bahasa Indonesia, dua guru IPA, satu guru IPS dan satu guru TIK. Kolaborasi tersebut membuat satu kegiatan dapat dipelajari dari berbagai sudut pandang keilmuan.

Para siswa terlihat antusias mengikuti setiap tahapan. Mereka bekerja dalam kelompok, berbagi tugas dan mengikuti proses pengolahan bahan secara langsung.

Menurut H. Patoni, model pembelajaran seperti itu diharapkan dapat membangun keterampilan siswa sekaligus memperkuat keterkaitan antara pengetahuan yang diperoleh di sekolah dengan kehidupan sehari-hari.

“Harapannya, anak-anak tidak hanya memahami teori. Mereka juga belajar bekerja sama, mengikuti prosedur, berpikir secara ilmiah dan memahami bahwa apa yang ada di lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar,” tuturnya.

Ia menegaskan, penggunaan teknologi dalam pendidikan tetap penting. Namun, proses pembelajaran juga perlu memberikan ruang bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan, teman dan guru.

Melalui kegiatan tersebut, SMPN 1 Sukatani berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada hafalan materi, melainkan mendorong siswa mengalami, memahami, mempraktikkan dan menemukan makna dari apa yang dipelajari.

Pelepah pisang pun akhirnya tidak sekadar menjadi bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Di tangan guru dan siswa SMPN 1 Sukatani, bahan sederhana tersebut menjadi pintu masuk untuk menghubungkan bahasa, sains, keterampilan, kolaborasi dan kearifan lokal dalam satu pengalaman pembelajaran. ***

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store