Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Sekolah Harus Berhenti Mengajar untuk Nilai, Mulai Mendidik untuk Kehidupan

Lista, Mahasiswi Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta
Lista, Mahasiswi Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.

Editor:

Kabar Baru, Opini – Sudah terlalu lama kita memandang sekolah sebagai tempat mengumpulkan nilai. Seolah-olah keberhasilan pendidikan hanya diukur dari angka rapor, peringkat kelas, atau seberapa tinggi seseorang mampu menghafal teori. Padahal kehidupan di luar sekolah tidak pernah bertanya berapa nilai matematika atau IPA yang pernah kita peroleh. Kehidupan justru menguji kemampuan berpikir, bekerja sama, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan beradaptasi dengan perubahan yang tidak pernah berhenti.

Menurut saya, di sinilah letak persoalan pendidikan kita. Kita terlalu sibuk mengejar capaian akademik, tetapi sering kali lupa membangun manusia yang siap menghadapi realitas. Sekolah seharusnya menjadi tempat seseorang belajar hidup, bukan sekadar belajar menjawab soal.

Saya percaya bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada proses mentransfer pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk cara berpikir. Pengetahuan memang penting, tetapi cara menggunakan pengetahuan jauh lebih menentukan masa depan seseorang. Orang yang mampu berpikir kritis akan selalu menemukan jalan keluar ketika menghadapi persoalan, sementara orang yang hanya mengandalkan hafalan akan mudah kehilangan arah ketika situasi berubah.

Dunia saat ini bergerak begitu cepat. Perkembangan teknologi mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, bahkan belajar. Banyak pekerjaan lama mulai tergantikan oleh mesin dan kecerdasan buatan, sementara pekerjaan baru terus bermunculan dengan tuntutan kompetensi yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, kemampuan belajar sepanjang hayat menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar memiliki ijazah.

Sayangnya, sistem pendidikan kita masih sering terjebak pada pola lama. Guru menjadi pusat pembelajaran, sementara siswa hanya menjadi pendengar. Murid dianggap berhasil ketika mampu mengulang apa yang disampaikan guru. Akibatnya, banyak peserta didik yang takut salah, takut bertanya, bahkan takut menyampaikan pendapatnya sendiri. Padahal kreativitas lahir dari keberanian berpikir berbeda.

Menurut saya, sekolah harus menjadi ruang yang aman untuk berpikir. Murid tidak seharusnya dihukum karena memiliki jawaban yang berbeda, selama mereka mampu menjelaskan alasan di balik pendapatnya. Pendidikan bukan tentang menyeragamkan cara berpikir, tetapi melatih setiap individu agar mampu berpikir secara mandiri dan bertanggung jawab.

Saya juga melihat bahwa dunia kerja saat ini tidak lagi mencari orang yang hanya pintar bekerja sendiri. Hampir semua pekerjaan menuntut kemampuan berkolaborasi. Tidak ada proyek besar yang diselesaikan oleh satu orang. Semua membutuhkan komunikasi, saling percaya, saling menghargai, dan kemampuan menyatukan berbagai gagasan menjadi solusi bersama.

Karena itu, sekolah seharusnya lebih banyak memberikan pengalaman bekerja dalam tim daripada sekadar tugas individu. Ketika siswa belajar berdiskusi, menghargai perbedaan pendapat, membagi tanggung jawab, dan menyelesaikan konflik, sesungguhnya mereka sedang belajar menjadi manusia yang siap hidup di tengah masyarakat.

Saya meyakini bahwa pengalaman selalu menjadi guru terbaik. Seseorang akan lebih memahami makna tanggung jawab ketika benar-benar diberi tanggung jawab. Ia akan belajar tentang kepemimpinan ketika diberi kesempatan memimpin. Ia akan belajar menghadapi tekanan ketika dihadapkan pada persoalan yang harus diselesaikan bersama. Pengalaman seperti inilah yang tidak dapat digantikan oleh buku pelajaran.

Menurut saya, pendidikan harus lebih banyak menghadirkan pengalaman nyata daripada sekadar penjelasan di dalam kelas. Semakin dekat proses belajar dengan kehidupan yang sesungguhnya, semakin besar pula peluang peserta didik memahami mengapa mereka belajar. Ketika siswa mengetahui manfaat dari apa yang dipelajari, motivasi belajar akan tumbuh secara alami tanpa harus dipaksa.

Saya juga percaya bahwa guru memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan materi. Guru adalah pembentuk karakter. Cara guru memperlakukan siswa akan membentuk cara siswa memandang dirinya sendiri. Guru yang menghargai pertanyaan akan melahirkan siswa yang berani berpikir. Guru yang menghargai proses akan melahirkan siswa yang tidak mudah menyerah. Sebaliknya, guru yang hanya menghargai nilai sering kali melahirkan siswa yang takut gagal.

Bagi saya, kegagalan bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru dari kegagalan seseorang belajar memperbaiki diri. Sekolah harus mengajarkan bahwa gagal adalah bagian dari proses belajar, bukan akhir dari perjalanan. Ketika siswa memahami hal itu, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.

Saya juga melihat bahwa pendidikan sering kali terlalu sibuk mempersiapkan siswa menghadapi ujian, tetapi kurang mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan. Padahal kehidupan tidak pernah memberikan soal pilihan ganda. Kehidupan menghadirkan persoalan yang membutuhkan keberanian mengambil keputusan di tengah berbagai kemungkinan yang belum tentu benar atau salah.

Bagi saya, tujuan akhir pendidikan bukanlah mencetak lulusan yang memiliki nilai tinggi, melainkan membentuk manusia yang mampu memberi manfaat bagi orang lain. Ilmu pengetahuan hanya akan memiliki arti ketika digunakan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, membantu sesama, dan menciptakan perubahan yang lebih baik.

Saya percaya bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusianya. Teknologi dapat dibeli, gedung dapat dibangun, dan fasilitas dapat disediakan. Namun, karakter, integritas, kreativitas, serta kemampuan berpikir tidak bisa dibentuk secara instan. Semua itu membutuhkan proses pendidikan yang benar.

Sebagai pribadi, saya meyakini bahwa sekolah harus menjadi tempat yang menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian mencoba, semangat bekerja sama, dan kebiasaan berpikir sebelum bertindak. Pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang menghasilkan lulusan dengan nilai sempurna, melainkan pendidikan yang melahirkan manusia yang mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.

“Bagi saya, pendidikan bukan tentang menciptakan orang yang paling pintar, tetapi tentang membentuk manusia yang mampu berpikir, bertindak, dan memberi manfaat bagi kehidupan. Ketika sekolah berhasil menanamkan tiga hal itu, maka sesungguhnya sekolah telah menjalankan tugas utamanya.” — Lista*

Penulis : Lista, Mahasiswi Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store