Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Sumur Mengering, Kubangan Jadi Penyelamat Warga

IMG-20260722-WA0052
Warga Desa Batutumpang, Purwakarta, memanfaatkan genangan bekas galian untuk mandi dan mencuci sambil menanti solusi permanen atas krisis air bersih.

Jurnalis:

Kabar Baru, Purwakarta – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Purwakarta memicu krisis air bersih di Desa Batutumpang, Kecamatan Tegalwaru. Selama tiga bulan terakhir, puluhan keluarga harus berjuang memenuhi kebutuhan air sehari-hari setelah sumur-sumur warga mengering.

Di tengah keterbatasan tersebut, warga terpaksa memanfaatkan dua kubangan bekas galian tanah yang masih menyisakan genangan air sebagai sumber air untuk mandi dan mencuci pakaian. Padahal, kondisi air di kubangan itu tampak keruh kecokelatan, bercampur lumpur, sampah plastik, dan dipenuhi lumut di bagian tepinya.

Pantauan di lokasi, Rabu (22/7/2026), aktivitas warga di sekitar kubangan berlangsung sejak pagi. Sejumlah ibu rumah tangga terlihat mencuci pakaian, sementara anak-anak mandi menggunakan air yang diambil langsung dari genangan tersebut. Beberapa warga lainnya datang membawa ember dan jeriken untuk mengangkut air ke rumah masing-masing.

Salah seorang warga, Nina (31), mengaku keluarganya sudah sekitar tiga bulan kesulitan memperoleh air bersih karena sumur di rumah mengering. Kondisi itu memaksanya menggunakan air kubangan untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

“Air dari kubangan hanya dipakai untuk mandi dan mencuci. Kalau untuk memasak dan minum kami harus membeli air isi ulang seharga Rp5 ribu per galon atau air mineral sekitar Rp20 ribu per galon,” ujar Nina.

Menurutnya, pemerintah desa memang beberapa kali menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki. Namun, bantuan tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan warga yang terus meningkat selama musim kemarau.

Meski menyadari kualitas air yang digunakan jauh dari layak, Nina mengaku keluarganya tidak memiliki alternatif lain.

“Takut sebenarnya karena airnya kotor, tapi sudah tidak ada pilihan lagi. Alhamdulillah sampai sekarang belum ada yang sakit. Harapan kami pemerintah bisa mengirim bantuan air bersih minimal dua kali dalam seminggu,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Solihah (45). Setiap musim kemarau tiba, ia harus berjalan sekitar 30 menit dari rumah menuju kubangan untuk mencuci pakaian, bahkan sesekali mandi di tempat tersebut.

“Kalau musim kemarau memang sudah biasa begini. Di rumah tidak ada air. Jadi mencuci di sini, kadang mandi juga di sini,” tuturnya.

Selain memanfaatkan air kubangan, Solihah masih harus mengeluarkan biaya untuk membeli air bersih yang digunakan memasak, mencuci peralatan makan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Satu toren air bersih, menurutnya, dibanderol sekitar Rp60 ribu.

Ia berharap pemerintah segera membangun fasilitas air bersih permanen agar warga tidak lagi mengalami kesulitan setiap musim kemarau.

“Harapan kami ada sumur bor atau jet pump supaya warga punya sumber air bersih sendiri seperti kampung-kampung lain,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Wawan (48). Ia mengaku harus bolak-balik mengangkut air dari kubangan ke rumah setiap hari setelah sumurnya mengering sekitar dua bulan lalu.

“Sudah dua bulan sumur kering karena tidak turun hujan. Hari ini saja saya sudah tiga kali bolak-balik mengambil air untuk mandi dan mencuci piring,” katanya.

Untuk kebutuhan air minum, keluarganya mengandalkan air galon isi ulang. Sementara kebutuhan mandi, mencuci pakaian, dan mencuci peralatan rumah tangga masih bergantung pada air kubangan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis air bersih masih menjadi persoalan yang berulang di sejumlah wilayah Kabupaten Purwakarta setiap musim kemarau. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, penggunaan air yang tidak layak juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan apabila berlangsung dalam waktu yang lama.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Purwakarta bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret, tidak hanya melalui distribusi bantuan air bersih secara rutin, tetapi juga dengan membangun infrastruktur penyediaan air bersih permanen, seperti sumur bor, jaringan perpipaan, maupun sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat. Langkah tersebut dinilai menjadi solusi jangka panjang agar warga tidak lagi bergantung pada kubangan bekas galian yang kondisinya jauh dari standar kelayakan.***

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store