Stok BHP Cuci Darah Habis, Ketua DPRD Bone Bolango Ultimatum RS Toto

Jurnalis: TIM Gorontalo
Kabar Baru, Gorontalo— Ketua DPRD Bone Bolango, Faisal Yunus, memberikan ultimatum kepada manajemen Rumah Sakit Toto menyusul habisnya stok bahan medis habis pakai (BHP) untuk pelayanan cuci darah atau hemodialisis.
Persoalan tersebut menjadi perhatian serius lantaran terdapat pasien yang bergantung pada layanan hemodialisis di rumah sakit tersebut. Ketersediaan BHP menjadi salah satu kebutuhan utama agar pelayanan cuci darah dapat berlangsung secara rutin.
Faisal Yunus meminta manajemen RS Toto segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kekosongan stok tersebut. Ia menegaskan, persoalan pengadaan bahan medis tidak boleh sampai mengorbankan pelayanan kepada pasien.
“Jangan sampai persoalan stok BHP kemudian membuat pelayanan cuci darah terhadap masyarakat terhenti. Ini menyangkut kebutuhan dasar dan keselamatan pasien. Manajemen rumah sakit harus segera mencari solusi dan memastikan stok kembali tersedia,” tegas Faisal Yunus.
Menurutnya, pasien hemodialisis membutuhkan pelayanan secara rutin sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh tenaga medis. Karena itu, setiap gangguan terhadap layanan tersebut harus segera diantisipasi oleh pihak rumah sakit.
“Pasien-pasien ini tidak bisa menunggu terlalu lama. Mereka membutuhkan kepastian pelayanan. Kami meminta manajemen RS Toto segera menyelesaikan persoalan ini dan memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penyebab habisnya BHP,” ujarnya.
Faisal juga meminta pihak rumah sakit memperbaiki sistem perencanaan dan pengadaan kebutuhan medis agar persoalan serupa tidak kembali terjadi. Menurut dia, ketersediaan BHP harus menjadi perhatian utama dalam menjamin keberlangsungan pelayanan kesehatan.
“DPRD akan terus memantau persoalan ini. Kami tidak ingin masyarakat, khususnya pasien yang membutuhkan cuci darah secara rutin, menjadi korban akibat persoalan administrasi maupun pengadaan di rumah sakit,” katanya.
Ia menambahkan, DPRD Bone Bolango siap meminta penjelasan dari pihak terkait apabila persoalan tersebut tidak segera mendapatkan penyelesaian.
“Kalau memang ada kendala dalam pengadaan, sampaikan secara terbuka apa masalahnya dan bagaimana solusinya. Yang paling penting, pelayanan kepada pasien harus tetap menjadi prioritas,” pungkas Faisal.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
