Pergeseran Tanah Bungkam Perpustakaan Pasanggrahan, ke Mana 6.000 Buku dan Anak-anak Kini?

Jurnalis: Deni Aping
Kabar Baru, Purwakarta – Bencana pergeseran tanah yang terjadi di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, berdampak serius terhadap aktivitas literasi masyarakat. Perpustakaan Desa Pasanggrahan yang selama ini menjadi ruang belajar dan berkegiatan bagi anak-anak serta warga terpaksa ditutup setelah bangunannya mengalami kerusakan parah.
Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada 1 Februari 2026. Kerusakan bangunan terus berkembang hingga menyebabkan kondisi fisik perpustakaan tidak lagi memungkinkan untuk digunakan.
Bangunan perpustakaan kini terlihat miring. Sejumlah bagian lantai mengalami retak dan terbelah akibat pergeseran tanah, sedangkan sebagian plafon mengalami kerusakan hingga runtuh. Tingkat kerusakan bangunan diperkirakan mencapai sekitar 75 persen.
Kondisi tersebut membuat pengelola mengambil keputusan untuk menghentikan seluruh aktivitas di dalam gedung. Langkah itu dilakukan sebagai upaya mengantisipasi risiko bangunan ambruk yang dapat membahayakan anak-anak maupun masyarakat yang datang.
Kepala Perpustakaan Desa Pasanggrahan sekaligus Pegiat Literasi Anak Desa, Romli Abdul Gopar, mengatakan kerusakan bermula dari retakan yang muncul setelah hujan deras.
“Pagi-pagi saya kaget melihat bangunannya retak. Awalnya belum terlalu parah, tapi tiga hari kemudian kerusakannya semakin besar. Bagian tengah bangunan terdorong tanah sehingga sekarang kondisinya miring dan tidak stabil. Karena bangunannya dari bata, sangat berbahaya jika dipakai,” kata Romli, dikutip dari kompas.com Sabtu (8/8/2026).

Menurut Romli, setelah kondisi bangunan semakin memburuk, seluruh aktivitas perpustakaan dihentikan. Gedung kemudian dikosongkan karena dikhawatirkan mengalami kerusakan lebih parah atau bahkan roboh.
Padahal, sebelum mengalami kerusakan, perpustakaan tersebut menjadi salah satu ruang publik yang aktif dimanfaatkan masyarakat. Setiap akhir pekan, anak-anak rutin mengikuti kegiatan membaca bersama, belajar dan berbagai aktivitas edukatif lainnya.
Tidak hanya anak-anak, masyarakat umum juga memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat memperoleh bahan bacaan dan informasi. Koleksinya mencakup buku pendidikan, cerita anak, pertanian, keterampilan hingga pengembangan diri.
Perpustakaan tersebut merupakan hasil gerakan swadaya masyarakat. Cikal bakalnya berdiri pada 2021 dengan nama Komunitas Literasi Anak Desa. Seiring berkembangnya kegiatan serta untuk mempermudah akses terhadap berbagai program bantuan, komunitas tersebut kemudian berkembang menjadi Perpustakaan Desa.
Saat ini, perpustakaan memiliki lebih dari 6.000 eksemplar buku yang diperuntukkan bagi berbagai kelompok usia, mulai dari anak usia dini, pelajar hingga orang dewasa.
Sebagian besar koleksi tersebut berasal dari bantuan Perpustakaan Nasional pada 2024. Selain itu, koleksi juga bertambah melalui donasi masyarakat dan komunitas literasi.
“Buku kami sekarang lebih dari 6.000 eksemplar. Lengkap untuk semua usia, mulai dari anak SD sampai dewasa. Ada juga buku pertanian dan buku edukasi lainnya. Sebagian besar memang bantuan dari Perpustakaan Nasional, selebihnya hasil donasi masyarakat dan komunitas,” ujar Romli.
Kerusakan gedung tidak membuat pengelola menghentikan gerakan literasi. Untuk menjaga agar koleksi buku tetap dapat dimanfaatkan masyarakat, ribuan buku kemudian dipindahkan ke sejumlah posyandu yang tersebar di setiap dusun.
Posyandu untuk sementara difungsikan sebagai pojok baca. Setiap lokasi menampung sekitar 50 buku sehingga warga tetap mempunyai akses terhadap bahan bacaan meskipun perpustakaan utama tidak dapat digunakan.
“Sayang kalau buku hanya disimpan. Akhirnya kami bekerja sama dengan posyandu di setiap dusun. Buku-buku kami bagi supaya masyarakat tetap bisa membaca meski perpustakaan tidak bisa dipakai,” katanya.
Namun, menurut Romli, keberadaan pojok baca di posyandu belum dapat menggantikan fungsi perpustakaan secara keseluruhan. Selain koleksi yang terbatas di setiap titik, jarak antarposyandu juga menjadi kendala bagi masyarakat yang ingin mendapatkan bahan bacaan lebih beragam.
Dampak penutupan perpustakaan terutama dirasakan oleh anak-anak. Sebelumnya, setiap Sabtu dan Minggu, perpustakaan menjadi tempat mereka menghabiskan waktu dengan kegiatan yang bersifat edukatif.
Kini, anak-anak lebih banyak berada di rumah. Menurut Romli, sebagian dari mereka kembali menghabiskan waktu dengan bermain gawai karena tidak lagi memiliki ruang berkegiatan seperti sebelumnya.
“Anak-anak sekarang lebih banyak di rumah. Dulu setiap Sabtu dan Minggu mereka selalu berkegiatan di perpustakaan. Sekarang kembali lagi bermain gadget karena tidak ada aktivitas seperti dulu,” ujarnya.
Perpustakaan tersebut juga tidak hanya dimanfaatkan warga setempat. Sejumlah wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata di sekitar Desa Pasanggrahan terkadang menyempatkan diri untuk singgah dan membaca.
Di tengah kondisi tersebut, pengelola terus berupaya mencari solusi agar aktivitas literasi dapat kembali berjalan. Komunikasi telah dilakukan dengan pemerintah desa maupun sejumlah perusahaan yang sebelumnya memberikan dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Namun, upaya perbaikan belum dapat dilakukan. Salah satu kendalanya adalah status lahan yang bukan merupakan aset pemerintah, ditambah keterbatasan anggaran untuk melakukan perbaikan bangunan.
“Kami sudah mencoba berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk pemberi CSR. Harapan kami sederhana, semoga ada solusi agar perpustakaan ini bisa diperbaiki. Kami ingin anak-anak kembali memiliki ruang belajar yang aman,” tutur Romli.
Romli menilai keberadaan perpustakaan sangat penting untuk menjaga budaya membaca sekaligus menyediakan ruang belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Kebutuhan tersebut semakin terasa memasuki tahun ajaran baru, ketika banyak anak usia dini mulai belajar membaca.
Ia berharap pemerintah daerah, pemerintah desa, perusahaan swasta maupun BUMN yang berada di sekitar wilayah tersebut dapat bersama-sama mencari solusi.
Menurutnya, dukungan berbagai pihak dibutuhkan agar perpustakaan dapat kembali berdiri di lokasi yang aman dan kegiatan literasi masyarakat tidak terhenti akibat bencana.
“Kami ingin kembali berkontribusi untuk masyarakat, terutama anak-anak. Mudah-mudahan ada perhatian dari para pemangku kebijakan dan BUMN yang ada di sekitar agar perpustakaan ini bisa berdiri lagi dan kegiatan literasi kembali berjalan,” pungkas Romli. ***
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Dinamikapost.com
Radar Baru
Seedbacklink
