Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Mata Air Cilembang Sari dan Cigoong Menyusut, Ini Langkah PDAM Purwakarta

IMG_20260915_173906
Kepala Bagian Hubungan Pelanggan (Kabag Hublang) PDAM Purwakarta, Muhamad Zenal Arifin.

Jurnalis:

Kabar Baru, Purwakarta – Musim kemarau mulai memengaruhi ketersediaan air baku di Kabupaten Purwakarta. Dua sumber mata air yang menjadi bagian dari sistem penyediaan air bersih PDAM Purwakarta mengalami penurunan debit hingga sekitar 60 persen.

Kondisi tersebut berdampak pada tekanan jaringan perpipaan di sejumlah kawasan, terutama daerah dengan elevasi tinggi di Kecamatan Purwakarta. PDAM pun menerapkan pengaturan aliran pada jam tertentu serta menyiapkan armada tangki untuk memenuhi kebutuhan warga yang mengalami gangguan.

Direktur Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu (PDAM) Kabupaten Purwakarta Riana Afriadi Wangsadiredja melalui Kepala Bagian Hubungan Pelanggan (Kabag Hublang) PDAM Purwakarta, Muhamad Zenal Arifin, mengatakan perusahaan saat ini mengandalkan tiga sumber utama air baku. Cabang Plered memanfaatkan air irigasi, sedangkan instalasi pengolahan lainnya memperoleh pasokan dari Waduk Jatiluhur dan mata air.

“Untuk Cabang Plered menggunakan air irigasi dan sejauh ini masih aman. Sementara dari Jatiluhur, meskipun kondisi air surut, kami masih dapat melakukan penyesuaian teknis, seperti memperpanjang pipa atau menurunkan posisi pompa,” ujar Arifin sapaan akrab Kabag Hublang PDAM Purwakarta. Selasa (15/9/2026).

Berbeda dengan air permukaan, ketersediaan mata air sangat bergantung pada kondisi alam. Dua sumber yang mengalami penyusutan cukup signifikan berada di Cilembang Sari dan Cigoong.

“Informasi yang kami terima, penurunannya sudah lebih dari 50 persen, kurang lebih sekitar 60 persen. Kondisi ini cukup mengganggu pelayanan di beberapa kawasan Kecamatan Purwakarta,” katanya.

Meski demikian, gangguan tidak terjadi sepanjang waktu dan tidak merata. Sebagian kawasan masih memperoleh aliran secara normal, sementara lokasi tertentu menerapkan sistem penggiliran, khususnya ketika penggunaan air meningkat pada pagi dan sore hari.

“Untuk yang tidak mengalir sama sekali persentasenya sangat kecil. Sebagian besar hanya mengalami gangguan pada jam-jam puncak. Setelah itu, aliran kembali berjalan,” jelasnya.

Berkurangnya pasokan turut menurunkan tekanan pada jaringan. Akibatnya, kawasan yang berada di dataran lebih tinggi menjadi titik yang mendapat perhatian khusus.

Arifin menyebut kawasan Taman Pahlawan, sepanjang Jalan Ibrahim Singadilaga hingga Jalan Abdul Qadir sebagai beberapa lokasi yang berada dalam pantauan PDAM.

“Karena kondisi elevasinya tinggi, ketika debit berkurang tekanan air juga ikut menurun. Kawasan seperti Taman Pahlawan dan sekitarnya menjadi konsentrasi kami,” ungkapnya.

Untuk menjaga keseimbangan pelayanan, PDAM memanfaatkan jaringan perpipaan yang saling terkoneksi. Sistem tersebut memungkinkan pasokan dari satu sumber membantu kawasan yang mengalami kekurangan.

Namun, skema itu tidak dapat diterapkan sepenuhnya karena setiap sumber juga memiliki cakupan pelayanan masing-masing.

“Kalau kami membuka suplai dari sumber lain, tentu akan berpengaruh terhadap pelanggan yang selama ini dilayani sumber tersebut. Karena itu, pengaturannya harus dilakukan secara hati-hati,” tuturnya.

PDAM memastikan kebutuhan pelanggan tetap menjadi prioritas. Ketika aliran melalui jaringan tidak dapat diberikan secara optimal, perusahaan menyiapkan alternatif berupa pengiriman menggunakan mobil tangki.

“Ketika air tidak bisa dialirkan melalui perpipaan, kami memiliki kewajiban memberikan pelayanan melalui cara lain, salah satunya pengiriman dengan tangki,” kata Arifin.

Armada tersebut diarahkan terutama ke lokasi yang mengalami gangguan cukup berat. Langkah itu menjadi bagian dari upaya PDAM menjaga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang telah terdaftar sebagai pelanggan.

Di luar pelayanan rutin, PDAM turut mendukung penanganan kekeringan bagi masyarakat yang belum terjangkau jaringan perusahaan.

Arifin menjelaskan PDAM tergabung dalam tim penanggulangan bencana bersama BPBD, TNI, Polri, PMI, Damkar dan unsur lainnya. Dalam penanganan kekeringan, PDAM berperan menyediakan air bersih, sedangkan penyalurannya dikoordinasikan bersama BPBD.

“Sebagai tanggung jawab sosial, kami juga ikut mengirimkan air. Sebelumnya kami berkoordinasi dengan BPBD untuk menentukan lokasi yang memang membutuhkan,” ujarnya.

Untuk mempermudah akses bantuan, tersedia tiga kanal pengaduan kebutuhan air bersih bagi masyarakat umum, yakni Balai Katresna Pemda, BPBD dan Call Center PDAM.

Permohonan juga dapat disampaikan melalui pemerintah desa atau kelurahan. Selanjutnya, desa mengajukan surat kepada BPBD untuk dilakukan pemetaan lokasi terdampak.

Menurut Arifin, mekanisme tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga menghasilkan data yang dapat digunakan sebagai bahan antisipasi menghadapi kekeringan pada tahun mendatang.

Di tengah keterbatasan pasokan, PDAM mengajak masyarakat mengurangi penggunaan air yang tidak perlu. Menurut Arifin, perilaku hemat air harus diterapkan sepanjang tahun, bukan hanya ketika kemarau.

“Kami mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak. Hemat air bukan hanya saat kemarau, tetapi juga pada musim penghujan. Air harus kita jaga agar dapat diwariskan kepada anak cucu,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai salah satu kawasan penyangga sumber mata air. Sementara ketersediaan air Waduk Jatiluhur turut dipengaruhi intensitas hujan.

“Penurunan debit pada musim kemarau merupakan tantangan yang juga dihadapi PDAM di daerah lain. Karena itu, menjaga dan menggunakan air secara bijak menjadi tanggung jawab bersama,” pungkas Arifin.

Masyarakat yang membutuhkan informasi maupun layanan terkait kebutuhan air bersih dapat menghubungi Call Center PDAM Purwakarta di 0811-1611-384. ***

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store