Mahasiswa Bogor Bangun Platform Web Lengkap dalam Sehari Bersama AI, Tanpa Mengetik Satu Baris Kode

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Jakarta – Membangun sebuah situs lengkap, mulai dari blog, portofolio, hingga panel admin, biasanya memakan waktu berminggu-minggu. Namun seorang mahasiswa asal Bogor mengklaim bisa menyelesaikannya hanya dalam satu hari kerja, dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Dia adalah Tegar Prayuda, mahasiswa Manajemen Bisnis semester akhir berusia 22 tahun yang menyebut dirinya solopreneur dan builder AI-native. Latar belakangnya bukan ilmu komputer. Ia mengaku hanya memahami dasar-dasar coding, cukup untuk membaca alur kode dan menilai apakah sebuah hasil sudah benar.
Dari server kosong hingga tayang
Proyek itu berawal dari brief satu kalimat: sebuah platform personal serba ada yang ramah SEO, berkesan santai tetapi tetap profesional, dan tersedia dalam dua bahasa. Dari brief sesingkat itu, lahir puluhan keputusan teknis. Halaman dirender di sisi server demi performa pencarian, panel admin dibangun dari nol, dan statistik pengunjung dikelola sendiri tanpa layanan pihak ketiga.
Hasilnya adalah situs dwibahasa Indonesia–Inggris yang memuat blog dengan komentar termoderasi, portofolio, halaman link-bio yang mencatat klik, buku tamu, newsletter dengan konfirmasi ganda, serta panel admin lengkap. Seluruhnya berjalan di atas PHP, MySQL, Redis, dan Tailwind CSS.
Nol baris kode, ratusan keputusan
Yang membuat kisah ini menarik adalah pembagian perannya. Tegar tidak mengetik kode sendiri. Seluruh eksekusi teknis didelegasikan ke AI, sementara ia memegang arsitektur, arah desain, dan standar kualitas.
Dalam catatan prosesnya, ia merangkum hasil kerjanya dengan beberapa angka: satu hari kerja, dua bahasa, tiga puluh pengujian otomatis yang lulus, nol baris kode yang diketik sendiri, tetapi ratusan keputusan yang ia ambil.
Pengujian otomatis itu memastikan fitur-fitur penting seperti formulir, moderasi komentar, jadwal terbit artikel, dan newsletter berjalan sebagaimana mestinya.
AI cepat, tapi tetap butuh selera manusia
Prosesnya tidak sepenuhnya mulus. Versi pertama yang dihasilkan AI, menurut Tegar, masih jauh dari standar yang ia inginkan. Ia meminta revisi besar: seluruh emoji diganti dengan ikon yang konsisten, konten contoh yang terasa palsu dihapus, dan jejak framework disembunyikan.
Dari situ ia menarik satu pelajaran penting. Hasil kerja AI, tulisnya, pada dasarnya adalah draf yang sangat cepat, sedangkan selera dan standar tetap harus datang dari manusia. Pengguna yang tidak kritis terhadap hasil AI, menurutnya, akan berakhir dengan produk yang generik.
Pergeseran cara membangun software
Kisah ini mencerminkan perubahan besar dalam dunia pengembangan perangkat lunak. Keterampilan yang dulu identik dengan kemampuan menulis kode kini mulai bergeser ke kemampuan merumuskan kebutuhan, mengambil keputusan, dan memverifikasi hasil.
Bagi anak muda yang ingin membangun sesuatu di internet, hambatan teknis kini jauh lebih rendah dibanding beberapa tahun lalu. Namun seperti yang ditunjukkan Tegar, alat secanggih apa pun tetap membutuhkan arah yang jelas.
Cerita lengkap tentang prosesnya, termasuk bagian yang perlu direvisi, bisa dibaca dalam catatannya tentang membangun website dalam sehari dengan AI.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
