Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Kesaktian Malam Itu | Puisi-puisi Tiya Wahyu Wulandari

Malam
Penulis: Tiya Wahyu Wulandari.

Editor:

Pada Bulan yang Bersedih

Malam mencoba merayu dibalik kesunyiannya
Menerka kerlip lintang berhamburan
Pada bulan yang bersedih
Tak kunjung usai semua ini

Kamu bertanya padaku
Mengapa malam ini bulan bersembunyi?
Aku mencoba menerka dibalik tanyamu
Lantas aku menjawab
Sore tadi senja telah dibungkam
Berselimut mendung mendung kekerasan
Dan bumi sedang dihantam keras
Dipaksa tumbuh dalam kesakitan

Salatiga, 1 Desember 2020

Kau adalah Labirin

Gestun Jogja

Sajakku tak mampu menggambarkan keindahan mu
aksaraku semakin sulit menemukan artimu
Aku terperangkap dalam labirin tipografiku sendiri
Mencoba mencari celah namun semakin tak tau arah

Kamu

Manusia dengan ketidaksempurnaan
Namun menarik perhatian
Memaksa untuk mendo’akan di sepertiga malam
Menarikku dari rimbunan kebimbangan
Secercah cahaya merasuki tubuh
Membuat keputusan dan tekad kuat

Aku

Memilihmu

Salatiga, 30 Desember 2020

Hampa

Jasa Fake Order

Senyap resah dalam mimpi
Puing puing terhempas jauh di dasar bumi
Riuh menjelma hampa pilu hati
Hanyut sirna bersama laut pekat malam itu

Desir angin memeluk panas tubuhku
Begitu cepat semua hancur seketika
Impian lebur melepas suka cita
Tuan pujangga hilang termakan baskara
Temaram hampir padam tunam dalam dada

Salahku atau salahmu?
Aku yg bodoh atau kau yang memanipulasi semua?
Pupus sudah pasrah seketika
Coretanku tak bermakna lagi untukmu
Sajak – sajak ku berlari jauh ketika kau menjauh
Harapmu tak penting lagi
Hempas lepas mimpi untukmu
Cakrawala menggeram untukku
Tuan, kau memang tak pantas lagi menari dalam hati
Kau sudah mati terkubur dalam lubuk hati ini
Sudahi sandiwara recehmu
Tak pantas kau menjadi pemeran utama dalam kisahku
Memang patah lebih menyenangkan untukku

Sragen, 01 Juli 2020

 

Kesaktian Malam Itu

Jasa Penerbitan Buku dan ISBN

Luka menyibak perih didasar pilu hati
Menikam jantung hingga berkeping
Selaksa lara menuai puncak kejayaannya
Merintih pedih tak berucap
Aku jatuh tersungkur sekujur tubuh
Air mata menemani kelam hariku

Tuan, mengapa tega mematahkanku
Semenit kau buatku mencandu semenit kemudian kau buatku meriuh
Melebur makna kesakitan direlung hati

Katamu takkan tega mendua dengan dia
Nyatanya, kau asik memadu asmara dibelakang
Pilu membiru menggrogoti kepercayaanku

Sragen, 15 Juli 2020

 

Patah

Semesta ternyata masih senang bercanda
Patah bukan lagi ironi buatku
Patah menjadi teman setia dalam berjuang
Teman yang takkan pernah meninggalkan
Memang patah hati yang slalu kita dapat di semua kisah perjalanan
Tetap lah kiat diatas rintangan yg ada
Dunia menanti wujud nyata pengabdianmu
Sudahi menangisi wujudkan mimpi
Lantunan doa doa tak luput dipersembahkan
Agar kian jelas langkah dan arah tujuan
Jangan lupa tetap membumi

Sragen, 05 Januari 2021

 

*) Penulis adalah Tiya Wahyu Wulandari, Mahasiswi KPI IAIN Salatiga.

*) Tulisan Puisi ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kabarbaru.co

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store