Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Jadi “Indonesia” di Panggung Global: no na vs Carmen dalam Kacamata Psikologi Multikultural

IMG-20261016-WA0042
Ilustrasi- (Foto: Dok/Ist) .

Editor:

Kabar Baru, Kolom – no na bawa Indonesia dengan 4 anggota. Carmen bawa Indonesia sendirian di grup K-pop multinasional. Sama-sama viral, tapi jalurnya beda banget. Psikologi multikultural punya cara membacanya.

no na: Indonesia sebagai identitas utama

no na adalah grup perempuan Indonesia pertama yang diteken label global 88rising, dan “Shoot” masuk Top 3 Spotify Viral 50 Korea Selatan. Mereka juga dinobatkan sebagai Gen.T Leaders of Tomorrow Indonesia 2026 (Tatler Asia, n.d.). NME memasukkan mereka ke daftar NME 100 tahun 2026 dan mencatat bahwa dua anggotanya berasal dari Jakarta, satu dari Lombok, dan satu dari Bali (NME, 2026).

Indonesia hadir di hampir semua lapisan karya mereka: gamelan dan lirik berbahasa Indonesia di “Rollerblade”, sawah terasering Bali di video “Shoot” (NME, 2026), dan ritme bernuansa gamelan yang jadi prioritas sejak debut (Billboard Philippines, 2026). Tapi mereka menolak versi yang literal. Esther Geraldine mengatakan unsur Indonesia disisipkan secara halus, dan Baila Fauri menegaskan bahwa menjadi orang Indonesia bukan kostum, melainkan cara mereka tumbuh besar (Pitana & Adipriyanti, 2026). Di Gold Gala Los Angeles, mereka memadukan atasan Prada dengan kain tradisional Bali, dan banyak tamu asing menanyakan busana itu (Pitana & Adipriyanti, 2026).

Konsep Island Pop menunjukkan hal yang sama. Album debut island girl memadukan R&B, dangdut, dan synth-funk (Alarcón, 2026). Esther menjelaskan bahwa tumbuh di Indonesia berarti dikelilingi banyak bunyi sekaligus, dari dangdut dan musik tradisional sampai pop Barat dan K-pop, sedangkan Christy Gardena mendefinisikan Island Pop sebagai pop global lewat sudut pandang no na (Alarcón, 2026). Tatler menambahkan bingkai yang menarik: budaya selalu bergerak dan beradaptasi setiap melintasi batas, jadi Indonesia tidak harus hadir sebagai gamelan atau batik, tetapi bisa lewat ritme, sikap, atau cara menghidupi femininitas (Pitana & Adipriyanti, 2026).

Identitas itu dibawa juga ke format visual lewat film pendek speaker freaker the long song, hampir lima belas menit yang direkam di Jakarta dan Yogyakarta. Shazfa Adesya mengatakan mereka ingin penonton masuk ke dunia mereka sebentar, bukan dijelaskan soal negaranya. Lagu seperti “rollerblade” dan “work” sudah melewati 15 juta streaming di Spotify, dan Esther berharap pertumbuhan no na membuka lebih banyak ruang bagi kreator Indonesia secara global (Alarcón, 2026).

Carmen: satu suara Indonesia di sistem K-pop

Hearts2Hearts debut sebagai girl group baru pertama SM sejak aespa pada 2020, dan Carmen disebut sebagai idol Indonesia pertama SM (Kim, 2025). Korea Herald menyebut grup ini multinasional dengan delapan anggota (Kim, 2025), dan Wolipop mencatat Carmen sebagai satu-satunya anggota berkewarganegaraan asing. Media Korea menjulukinya “Girl from Indonesia” (Putong, 2025). Nama grupnya sendiri mencerminkan misi untuk terhubung tulus dengan penggemar global lewat musik (Lee, 2025).

Motivasinya personal banget. Carmen mengatakan ia suka bernyanyi sejak kecil dan ingin seperti Girls’ Generation setelah melihat mereka tampil di TV (Kim, 2025). Soal posisinya sebagai anggota Indonesia pertama SM, ia mengatakan kepada Billboard Korea bahwa latar belakang yang berbeda memberinya perspektif lebih luas yang membantu grup terhubung dengan penggemar dunia, dan ia senang bisa memperkenalkan Indonesia serta mewakili penggemar yang bermimpi tampil di panggung global (Billboard, 2026).

Identitas itu terus terlihat di ruang publik. Saat meraih Female Solo Popularity di K-World Dreams Awards 2026, Carmen disebut sebagai orang Indonesia pertama yang membawa pulang piala KWDA, dari 100 persen voting penggemar, dan ia membawa bahasa Indonesia ke pidato kemenangannya (Ayuni, 2026). ANTARA, mengutip Korea JoongAng Daily, melaporkan bahwa ia terpilih sebagai idol yang sedang di puncak karier di antara artis yang comeback pada Februari 2026, dengan 65.786 suara dalam jajak pendapat penggemar Maret 2026. Laporan yang sama mencatat temu penggemar Hearts2Hearts di Jakarta pada 28 Maret dan menyebut Indonesia sebagai konsumen konten Korea Selatan terbesar di YouTube (ANTARA, 2026).

Kehadiran Carmen juga dimanfaatkan pasar Indonesia. IDN Times mencatat bahwa sejak 2025 Hearts2Hearts menjadi brand ambassador berbagai produk untuk pasar Indonesia, dari kecantikan (Scarlett dan barenbliss), otomotif (KIA Indonesia), perbankan dan e-commerce (KB Bank dan Shopee Indonesia), sampai makanan (Joyday dan terbaru Jetz) (Aprilianto, 2026). Penunjukan itu atas nama grup, bukan Carmen secara individual, tetapi komunikasi merek menempatkannya sebagai penghubung. Pengumuman Joyday menyebut kehadiran Carmen sebagai anggota asal Indonesia memperkuat kedekatan grup dengan penggemar lokal, dan kampanyenya menyasar Gen Z pencinta K-pop (ANTARA, 2026b). Pada peluncuran barenbliss, Carmen sendiri mengaku bangga terlibat dan mengatakan dalam video bahwa kolaborasi itu dipersembahkan untuk para penggemar (Fimela, 2025).

Di program hiburan Korea, Carmen juga kerap diposisikan sebagai wakil Indonesia. Pada showcase debut, media meminta ia berbicara dalam bahasa Indonesia (Tempo, 2025). Di Idol’s Table milik Mnet, ia tampil sebagai perwakilan Indonesia bersama idol dari negara lain dan mengajarkan kata “enak” dan “segar” kepada para anggota (Priwiratu, 2026). IDN Times juga mencatat bahwa ia membawa permen Yupi, minyak telon, dan minyak kayu putih ke beberapa variety show, yang digambarkan sebagai inisiatif Carmen sendiri (Anggraini, 2026).

Head to head: dua cara membawa Indonesia

Akulturasi menyangkut apa yang terjadi pada individu yang berkembang dalam satu konteks budaya ketika mereka membangun kembali hidupnya di konteks budaya lain. Berry (1997) menegaskan bahwa konsekuensi psikologis jangka panjangnya sangat beragam, tergantung variabel sosial dan personal di masyarakat asal maupun masyarakat tujuan. Berry juga dikenal lewat tipologi empat strategi akulturasi, yaitu integrasi, asimilasi, separasi, dan marginalisasi, yang dibedakan menurut seberapa kuat individu mempertahankan budaya asalnya dan seberapa jauh ia terlibat dengan masyarakat yang lebih luas (Berry, 1997; Phinney dkk., 2001). Phinney dkk. (2001) merangkum bahwa kombinasi identitas etnis yang kuat dan identitas nasional yang kuat paling sering dikaitkan dengan adaptasi terbaik, dan kekuatan kedua identitas itu bergantung pada dukungan terhadap pemeliharaan budaya asal serta tekanan untuk berasimilasi di masyarakat tujuan.

Konsep-konsep ini lahir dari studi imigran dan kelompok etnis minoritas. Phinney (1990) mencatat bahwa identitas etnis berperan sentral dalam fungsi psikologis anggota kelompok minoritas, sekaligus mengingatkan bahwa kekhasan tiap kelompok menyulitkan generalisasi. Jadi penerapannya ke musisi Indonesia di industri global di sini adalah analogi, bukan klaim bahwa mereka imigran atau kelompok minoritas.

Untuk individu yang menghayati dua budaya, Benet-Martínez dan Haritatos (2005) mengusulkan konsep Bicultural Identity Integration (BII), yaitu sejauh mana seseorang merasakan orientasi budaya etnis dan budaya arus utamanya sebagai kompatibel atau saling berlawanan. Artinya, dua orang yang sama-sama berpindah konteks budaya tidak otomatis mengalaminya dengan cara yang sama.

Pembacaan ini sejalan dengan perbedaan no na dan Carmen:

  • no na: Indonesia dibawa beramai-ramai dan jadi ciri khas utama grup, lewat gamelan, bahasa, dan lanskap, tetapi disisipkan secara halus dan tidak literal (Pitana & Adipriyanti, 2026).
  • Carmen: Indonesia dibawa sebagai satu warna di grup multinasional yang punya konsep sendiri, dan ia memaknai latar yang berbeda sebagai nilai tambah bagi grupnya (Billboard, 2026).

Berry (1997) membedakan strategi akulturasi lewat dua pertanyaan: seberapa kuat budaya asal dipertahankan dan seberapa jauh individu terlibat dengan masyarakat yang lebih luas. Jika diterapkan secara longgar, no na dan Carmen sama-sama tampak berada di wilayah integrasi. Budaya Indonesia tampil jelas dalam karya dan identitas mereka (NME, 2026; Billboard, 2026), sementara keduanya aktif di industri global (Tatler Asia, n.d.; Kim, 2025).

Dengan kerangka Phinney dkk. (2001), perbedaannya terletak pada ruang untuk memelihara budaya asal. no na menampilkan gamelan, bahasa, dan kain Bali secara terang-terangan (NME, 2026; Pitana & Adipriyanti, 2026), sedangkan Carmen berbagi ruang dengan grup tetapi identitas Indonesianya justru jadi nilai jual di pasar Indonesia lewat kerja sama merek (ANTARA, 2026b; Aprilianto, 2026). Dalam logika Phinney dkk. (2001), pasar ikut menyediakan dukungan bagi pemeliharaan identitas asal, tidak hanya industri tempat ia bekerja. Dari sudut BII, cara Esther menggambarkan masa kecilnya yang penuh dangdut, musik tradisional, pop Barat, dan K-pop (Alarcón, 2026), serta cara Carmen memaknai latarnya sebagai nilai tambah (Billboard, 2026), tampak lebih dekat ke kompatibel daripada bertentangan.

Dua-duanya sama-sama jadi representasi Indonesia di industri global, tetapi cara tampilnya berbeda: yang satu jadi identitas grup, yang lain jadi kontribusi personal di dalam grup. Pengalaman psikologis masing-masing tidak bisa disimpulkan dari liputan media, jadi pembacaan ini bersifat tentatif.

 

*) Penulis adalah Laurencia Vicky Siswanto, Mahasiswa Fakultas Psikologi, program studi Magister Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata (SCU). 

Daftar Pustaka

Alarcón, D. (2026, 13 Oktober). no na: A new pop perspective. Metal Magazine. https://metalmagazine.eu/en/post/no-na-island-girl

Anggraini, P. (2026, 14 September). 3 produk Indonesia dibawa Carmen Hearts2Hearts ke variety show. IDN Times. https://www.idntimes.com/korea/kpop/produk-indonesia-dibawa-carmen-ke-variety-show-korea-c1c2-01-2vm9p-ql2x9s

ANTARA. (2026a, 10 April). Carmen H2H terpilih jadi idola di puncak karier. https://www.antaranews.com/berita/5520317/carmen-h2h-terpilih-jadi-idola-di-puncak-karier

ANTARA. (2026b). Joyday dari Yili gandeng grup K-pop Hearts2Hearts sebagai brand ambassador di Indonesia. https://m.antaranews.com/amp/berita/5576133/joyday-dari-yili-gandeng-grup-k-pop-hearts2hearts-sebagai-brand-ambassador-di-indonesia

Aprilianto, M. B. (2026, 30 Juli). Hearts2Hearts jadi brand ambassador Jetz Indonesia. IDN Times. https://www.idntimes.com/korea/knews/hearts2hearts-jadi-brand-ambassador-jetz-indonesia-00-sd4vv-6jbsxc

Ayuni, N. S. (2026, 28 Agustus). Carmen Hearts2Hearts jadi idol Indonesia pertama yang raih piala di KWDA 2026. Nyata Media. https://nyatamedia.com/28082026-carmen-hearts2hearts-jadi-idol-indonesia-pertama-yang-raih-piala-di-kwda-2026

Benet-Martínez, V., & Haritatos, J. (2005). Bicultural identity integration (BII): Components and psychosocial antecedents. Journal of Personality, 73(4), 1015–1050. https://doi.org/10.1111/j.1467-6494.2005.00337.x

Berry, J. W. (1997). Immigration, acculturation, and adaptation. Applied Psychology: An International Review, 46(1), 5–34. https://doi.org/10.1111/j.1464-0597.1997.tb01087.x

Billboard. (2026). Hearts2Hearts on turning up the brightness with ‘Lemon Tang’ & the art of shining together [Wawancara Billboard Korea]. https://www.billboard.com/music/music-news/hearts2hearts-interview-lemon-tang-1236287225/

Billboard Philippines. (2026). Indonesian girl group no na on “work”: “We wanted to explore a new side of no na that hasn’t been seen before.” https://billboardphilippines.com/music/features/no-na-on-work-interview-feature-88rising-2026/

Fimela. (2025, 28 Juli). Hearts2Hearts didapuk menjadi brand ambassador barenbliss. https://www.fimela.com/beauty/read/6117364/hearts2hearts-didapuk-menjadi-brand-ambassador-barenbliss

Kim, J.-H. (2025, 25 Februari). Hearts2Hearts debut with aim to continue SM Entertainment’s legacy. The Korea Herald. https://www.koreaherald.com/article/10428281

Lee, J.-Y. (2025). Hearts2Hearts unveils debut trailer. The Korea Herald. https://www.koreaherald.com/article/10410642

NME. (2026). No Na: The fiery R&B girl group bringing Indonesia to the world. https://www.nme.com/features/music-interviews/no-na-interview-rollerblade-breakout-radar-3942914

Phinney, J. S. (1990). Ethnic identity in adolescents and adults: Review of research. Psychological Bulletin, 108(3), 499–514. https://doi.org/10.1037/0033-2909.108.3.499

Phinney, J. S., Horenczyk, G., Liebkind, K., & Vedder, P. (2001). Ethnic identity, immigration, and well-being: An interactional perspective. Journal of Social Issues, 57(3), 493–510. https://hdl.handle.net/1887/16666

Pitana, J., & Adipriyanti, A. (2026, 7 Juli). Meet no na: The Indonesian girl group challenging the rules of global pop. Tatler Asia. https://www.tatlerasia.com/power-purpose/impact/meet-no-na-the-indonesian-girl-group-challenging-the-rules-of-global-pop

Priwiratu, E. C. T. (2026, 7 Oktober). Cara nonton Idol’s Table, ada Carmen H2H bahas makanan Indonesia. IDN Times. https://www.idntimes.com/korea/kpop/cara-nonton-idol-s-table-ada-carmen-h2h-00-hwff8-gbjc3b

Putong, R. C. (2025, 24 Februari). Cerita debut Carmen Hearts2Hearts, dijuluki ‘Girl from Indonesia’ di Korea. Wolipop. https://wolipop.detik.com/entertainment-news/d-7793502/cerita-debut-carmen-hearts2hearts-dijuluki-girl-from-indonesia-di-korea

Tatler Asia. (n.d.). no na. https://www.tatlerasia.com/people/no-na

Tempo. (2025). Momen gemas Carmen Hearts2Hearts bicara bahasa Indonesia dengan logat Korea. https://www.tempo.co/hiburan/momen-gemas-carmen-hearts2hearts-bicara-bahasa-indonesia-dengan-logat-korea-1213426

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store