Gotong Royong dan Inovasi Penerangan Warnai Pengabdian Mahasiswa di Bireuen

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Aceh — Banjir bukan tamu baru di Gampong Juli Meunasah Teungoh, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Setiap musim hujan, sebagian permukiman yang berada di dataran rendah dekat aliran Krueng Peusangan selalu berhadapan dengan ancaman yang sama. Namun banjir November 2025 meninggalkan dampak yang lebih berat dari biasanya — ratusan warga terdampak, kerugian material yang tidak sedikit, dan kesadaran bahwa gampong ini butuh lebih dari sekadar semangat untuk menghadapi banjir berikutnya.
Pada akhir Januari 2026, mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh mulai berdatangan ke gampong ini secara bertahap. Kegiatan berlangsung hingga awal April 2026, melibatkan 57 mahasiswa dari tiga program studi di bawah koordinasi Fauzan Irsal Qurbani sebagai ketua mahasiswa pelaksana.

Kedatangan tidak dimulai dengan kegiatan besar. Tim awal hadir lebih dulu untuk berkenalan dengan warga, duduk bersama perangkat gampong, dan memahami kondisi lapangan. Baru setelah itu kegiatan berjalan — pemasangan sistem peringatan dini banjir, pemasangan lampu jalan di titik-titik yang belum terjangkau penerangan, sosialisasi, pelatihan, hingga gotong royong sosial bersama warga.
Soal penerangan, gampong ini sebenarnya sudah memiliki sebagian lampu jalan. Namun pemerataan masih menjadi persoalan — banyak titik, terutama di gang-gang permukiman dan jalur menuju area berkumpul warga, masih belum terjangkau cahaya. Kehadiran lampu bertenaga surya yang dipasang bersama warga diharapkan bukan hanya menambah titik terang, tetapi membuka akses nyata ke area-area yang selama ini terisolasi saat malam tiba.
Yusuf, Ketua Pageu Gampong Dusun Kayee Adang, merasakan langsung perubahan itu di wilayahnya.
“Di Kayee Adang, jalan menuju meunasah dan tempat berkumpul warga masih gelap. Kalau ada kegiatan malam atau keadaan darurat, warga kesulitan. Sekarang sudah ada lampu di titik-titik itu. Akses warga jadi lebih terbuka,” ujarnya.
Pageu Gampong yang beranggotakan 20 orang ini turut dilibatkan dalam setiap tahapan kegiatan — dari pemasangan, sosialisasi, hingga latihan kesiapsiagaan bersama Satgas Bencana. Koordinasi antara dua kelompok yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri kini memiliki alur yang lebih jelas.
Di sela semua kegiatan itu, ada momen-momen yang tidak masuk dalam jadwal tetapi justru paling diingat. Mahasiswa ikut turun dalam gotong royong membersihkan lingkungan, membenahi area sekitar jalur evakuasi, dan hadir dalam pertemuan ibu-ibu PKK. Mereka tidak hanya datang sebagai pelaksana program — mereka hadir sebagai bagian dari gampong itu selama lebih dari dua bulan.
Fauzan Irsal Qurbani, ketua mahasiswa pelaksana, mengungkapkan bahwa pengalaman tinggal bersama warga menjadi pelajaran yang tidak bisa didapat di ruang kelas.
“Kami belajar banyak dari warga di sini. Mereka yang paling tahu kondisi gampong mereka sendiri. Tugas kami adalah mendengarkan dan membantu mewujudkan apa yang mereka butuhkan,” ujarnya.
Seluruh hasil kegiatan — lampu jalan, sistem peringatan, perlengkapan evakuasi, hingga prosedur kerja Satgas dan Pageu — diserahkan kepada Pemerintah Gampong untuk dikelola secara mandiri dan berkelanjutan.
Gampong Juli Meunasah Teungoh belum bebas dari ancaman banjir. Krueng Peusangan tetap mengalir, musim hujan tetap datang. Tapi gampong ini kini tidak lagi menghadapinya dalam gelap — baik secara harfiah maupun dalam arti yang sesungguhnya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Seedbacklink

