Empat OKP Lintas Agama di Mataram Gelar Simposium Kebangkitan Nasional Pemuda

Jurnalis: Zulfikar Rasyid
Kabar Baru, Mataram — Empat organisasi kepemudaan lintas agama di Kota Mataram menggelar Simposium Kebangkitan Nasional Pemuda Lintas Agama, Rabu (20/5/2026), di Aula Gereja Katolik Paroki St. Maria Immaculata Kota Mataram.
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antar pemuda lintas iman dalam membicarakan toleransi, kebangsaan, dan masa depan Indonesia di tengah situasi sosial yang semakin rentan terhadap polarisasi.
Mengusung tema “Merajut Tenun Kebangsaan: Manifesto Pemuda terhadap Toleransi dan Kemajuan Bangsa”, kegiatan ini diprakarsai oleh empat organisasi kepemudaan, yakni PMII Kota Mataram, PMKRI Cabang Mataram, GMKI Cabang Kota Mataram, dan KMHDI Kota Mataram.
Forum tersebut dihadiri mahasiswa, tokoh agama, serta sejumlah elemen masyarakat di Nusa Tenggara Barat. Diskusi lintas agama yang berlangsung selama kegiatan menyoroti pentingnya menjaga ruang dialog di tengah perbedaan identitas dan pandangan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Zamroni Aziz, M.H., turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi empat organisasi kepemudaan lintas agama di Kota Mataram yang dinilainya mampu menghadirkan wajah persatuan di tengah keberagaman.
“Saya sangat bangga punya generasi penerus seperti ini, dan dengan ini saya yakin bahwa 4 ketua OKP (PMII, PMKRI, GMKI, dan KMHDI Mataram) akan jadi pemimpin dan orang besar di NTB dan bermanfaat untuk bangsa ini dalam 10 tahun ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PC PMII Kota Mataram, Lalu Rizki Hidayat mengatakan bahwa semangat kebangkitan nasional hari ini tidak lagi cukup dimaknai sebagai romantisme sejarah semata. Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini justru terletak pada kemampuan menjaga persatuan di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan intoleransi di ruang publik.
“Pemuda harus hadir sebagai jembatan, bukan sekat. Perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh, sebab masa depan bangsa ini justru ditentukan oleh kemampuan kita merawat keberagaman,” ujarnya.
Menurut Rizki, ruang-ruang dialog lintas agama seperti itu perlu terus dirawat agar tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mampu melahirkan gerakan sosial yang nyata di tengah masyarakat.
Simposium tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa perbedaan bukan penghalang bagi generasi muda untuk bekerja bersama.
Di tengah situasi yang sering dipenuhi pertentangan identitas, forum lintas agama itu menghadirkan pesan bahwa masa depan bangsa hanya dapat dirawat melalui persaudaraan, dialog, dan kesediaan untuk saling memahami.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Seedbacklink

