Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Relawan yang Belajar Arti Kepedulian dari Penyintas Desa Garoga, Sumatra Utara

WhatsApp Image 2026-04-28 at 09.29.50

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Garoga, Sumatra Utara, meninggalkan luka yang begitu dalam. Satu desa hilang tersapu banjir dan gelondongan kayu yang bahkan lebih besar dari rumah warga, menyisakan puing-puing, kenangan, serta duka yang tak mudah diungkapkan dengan kata-kata. Tidak hanya bangunan yang hilang, tetapi juga sebagian harapan yang sempat runtuh bersama derasnya arus.

Di tengah situasi tersebut, Fernando Torres memutuskan untuk terlibat langsung dalam upaya kemanusiaan yang dinaungi oleh KAWANMU (Korps Relawan Sosial Muhammadiyah) MPKS PP Muhammadiyah selama 30 hari disana. Ia hadir bukan karena merasa paling kuat, melainkan karena dorongan untuk belajar dan membersamai mereka yang sedang berjuang. Keputusan itu menjadi awal dari perjalanan yang tidak hanya tentang memberi bantuan, tetapi juga tentang menemukan makna kemanusiaan yang lebih dalam.

WhatsApp Image 2026-04-28 at 09.35.53

Setibanya di lokasi, Torres disambut pemandangan yang memilukan. Rumah-rumah rata dengan tanah, jalanan tertutup lumpur tebal, dan sisa-sisa kehidupan tampak berserakan di berbagai sudut desa. Suasana duka terasa begitu kuat, seolah menyelimuti seluruh wilayah. Namun, di balik kehancuran itu, tetapi ia justru menyaksikan sesuatu yang tidak ikut hanyut: semangat dan kepedulian warga yang tetap hidup.

Sebagai relawan psikososial, perannya tidak berfokus pada distribusi bantuan fisik, melainkan pada pemulihan kondisi emosional dan mental para penyintas. Ia mendampingi anak-anak yang terkadang masih diliputi ketakutan, mengajak mereka bermain, menggambar, dan kembali tersenyum. Ia juga mendengarkan cerita kehilangan dari para orang tua, memberikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan kesedihan, serta membantu menciptakan rasa aman agar warga dapat perlahan bangkit dari trauma. Dalam setiap interaksi, relawan belajar bahwa kehadiran yang tulus sering kali lebih berarti daripada sekadar bantuan materi.

Di tengah keterbatasan, para penyintas tetap saling menguatkan. Mereka berbagi makanan seadanya, bergotong royong membersihkan puing-puing, saling bercerita, dan terus menyemangati satu sama lain meski kehilangan begitu besar. Kebersamaan dan kehangatan menjadi kekuatan utama yang menjaga mereka tetap bertahan. Tidak ada yang benar-benar sendiri, karena setiap orang berusaha menjadi penopang bagi yang lain.

“Niat besar saya datang untuk membantu mereka pulih, ternyata justru mereka yang mengajarkan saya arti kekuatan dan kepedulian. Bahkan dari anak-anak sekalipun saya belajar arti kebahagiaan yang berasal dari hal sederhana,” ujar Torres.

Dalam menjalankan misi kemanusiaan ini, relawan tersebut tidak sendiri. Ia bekerja bersama tim relawan lain yang turut berkontribusi di lapangan, di antaranya Dio Saputra, Hanania Rahima Putrina, K. Firdaus Ali Husein, Marlinda, Afandra Rijalul Fikro, serta M. Haidar Umar dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Robiahtul Adwiyah Hasibuan. 

Masing-masing memiliki latar yang berbeda, namun semua bergerak dalam satu tujuan yang sama, yaitu menghadirkan dukungan, ketenangan, dan harapan bagi para penyintas.

Kehadiran para relawan menjadi semakin terarah berkat koordinasi dari kepala posko, Bapak Yelpi Pulungan. Dengan kepemimpinan yang penuh tanggung jawab, ia memastikan setiap kegiatan berjalan dengan baik, mulai dari pendistribusian bantuan hingga pengaturan program pendampingan. Ia juga menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat, relawan, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam penanganan bencana.

Di sisi lain, kolaborasi antara pengurus Muhammadiyah dan Aisyiyah di Batu Hula menjadi salah satu kekuatan penting dalam proses pemulihan. Keduanya bekerja secara sinergis dalam membantu warga terdampak. Muhammadiyah berperan dalam koordinasi relawan dan pengelolaan bantuan, sementara Aisyiyah memberikan perhatian khusus kepada perempuan dan anak-anak melalui pendekatan yang lebih empatik dan personal. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa kerja sama yang solid mampu mempercepat proses pemulihan dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.

Hari demi hari yang dilalui di Garoga memberikan pengalaman yang tidak terlupakan bagi para relawan. Mereka tidak hanya melihat kesedihan, tetapi juga menyaksikan keteguhan hati manusia dalam menghadapi cobaan. Dari para penyintas, mereka belajar bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dalam kondisi paling sulit, manusia mampu menemukan kekuatan baru yang sebelumnya tidak mereka sadari.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Relawan menyadari bahwa pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang hilang, tetapi juga tentang menjaga harapan agar tetap hidup. Kepedulian, kebersamaan, dan kehangatan menjadi fondasi utama dalam proses bangkit dari keterpurukan.

Pada akhirnya, perjalanan ini mengubah cara pandang para relawan. Mereka datang dengan niat membantu, tetapi pulang dengan membawa pelajaran berharga tentang arti kepedulian dan kemanusiaan. Bahwa dalam kondisi paling sulit sekalipun, manusia tetap mampu saling menguatkan, berbagi harapan, dan menemukan cahaya di tengah gelapnya keadaan. Dari Desa Garoga, mereka belajar bahwa kepedulian bukan sekadar tindakan, melainkan nilai yang hidup dan tumbuh dalam setiap hubungan antarmanusia.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store