Letjen Yudi Abrimantyo Harus Mundur dari Kepala BAIS Setelah Anak Buahnya Jadi Teroris Bagi Aktivis

Jurnalis: Firman Maulana
Kabar Baru, Jakarta – Nama Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Letjen TNI Yudi Abrimantyo, mendadak menjadi pusat perhatian publik.
Jenderal bintang tiga yang selama ini bergerak senyap di dunia intelijen kini harus menghadapi ujian integritas setelah empat anak buahnya diduga terlibat dalam aksi penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus.
Kasus ini mengguncang institusi BAIS TNI karena melibatkan prajurit dari Detasemen Markas (Denma).
Empat personel militer, mulai dari pangkat Kapten hingga Bintara, saat ini telah mendekam di fasilitas tahanan militer Jakarta untuk menjalani pemeriksaan intensif.
Perjalanan Karier Sang Jenderal
Yudi Abrimantyo merupakan lulusan Akademi Militer 1989 yang memiliki rekam jejak panjang di satuan elite Kopassus sebelum akhirnya mendalami dunia intelijen.
Sebelum menjabat sebagai Kepala BAIS TNI pada Maret 2024, ia menempati berbagai posisi strategis, termasuk peran penting di Kementerian Pertahanan.
Karier cemerlangnya kini bersinggungan dengan sorotan tajam publik. Sebagai pimpinan tertinggi di BAIS, tanggung jawab moral dan komando Yudi kini dipertaruhkan.
Publik menanti apakah aksi kekerasan terhadap aktivis ini murni inisiatif individu pelaku lapangan atau terdapat instruksi terstruktur dari rantai komando di atasnya.
Usut Hingga Pemberi Perintah
Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI, Mayjen TNI Yusri Nuryanto, memastikan bahwa proses hukum terhadap keempat prajurit tersebut akan berjalan transparan.
Yusri menegaskan bahwa penyidik tidak akan berhenti pada pelaku di lapangan, melainkan menelusuri kemungkinan adanya perintah dari atasan terkait aksi penyiraman air keras tersebut.
Selaras dengan hal itu, Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah juga menjamin penyelidikan berlangsung profesional.
“Kami akan melakukan investigasi secara terbuka untuk memastikan akuntabilitas di tubuh institusi,” tegasnya di hadapan media.
Ujian Kepercayaan Publik
Dalam dunia intelijen yang biasanya tertutup rapat, kesalahan operasi sekecil apa pun dapat meruntuhkan persepsi publik terhadap institusi.
Bagi Letjen TNI Yudi Abrimantyo, kasus ini bukan sekadar urusan hukum pidana, melainkan ujian kepercayaan masyarakat terhadap kedaulatan hukum di lingkungan militer.
Kasus penyiraman air keras ini belum mencapai babak akhir. Namun, bayang-bayang dugaan keterlibatan oknum intelijen ini telah memaksa sang jenderal yang biasanya bekerja dalam gelap untuk berdiri di bawah cahaya transparansi yang menuntut keadilan bagi Andrie Yunus.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

