Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Desa Ini Dulu Gelap Gulita, Sekarang Warganya Bisa Buka Usaha: Apa yang Pertamina Lakukan?

IMG-20261102-WA0035
Vice President CSR and SME Management PT Pertamina (Persero) Rudi Arifianto dalam webinar "Detalk Desa Berdaya Energi Terjaga". (Foto: Dok/Ist).

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta — PT Pertamina (Persero) mencatat 310 desa telah bergabung dalam program Desa Energi Berdikari (DEB) sejak 2018. Program ini menyasar ketahanan energi dan pangan warga, dengan target jangka panjang 732 desa hingga 2030. Dari jumlah itu, 60 persen diarahkan berada di luar Jawa.

Vice President CSR and SME Management Pertamina, Rudi Arifianto, menyebut DEB bukan sekadar pemasangan alat. “Desa Energi Berdikari ini sebenarnya kita upayakan untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Rudi dalam webinar “Detak Desa Berdaya Energi Terjaga” yang dipantau dari Jakarta, Senin (2/11/2026).

Infrastruktur yang dibangun cukup beragam. Ada 274 panel surya, 25 instalasi metana dan biogas, biodiesel, serta delapan pembangkit mikrohidro yang menopang kebutuhan energi desa. Selain energi, Pertamina juga mendorong desa lewat jalur pariwisata dan pemberdayaan pesisir.

Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, mengakui konsistensi itu bukan hal biasa. “Delapan tahun itu bukan waktu singkat untuk program seperti ini. Banyak program CSR yang berhenti setelah seremonial. DEB tidak. Ia jalan terus, dan jumlah desanya bertambah,” kata Romadhon di Jakarta.

Testimoni datang dari lapangan. Mohammad Jamaludin, Local Hero DEB dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, bilang kehidupan warga kini jauh lebih baik. “Kami berada di pelosok desa yang sebelumnya tidak dialiri listrik. Tapi sekarang listrik sudah mengalir di setiap rumah warga, sehingga berdampak pada perekonomian,” ujarnya.

Romadhon menilai cerita seperti itu yang membuat program ini punya makna. “Listrik masuk ke rumah bukan akhir cerita. Itu awal. Anak bisa belajar malam, ibu bisa buka usaha kecil, bengkel bisa jalan. Efeknya ke mana-mana,” ujar dia.

Namun, ia juga memberi catatan ringan. “Yang perlu dipastikan ke depan, dampak ekonominya terukur. Bukan hanya jumlah desa yang bertambah, tapi bagaimana pendapatan warga benar-benar naik. Ini yang perlu didata dan dibuka ke publik,” pesan Romadhon.

Soal target 732 desa pada 2030, Romadhon sepakat dengan arah itu, terutama karena mayoritas diarahkan ke luar Jawa. “Pemerataan energi itu bukan slogan. Kalau 60 persen targetnya di luar Jawa, artinya Pertamina serius menyentuh wilayah yang selama ini terlewat,” ujarnya.

Ia berharap model DEB bisa direplikasi lebih luas. “Yang menarik dari DEB itu keterlibatan local hero. Warga setempat dilatih, lalu mereka yang mengelola. Jadi bukan proyek yang ditinggal setelah selesai. Ada keberlanjutan,” kata Romadhon.

“Kalau begini caranya, publik bukan cuma percaya. Tapi hormat. Program seperti ini memang tidak selalu jadi berita besar. Tapi dampaknya terasa di rumah-rumah warga. Dan itu yang paling penting,” ujarnya.

“Ke depan, semoga makin banyak desa yang merasakan. Bukan hanya listrik yang mengalir, tapi harapan yang tumbuh. Karena energi yang baik itu bukan yang paling canggih, tapi yang paling dekat dengan kebutuhan warga,” pungkas Romadhon.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store