Sumatra Berduka 303 Jiwa Melayang Ratusan Hilang

Jurnalis: Pengki Djoha
Penulis: Syaidah, Ketua Bidang HAM dan Lingkungan Hidup HMI Cabang Persiapan Bone Bolango
Kabar Baru,Opini–Air, yang seharusnya menjadi berkah bagi negeri ini, kini menjadi saksi duka yang mengoyak nurani kita. Data resmi BNPB per Sabtu, 29 November 2025, mencatat bahwa korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor di tiga provinsi di Pulau Sumatra – Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) – telah menembus angka 303 jiwa. Lebih memilukan, sekitar 279 orang dilaporkan hilang, menunggu uluran tangan kemanusiaan dan doa kita.
Sumatera Utara mencatat korban terbanyak, dengan 166 jiwa. Aceh melaporkan 47 jiwa meninggal, sementara Sumbar terus menyumbang korban tewas, menunjukkan bahwa bencana ini bukan sekadar “musibah lokal” tetapi tragedi nasional.
Ribuan rumah hanyut, jembatan roboh, jalan dan akses vital terputus. Melihat peta dan gambar korban, kita seakan menyaksikan tangis tanah dan air. Di beberapa kabupaten, arus deras sungai tidak hanya membawa air, tetapi juga lumpur, pohon tumbang, puing-puing kayu dan rumah, berbaur menjadi bara penderitaan. Pulau Sumatra, yang subur dan kaya alam, kini menunjukkan wajah luka. Korban tak hanya kehilangan jiwa, tetapi juga tempat tinggal, rasa aman, dan harapan.
Puluhan ribu jiwa mengungsi, kehilangan harta, rumah, dan keamanan. Di tengah tangis itu, masyarakat terdampak merasakan betapa rapuhnya pondasi ruang hidup kita ketika alam diperlakukan semena-mena, ketika lingkungan diabaikan, dan ketika tata ruang serta mitigasi bencana diabaikan.
Saudara-saudaraku, fakta 303 jiwa melayang bukanlah angka statistik semata. Itu adalah wajah manusia: ibu, ayah, anak, kakek, nenek. Itu adalah rumah yang sirna, impian yang tertunda, dan harapan yang terkubur dalam lumpur. Tragedi ini bukan sekadar “bencana alam”. Ia adalah refleksi nyata betapa kita lalai menjaga amanah lingkungan: hutan ditebangi tanpa kendali, sungai tak dilindungi bantaran dan zona resapan, perencanaan ruang terabaikan, dan mitigasi bencana diabaikan. Ketika alam berontak, manusia-lah yang membayar mahal. Kita – generasi muda, aktivis, pemimpin masa depan – punya tanggung jawab moral: bukan hanya meratapi duka, tetapi membela hak hidup, hak lingkungan, dan hak atas keadilan ekologis serta kemanusiaan.
Sebagai Ketua Bidang HAM dan Lingkungan Hidup di HMI Cabang Persiapan Bone Bolango, saya menyerukan:
1. Bangkitkan solidaritas nyata. Bukan sekadar empati lewat kata, tetapi aksi: donasi kemanusiaan, penggalangan bantuan berupa logistik, pangan, air bersih, tempat pengungsian, layanan medis, dan psikososial.
2. Desak negeri ini untuk bertanggung jawab secara ekologis. Hentikan perambahan hutan tanpa kontrol, hentikan alih fungsi lahan seenaknya, tegakkan zonasi DAS, dan lindungi hutan lindung serta ruang resapan.
3. Dorong mitigasi dan adaptasi bencana. Pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil bergandeng tangan memperkuat sistem early warning, edukasi kebencanaan, rehabilitasi lahan kritis, dan restorasi lingkungan.
4. Bangun kesadaran lingkungan dan kemanusiaan. Karena alam bukan objek, ia adalah rumah kita bersama. Ketika kita mengesampingkan keadilan ekologis, nasib manusia pun dikecam lumpur dan air.
Kita tak boleh diam. Kita tak boleh bersikap netral ketika darah dan air bercampur, ketika rumah hilang, dan ketika tanah menangis.
Banjir dan longsor di Sumatra bukan sekadar musibah singkat, melainkan sebuah panggilan. Panggilan bagi kita semua untuk membuka mata terhadap krisis iklim, ketidakadilan lingkungan, dan tanggung jawab sosial. Semoga duka ini menjadi titik balik bagi kita untuk bangkit dengan solidaritas, keadilan, dan cinta kepada sesama serta alam.
Saudara-saudaraku di Aceh, Sumut, dan Sumbar, kami di Bone Bolango mendengar jeritanmu. Kami belum bisa hadir di sana dalam rupa fisik, tetapi dengan doa, solidaritas, dan tekad untuk menjaga bumi serta kemanusiaan, kami hadir.
Insight NTB
Berita Baru
Berita Utama
Serikat News
Suara Time
Daily Nusantara
Kabar Tren
IDN Vox
Portal Demokrasi
Lens IDN
Seedbacklink







